
"Sudah puas kencannya?"
Seketika langkah Rizal yang hendak masuk kamar terhenti. Dia membalikan badannya terus langsung tersenyum tanpa dosa.
"Eh, Non Miran, belum tidur?" tanya Rizal sambil cengengesan. Padahal hatinya panik luar biasa. Apalagi Miranda menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
Miranda melangkah mendekati Rizal sembari menatap tajam dengan wajah yang sangat datar. Rizal melangkah mundur dengan mata yang terus bergerak kesana kemari tanpa berani membalas tatapan Miranda, hingga Rizal mentok di pintu.
"Masuk kamar!" titah Miranda begitu dingin. Dengan gugup Rizal langsung membuka pintu kamarnya dan segera masuk di susul Miranda. Pintu dikunci oleh Miranda tapi tatapan wanita itu terus menatap tajam Pemuda yang sedang terpojok dan kebingungan. Miranda terus melangkahkan kakinya maju menghadap Rizal hingga pemuda itu kembali terpojok di dinding.
"Aku bisa jelasin," rengek Rizal mencoba membalas tatapan tajam Miranda. Tapi dia tetap kalah. Matanya kembali mengedar ke sembarang arah.
"Jelasin apa? Jelasin kalau kamu habis kencan gitu?" tanya Miranda. Dan kini wajah mereka begitu dekat. Rizal pun semakin gelagapan.
Disaat mata Miranda terus menghunus ke arah Rizal, kedua tangan Miranda justru bergerak membuka ikat pinggang celana Rizal.
"Non Miran, mau ngapain?"
"Diam!" hardik Miranda galak. Rizal langsung terbungkam. Dia tidak berani menatap langsung mata Miranda dihadapannya. Tapi Rizal merasa kalau tangan Miranda membuka celananya.
"Non Miran, mau ngapain? itu kotor? Aku mandi tadi pagi doang loh, bau keringat banget itu," ungkap Rizal saat merasa tangan Miranda masuk ke dalam boxernya dan mengusap isinya yang terkulai lemas.
"Aku bilang diam! Bisa diam nggak?" lagi lagi Miranda menghardik dengan mata melotot membuat nyali Rizal menciut.
Rizal baru berani menatap Miranda saat wanita itu jongkok dan menurunkan celana serta boxer Rizal hingga selutut. Entah apa yang Miranda pikirkan, dia menciumi dan menghirup aroma asam dari bulu bulu yang ada dibawah perut Rizal. Bukan hanya bulu yang dicium dan di hirup aromanya tapi juga benda menegang milik Rizal dan yang lainnya. Rizal pun diam saja saat mulut Miranda mulai memainkan miliknya yang sudah menegang.
Sementara di tempat lain, Iqbal sedang berdiri di depan pintu kamar kost. Karin memilih kost daripada harus pulang kerumah. Padahal segala bujuk rayu sudah Iqbal lakukan agar Karin mau pulang. Tapi Karin tidak goyah. Dia tetap memilih tinggal di kossan.
Yang semakin membuat Karin kecewa adalah kenapa orang tuanya tidak datang sendiri membujuknya untuk pulang? Kenapa malah menyuruh Iqbal yang membujuknya? Hal itu membuat Karin merasa sudah tidak dianggap lagi oleh keluarga Martin.
Tempat Kost Karin memang tempat kost yang bebas. Pria dan wanita boleh ngekost disana tapi dengan cacatan jika belum menikah harus menyewa dua kamar, jika menikah harus ada surat nikah.
Beruntung, Iqbal bisa kost disitu karena disuruh Martin untuk jaga Karin. Dan kamar mereka bersebelahan. Dua kamar itu pun sudah dibayar penuh selama setahun oleh Tuan Martin. Dan kamar Karin dan Rizal ada di paling pojok atas.
"Udah pulang, Bal?" tanya Karin yang baru datang dengan menenteng bungkus plastik.
"Non Karin darimana?" tanya Iqbal bukannya menjawab pertanyaan Karin.
"Abis beli nasi goreng," jawab Karin sembari membuka pintu kamarnya. Iqbal pun mengekor ikut masuk ke dalam.
Seperti itulah kebiasaan Karin dan Iqbal. Mereka menyewa dua kamar tapi tiap malam mereka tidur bareng. Kadang di kamar Karin ataupun gantian.
"Kenapa tadi nggak nyuruh aku aja untuk beliin?" tanya Iqbal sembari merebahkan badannya di kasur yang tergeletak di lantai.
Sebenarnya Iqbal merasa kasihan melihat tiap berada di dalam kamar kost. Karin harus tidur di tempat yang sempit meninggalkan kamar yang besar dan luas. Beruntung kamar kos ini ber Ac dengan kamar mandi di dalam, jadi cukup nyaman.
"Orang cuma beli di depan Kost, Bal. Ngapain nyuruh kamu," ucap Karin sambil menikmati nasi goreng dan duduk di lantai. Iqbal pun bangkit dan memeluk Karin dari belakang.
Tapi tiba tiba Karin merasa hidungnya mencium bau sesuatu. Karin pun mengendus bau itu kesegala arah. Hingga bau itu semakin tajam saat Karin mengendus lengan baju Iqbal. Disana baunya begitu kuat dan terasa.
"Tadi kamu habis main sama cewek? Kok baju kamu bau parfum cewek?"
Deg!
...@@@@@@...