
🎶 Duhai senangnya pengantin baru
🎶 Duduk bersanding bersenda gurau.
Bait demi bait sebuah lagu, menggema di udara dari sebuah gedung serba guna yang ada disebuah kampung. Gedung milik pemerintah desa itu memang lumayan cukup luas, jadi bisa digunakan dalam berbagai acara besar. Baik berupa acara pemerintah ataupun acara pribadi.
Dengan membayar uang sewa yang terbilang murah, para warga bisa menggunakan gedung itu untuk berbagai acara. Seperti yang dilakukan oleh keluarga Jamal.
Kelurga Jamal memang sengaja menyewa gedung itu untuk pernikahan Jamal. Bukan karena ingin terlihat kaya, tapi jika acara dilakukan di rumah, halaman rumah Jamal tidak terlalu luas. Menutup akses jalan untuk mendirikan tenda pernikahan juga tidak memungkinkan.
Jamal sendiri, sebenarnya lelaki yang beruntung. Sejak bertemu dengan keluarga Gustavo, hidup Jamal memang banyak perubahan. Nasib naik seakan selalu menghampiri pemuda itu.
Bahkan setelah acara lamaran, pemuda itu juga mulai belajar ilmu perkantoran atas perintah Ayah mertua. Tak butuh waktu lama, Jamal bisa menyerap ilmu yang dia dapat dan bisa mulai belajar menjalankannya.
Acara Ijab akan berlangsung beberapa saat lagi. Hal ini membuat Jamal gugup bukan main. Meski saat ini Jamal sedang ngobrol bersama sahabatnya, tapi rasa gugup seakan enggan beranjak dari tubuh Jamal.
"Padahal kamu menikah baru satu bulan, Bal? Tapi kok istri kamu cepet banget hamilnya? Apa dia nggak hamil duluan?" terka Rizal. Sontak saja Iqbal langsung melotot tak terima.
"Enak aja! Asal kamu tahu, saat acara akad itu, Karin baru sembuh dari datang bulannya. Baru satu hari selesai. Kalian tahu kan katanya kalau masa itu masa yang paling subur," terang Iqbal berapi api.
Oh gitu. Kirain hamil duluan."
"Enak aja."
Jamal dan Rizal sontak terkekeh. Tapi suara tawa Jamal agak berbeda. Perasaannya benar benar tak karuan saat ini.
"Kamu panik, Mal?" tanya Iqbal yang menyadari sikap gugup sahabatnya.
"Nggak, biasa aja," kilah Jamal.
"Hahaha ... Jangan bohong kamu. Emangnya aku nggak pernah ada diposisi kamu."
Jamal hanya mendengus. "Udah tahu, ngapain tanya."
"Hahaha ..."
Suasana hangat yang ada diruangan Jamal, berbeda dengan suasana yang ada di ruangan Selin. Hanya di temani seorang Ayah, selin kini sedang tergugu dalam pelukan seorang ayah.
Bagaimana Selin tidak sedih. Dihari bahagianya, Selin hanya ditemani seorang ayah. Tidak seperti teman teman yang lainnya. Keluarga besar pada kumpul dan terlihat ramai.
Meski keluarga dari almarhumah ibu Selin juga turut hadir, tapi tetap rasanya ada yang kurang. Keluarga Ibu kandung Selin memang diundang setelah beberapa waktu lalu Karin mengunjungi makam sang ibu. Mereka juga menyambut Karin dengan hangat. Bahkan mereka memaafkan kesalahan Gustavo dimasa lalu.
"Udah dong, Sayang. Acara akad sebentar lagi akan dimulai, masa masih nangis? Nanti make up kamu luntur loh," ucap Gustavo mencoba menghibur anaknya. Padahal hati Gustavo juga sedang tidak baik baik saja.
Selin melepas pelukannya dan menghapus airmata dengan tisu yang dia ambil di atas meja di depannya. "Papa sendiri gimana? Apa Papa nggak sedih juga?"
Selin sontak tersenyum tipis. "Nanti di pelaminan, Papa duduknya sendirian?"
"Iyalah, kenapa? Kamu pikir Papa akan sedih karena nggak ada pendampingnya?" Selin mengangguk. "Buat apa sedih, Sayang. Bagi Papa, yang penting lihat kamu bahagia aja sudah cukup. Papa nggak ingin lebih."
"Selin kembali memeluk Gustavo. "Makasih ya, Pa. Dan Selin juga minta maaf karena sering mengecewakan Papa."
"Udah ya, jangan diinget inget lagi. Papah sudah Maafin semuanya. Papa juga minta maaf jika Papa sering ngecewin Selin, Ya?"
Selin hanya tersenyum. Bersamaan dengan itu, pihak keluarga Jamal memanggil Selin dan Gustavo agar bersiap diri karena acara akad akan di mulai.
Tak butuh waktu lama, kini Jamal dan Selin sudah duduk bersanding menghadap penghulu dan para saksi. Jamal semakin tegang dan panik saat ini. Bahkan saat pak penghulu menjabat tangan Jamal.
"Tangannya dingin banget, Mas?" tanya penghulu berniat menggoda sang mempelai pria.
"Gugup, Pak," jawab Jamal. Sontak membuat riuh yang mendengarnya.
"Ya yudah. Tarik nafas dalam dalam, dan baca bismilillah tiga kali dalam hati," Jamal menuruti perintah Pak penghulu. "Ok kita mulai ijab kabulnya, sudah siap?"
"Siap, Pak," Jawab Jamal lantang.
Dengan lantang, Pak penghulu mengucap kata sakral dalam pernikahan. Dan dengan lantang pula Jamal membalasnya dalam sekali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi, Sah?"
"SAHHHH!"
"Alhmdulillah."
Suara doa pun terucap dari berbagai bibir yang ada disana. Doa tulus untuk sepasang anak muda yang akan menjalani babak baru dalam kehidupannya.
Yah, akhirnya, tiga pemuda menemukan jalan hidupnya masing masing. Dengan cara tempuh yang berbeda, mereka mendapatkan kebahagiaan sesuai jalan hidupnya. Selamat tiga pria dari desa. Semoga ceritamu membekas dihati para penggemarnya.
...》》》》》 T A M A T 《《《《《...
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menyelesaikan cerita ini dengan segala dan daya upaya. Maaf jika akhir cerita ini tidak sesuai dengan yang pembaca inginkan. Tapi alur yang saya buat memang akhirnya memang sampai disini. Terima kasih, atas segala dukungan yang reader berikan dalam kisah ini. Dan maaf jika selama kisah ini berlangsung, othor banyak salah dan hilaf.
Sebagai gantinya, othor sudah menyiapkan karya baru. Tentu saja dengan cerita dan warna yang berbeda yang khas dari seorang rcancer. Semoga cerita baru othor masih bisa menghibur dan selamat menikmati.