TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 177


Hening. Itulah yang sedang terjadi di dalam sebuah mobil yang sedang melakukan perjalanannya menuju ke sebuah apartemen, setelah keluar dari area kampus. Mobil yang berisi satu pria dan satu wanita itu, nampak begitu lengang.


"Kita nggak makan dulu, Non?" tawar Jamal pada wanita yang sedari tadi diam. Padahal hari ini adalah rencana mereka pulang ke rumah, tapi terlihat sekali, Selin berat melakukannya.


Beberapa minggu selalu tidur dalam pelukan Jamal, membuat Selin bimbang untuk kembali ke rumahnya. Kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua dengan Jamal tentu saja akan sangat berkurang banyak. Tapi Selin juga tidak ingin egois. Ayahnnya kesepian. Dia butuh seorang teman di rumah.


Melihat Selin yang tidak merespon pertanyaannya, Jamal hanya mengulas senyum tipisnya. Apa yang Jamal pikirkan juga sama dengan pemikiran Selin saat ini. Tapi, disini, Jamal hanya pekerja. Dia tidak mungkin menolak apa yang menjadi kehendak atasannya.


"Non," panggil Jamal lembut.


"Apa sih, Mal?" balas Selin tanpa menoleh ke arah Jamal.


"Jangan sedih, dong. toh kita masih sering bareng, kan?" ucap Jamal sembari matanya fokus menatap jalanan.


"Terus nanti kalau bangun tidur, aku cium apaan? Nggak ada pipi kamu, nggak ada bibir kamu, masa aku cium bantal," protes Selin dengan bibir mengerucut. Jamal sontak saja terkekeh membuat Selin semakin kesal dibuatnya.


"Orang lagi kesel malah diketawain, dasar cowok. Pasti kamu senang kan? Kita tidur terpisah? Kamu nggak ada yang gangguin, nggak ada yang peluk peluk," Jamal sontak terkesiap dengan tuduhan yang Selin lontarkan. Tapi tuduhan itu tidak membuat Jamal marah, tapi malah semakin membuat dia terpingkal.


"Tuh kan, ketawanya makin kenceng, berarti benar kamu seneng, kita tidur terpisah."


"Astaga! Hahaha ..." ucap Jamal. "Siapa yang senang, Non? Kalau nuduh itu ya? Pengin cium jadinya."


Bohong! Tuh, buktinya cengengesan? Berarti kamu senang."


Jamal pun memilih diam dan mengalah. Kalau diteruskan, yang ada nanti malah terjadi keributan. Karena Jamal tahu, wanita kalau sudah bersikap seperti Selin pasti akan membuatnya serba salah. Buktinya tadi, apa yang Jamal ucapkan selalu salah dimata Selin. Makanya Jamal memilih diam. Bahkan dalam diam pun, Jamal masih disalahkan. Dasar wanita.


Hingga sampai di apartemen, Selin masih cemberut saja. Jamal memilih membereskan pakaiannya dan juga pakaian Selin. Sedangkan wanita menatap Jamal yang sibuk berkemas dengan wajah cemberut.


"Akhirnya, selesai juga," ucap Jamal bebapa puluh menit kemudian. Pria itu melirik Selin dan dia menghela nafasnya dalam dalam kemudian secara perlahan dihembuskannya. Dia mendekati Selin dan duduk diatas ranjang yang sama.


Jamal pun mengusap rambut hingga punggung Selin. Cara seperti itu merupakan cara yang paling ampuh untuk menenangkan kegundahan wanita itu.


"Aku juga sedih sama seperti yang Non Selin rasakan. Sedih karena tidak bisa mencium kening Non Selin saat aku bangun duluan. Tidak bisa memberi kehangatan dan kenyamanan saat Non Selin terlelap. Tidak dapat melakukan banyak hal secara bersama lagi. Tapi aku juga nggak mau egois. Ada kalanya kita harus mengalah dan sadar kalau semua yang kita inginkan tidak harus dapat terjadi dan terwujud. Apalagi kita bukan pasangan suami istri, maka itu kita harus bisa lebih sadar diri lagi, paham?"


"hum," balas Selin singkat.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang?" tawar Jamal setelah Selin terasa lebih tenang.


Selin melihat jam tangan yang melingkar ditangannya. Disana terlihat baru jam satu siang lebih. "Nanti sore saja ketika papa sudah pulang kantor."


"Terus? Kita ngapain dulu? Apa kita keluar cari makan?" usul Jamal.


"Aku belum lapar, tapi ..." balas Selin dengan ucapan yang sengaja terpotong.


"Tapi apa?" tanya Jamal penasaran.


"Kalau kamu lapar, kamu makan aku aja, lumayan kan? Satu ronde bisa bikin kenyang."


Jamal menyeringai. "Non Selin lagi pengin?"


"Enggak. Aku kan cuma ngasih saran. Kalau kamu nggak mau makan aku, ya udah nggak apa apa," kilah Selin dengan nada menggerutu.


"Ya cium aku dulu dong, masa mau aku makan, tapi kamu ngumpet gitu," pinta Jamal. Selin pun menurutinya. Dia bergerak dan kini wajah mereka saling berhadapan.


"Aku makan bibir kamu dulu yah?" Selin mengangguk. Jamal meletakkan tangan kanannya di belakang Selin, kemudian bibirnya maju dan menempel di bibir Selin. Perlahan perang bibir pun di mulai sebagai awal perang badan yang penuh kenikmatan.


...@@@@@@...