TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 157


Udara di ibu kota memang selalu terasa panas. Berkurangnya lahan hijau dan semakin banyak bangunan berdiri dan jumlah penduduk yang selalu, menjadi salah satu faktor pendukung ibu kota begitu sesak. Wajar saja jika lahan hijau seperti taman yang sedang Iqbal dan Karin singgahi menjadi tempat yang nyaman karena tempat ini diatur sedemikian rupa hingga terlihat rindang dan menyejukkan.


Entah sudah berapa lama supir dan anak majikan itu berada di tempat itu. Bahkan dua cup es coklat yang mereka minum telah habis sejak tadi. Tapi mereka enggan beranjak. Mungkin karena mereka capek setelah berkeliling mencoba mencari pekerjaan.


Entah dapat dari mana, Karin dapat pemikiran kalau dia ingin bekerja. Padahal bisnis orang tuanya termasuk bisnis yang besar. Jika ingin bekerja, bukankah lebih baik Karin bekerja di kantor ayahnya? Seandainya tidak ada masalah diantara mereka, mungkin Karin masih bisa mempertimbangkannya. Tapi sikap orang tua membuat Karin memikirkan ulang jika ingin bekerja di kantor papinya.


Karin memiliki alasan yang kuat kenapa dia tidak mau bekerja di kantor ayahnya. Selain masalah kepercayaan, Karin juga tidak mau menjadi pelampiasan kembali rasa iri kedua kakaknya.


"Sekarang kita mau kemana lagi?" tanya Iqbal sembari menatap lekat wajah wanita yang sedang memandang ke arah jalan.


"Nggak tahu, bingung," balas Karin.


"Atau pulang ke kosan aja, daripada bingung," tawar Iqbal dan sepertinya itu tawaran yang bagus. Mereka pun akhirnya memutuskan beranjak meninggalkan taman.


Tidak butuh waktu lama, mobil memasuki gang dimana tempat kosan Karin berada. Betapa terkejutnya mereka saat sampai di depan kos, mereka melihat mobil yang tak asing terparkir di halaman kos dengan seseorang yang mereka kenal sedang berdiri dan bersandar pada sisi mobil.


"Mang Kardi?" panggil Karin begitu turun dari mobil.


"Eh Non Karin, baru pulang?" tanya supir dari Tuan Martin.


"Mang Kardi ngapain disini? Sama papi?" bukannya menjawab, Karin malah kembali melempar pertanyaan. Sedangkan Iqbal memilih diam memperhatikan interaksi di hadapannya.


"Iya Non. Tuan Martin ada di dalam, lagi ngobrol sama yang punya kos."


"Ada apa lagi ini?" gumam Karin dalam hati.


Sementara itu dari dalam unit apartemen, suara rintihan terdengar menggema di segala penjuru ruang yang ada. Bukan rintihan kesakitan, tapi rintihan kenikmatan dari dua anak manusia yang sedang menyatukan badan mereka dengan tetesan keringat membasahi tubuh.


Setelah puas dengan duduk dipangkuan menghadap si pria, kini si wanita memilih tetap berada dipangkuan tapi membelakangi si pria.


Badan Belinda terus bergerak naik turun dengan benda menegang tertancap di dalam lembah nikmat miliknya. Racauan kasarnya semakin membuat gerakannya beringas. Sentuhan demi sentuhan yang Rio lakukan juga membuat Belinda semakin bersemangat dalam bergerak agar benda menegang milik Rio masuk lebih dalam lagi.


Hingga beberapa menit kemudian, tubuh Belinda mengejang dan bergetar kembali. Dan untuk kedua kalinya wanita itu meraih puncak. Air putih nan kental kembali meleleh, tapi kali ini air itu meleleh membasahi benda menegang yang masih menancap di dalam lembah.


Tubuh Belinda lemas sekekita. Dia menyandarkan tubuhnya pada Rio dengan posisi badan sedikit miring hingga kepala mereka bersebelahan.


Rio pun tak ingin membiarkan hal tersebut. Melihat Belinda yang lemas terkulai, Rio kini yang mengambil alih permainan. Pinggul Rio gerakkan maju mundur perlahan. Kedua telapak tangannya mencengkeram penuh bukit kembar sebagai pegangan.


"Biarkan aku istirahat bentar, Sayang," rintih Belinda.


"Nggak ah, orang lagi enak gini," tolak Rio sambil terus menggerakan pinggangnya Belinda pun pasrah.


Rio terus menggerakan pinggulnya hinga dia berhasil membangkitkan kembali gelojak Belinda yang sempat surut. Cukup lama Rio melakukan posisi seperti itu. Hingga beberapa saat kemudian, Rio merebahkan tubuh Belinda dan Rio menyodok lembah nikmat dari belakang.


"Kamu benar benar suhu, Rio. Dengan cepat aku bisa bangkit lagi," puji Belinda dengan nafas nafas yang tersengal dan menderu.


Rio hanya menyeringai. Pinggangnya terus bergerak dengan tempo yang lumayan cepat. Mulut dan tangan Rio juga terus memijat benda kembar dari belakang.


"Sepertinya sebentar lagi aku juga mau keluar, keluarin di dalam pengaman atau dimulut kamu, Sayang?" tanya Rio sambil terus menghujamkan benda menegangnya.


"Di mulut saja, aku sudah lama tidak makan nutrisi milik pria," pinta Belinda.


"Baiklah."


Setelah menghujamkan beberapa saat benda menegangnya, Rio mencabut benda itu dan melepas pengamannya, terus mengarahkan ke mulut Belinda. Setelah dikocok dengan tangan Belinda beberapa menit, keluarlah air putih nan kental di dalam mulut Belinda.


****!


...@@@@@@...