TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 130


Dan tak terasa, genap satu bulan sudah ketiga pemuda itu bekerja di majikan mereka masing masing. hubungan ketiga pemuda dengan wanita mereka pun makin dekat dengan permainan ranjang yang tiap hari hampir mereka lakukan. Dan nasib baik juga masih berada di pihak mereka. Para wanita mereka mengalami datang bulan jadi benih yang mereka semburkan belum bisa menjadi sosok yang memiliki nyawa.


Sesuai rencana sebelumnya, Jamal, Iqbal dan Rizal ingin mengadakan liburan bersama setelah kerja satu bulan. Dan beruntungnya mereka di ijinkan oleh masing masing wanitanya. Biarlah mereka bertemu dan bermain satu hari bersama teman satu kampungnya.


Karena Rizal yang membawa mobil milik Miranda, mereka sepakat bertemu di suatu tempat tak jauh di komplek perumahan bos mereka. Jamal meninggalkan Selin yang masih tinggal di apartemennya. Sedangkan Iqbal meninggalkan Karin dengan di kosan. Para wanita juga rencananya akan main sama teman teman mereka masing masing, sedangkan Miranda memilih menyibukkan diri dengan butiqnya.


"Kemana kita hari ini?" tanya Rizal selaku supir. Dan kini kedua temannya sudah berada di dalam mobilnya.


"Ya sesuai rencana lah," jawab Iqbal yang duduk di samping Rizal sedangkan Jamal di kursi belakang.


"Mobil bos kamu bagus banget, Zal? Sepertinya ini merk keluaran terbaru apa ya?" tanya Jamal sembari memperhatikan setiap bagian dalam mobil.


"Namanya orang kaya, ya pasti nyari mobilnya yang baguslah," jawab Rizal enteng.


Sepanjang perjalanan mereka terus melakukan percakapan seru. Hingga tak terasa mereka telah sampai di tempat wisata yang mereka impikan jika berada di ibukota.


Setelah mobil terparkir sempurna, mereka bergegas masuk ke wanaha wisata. Tentu saja mereka banyak bertanya kepada petugas yang ada.


Walaupun sekarang penampilan mereka sudah seperti anak orang kaya, tapi mereka tetap anak kampung yang tidak bisa berpura pura kaya hanya karena penampilan. Makanya mereka tetap menunjukan sifat kampungnya seperti dengan cueknya mereka mengagumi setiap wahana yang mereka lihat.


Berbagai wahana ekstrim pun mereka coba, meski tidak semua tapi mereka cukup puas bisa menikmati tempat wisata dengan hasil keringat sendiri. Setelah merasa capek, mereka bertiga memutuskan istirahat dan duduk di tempat yang memang disediakan untuk pengunjung.


"Akhirnya kita bisa menikmati apa yang kita inginkan," ungkap Jamal setelah merasa puas dengan wahana yang mereka coba.


"Kamu sudah punya rekening kan, Zal? Biar aku bisa transfer uang tiket?" tanya Iqbal.


"Sudah dong, dibikinin majikanku," jawab Rizal sambil mengambil ponselnya di dalam tas slempangnya.


"Wuih! Hp mahal nih? Gajinya gede apa, Zal? Kok kamu bisa beli hp itu?" tanya Iqbal lagi.


"Nggak lah, paling gaji aku sama kayak kalian. Mana mampu aku beli ponsel ginian," jawab Rizal sambil mengutak atik ponselnya.


"Lah terus? Kamu dapat dari mana itu ponsel? Mahal loh itu?" tanya Jamal.


"Dikasih majikan, bekasnya dia ini," terang Rizal. "Tuh aku sudah ngirim nomer rekeningku."


"Aku malah dibeliin, tapi aku milih yang murah. Padahal aku disuruh milih sendiri. Karena nggak enak ya aku pilih yang paling murah," ucap Iqbal sembari mengeluarkan ponselnya.


"Aku juga bekas sih, bekas anak majikanku, ada banyak loh, sekitar dua puluhan hp bekas," timpal Jamal sambil menunjukan ponselnya.


"Itu juga ponsel bagus, Mal?" ucap Rizal.


"Tapi kan lebih bagus punya kamu," ujar Jamal.


"Aku juga nggak nyangka, ketemu bos baik banget sama aku, malah kita kemarin liburan ke Bali tiga hari," ucap Rizal tanpa berniat pamer.


"Wuih, keren. Baru kerja beberapa hari udah ke Bali aja," balas Jamal.


"Rencananya sih malah katanya, aku akan sering keluar kota nemenin bos aku nyari keperluan butik. Itu aja ke Bali juga nyari kain," terang Rizal.


"Keperluan butik? Berarti majikan kamu wanita, Zal?" tanya Iqbal.


"Iya, suami istri, belum punya anak. Aku bekerja pada istrinya," Rizal masih setia menceritakan kisahnya.


"Wah! Beruntungnya kamu, Zal," puji Jamal.


"Terus kamu ketemu sama pacar kamu dimana, Zal? Apa dia juga kerja di tempat kamu?" pertanyaan Iqbal membuat Rizal terkejut. Tentu saja Rizal bingung mau jawab apa. Sejenak Rizal terdiam memikirkan jawaban yang tepat.


"Zal? Malah bengong," ucap Jamal yang cukup mengagetkan. "Kamu ketemu sama pacar kamu dimana? Apa dia kerja di tempat bos mu juga?"


"Bukan," jawab Rizal agak gugup.


"Lah terus?"


Meski merasa berat, Iqbal pun akhirnya berkata, "Wanita yang ngaku sebagai pacarku, dia sebenarnya majikanku."


"Apa!"


...@@@@@...