
Dua orang itu baru saja berbagi keringat beberapa menit yang lalu. Mereka sedang menikmati waktu istirahatnya setelah selesai bercampur keringat dan cairan lainnya puluhan menit yang lalu. Meski mereka habis melakukan permainan terlarang tapi permainan itu sungguh membuat mereka ketagihan. Meski sadar hubungan mereka itu adalah kesalahan, tapi mereka seakan tak peduli dengan akibat yang bisa saja kelak menjadi masalah besar dalam masa depan diantara keduanya.
Sang wanita tanpa rasa jijik, memeluk erat tubuh penuh keringat pria yang beberapa hari ini memenuhi nafkah batinnya. Pria yang membuat pertahanannya goyah karena ketampanan dan kelembutan hatinya. Pria lugu yang menjadi supir pribadinya, kini menjadi pria yang pandai dalam memenuhi nafkah batinnya yang tertahan selama beberapa tahun.
"Non sebaiknya kita pulang, Yuk. Biar orang rumah nggak ada yang curiga," usul Rizal.
"Jam berapa sekarang?" Rizal mengambil ponsel yang dia letakkan di atas meja.
"hampir jam delapan malam."
"Baiklah, kita mandi dulu terus pulang."
Dan keduanya segera bangkit serta turun ranjang bersama terus melangkah menuju kamar mandi. Mereka hanya mandi bersama tanpa melakukan permainan tambahan karena waktu yang sudah tidak memungkinkan. Mereka hanya saling menbersihkan badan satu sama lain dan saling serang bibir sebagai pelengkap dalam kebersamaan mereka.
Setelah selesai mandi dan mengeringkan badan, mereka segera memakai pakaianya kembali dan bergegas keluar kamar hotel dengan perasaan bahagia.
"Non, Non Miran tidak punya rumah terpisah gitu, atau apartemen, biar kalau kita pengin nggak selalu di hotel, Non," ucap Rizal saat dalam perjalanan pulang.
"Dulu sih aku punya waktu sebelum menikah, tapi udah di jual. Kenapa, Zal?" tanya Miranda sembari melayangkan pandangannya ke arah sang supir.
"Kalau terlalu sering di hotel, aku takut ada kenalan atau teman Tuan Tomi yang memergoki kita, Non. Seenggaknya kita kan harus jaga jaga, Non," ungkap Rizal dengan sesekali menoleh ke arah wanita di sebelahnya.
Kening Miranda berkerut mencerna ucapan supirnya. Apa yang dikatakan Rizal memang benar adanya. Serapat rapatnya bangkai, mau di tutup serapat apapun, nanti akan tercium juga baunya.
"Baiklah, kamu jangan khawatir. Nanti kita cari solusinya ya?" Rizal pun mengangguk.
"Oh iya, Non. Nanti jika aku gajian, aku boleh libur kerja sehari nggak, Non?"
"Libur? Kamu mau mudik?"
"Enggak sih, Non. Aku pengin ketemu sama dua temanku yang tadi kita ketemu di Mall. Padahal tempat kerja mereka dekat loh, satu komplek dengan perumahan kita."
"Benarkah?" Rizal mengangguk. "Emang mereka di blok apa dan nomer berapa?"
"Nomernya sih aku nggak tahu, Non. Tapi yang satu di blok A dan yang satu di Blok F."
"Ya elah, deket banget itu. Kok bisa gitu? Gimana ceritanya?"
"Baiklah, kalau kamu ingin liburan. Kalau nggak ada Mobil, pakai mobilku aja nggak apa apa, Zal," tawar Miranda.
"Beneran, Non. Boleh pakai mobil Non Miran?" tanya Rizal girang.
"Iya, sayang."
"Yess, makasih, Non."
Miranda pun hanya mengulum senyum melihat tingkah Rizal, Hingga sepanjang perjalanan mereka saling bercerita sampai laju mobil berhenti di kediaman Miranda.
Tidak terlihat sama sekali Mobil Tuan Tomi, mungkin dia belum pulang. Seperti biasa, Miranda akan melayangkan bibirnya sejenak sebelum masuk ke dalam rumah. Miranda lewat pintu rumah dan Rizal lewat samping rumah.
"Lagian ngapain, Mbak?" tanya Rizal begitu melihat Mbak Sari duduk sendiri di belakang rumah.
"Lagi istirahat aja, Zal," balas Mbak Sari sambil mencomot emping dalam toples yang ada dipangkuannya. "Kamu baru pulang?"
"Iya nih, Mbak," balas Rizal setelah duduk di kursi sebelah Mbak Sari. "Mbak, mbak rada aneh nggak sih sama Linda?"
"Kenapa emangnya?"
Rizal pun menceritakan kejadian semalam. Mbak Sari nampak kaget karena semalam dia sudah tidur jadi dia tidak tahu apa apa.
"Masa kayak gitu, Zal?" tanya Mbak Sari tak percaya.
"Serius, Mbak."
"hm, ada ada aja. Ya kamu hati hati, Zal. Pokoknya jaga diri baik baik saja. Jangan sampai dapat masalah."
"Iya, mbak. Aku juga heran, kok bisa bisanya ngajak ngobrol di kamar, kenal aja belum sehari," gerutu Rizal.
Mbak Sari malah tertawa, dan tak lama kemudian Rizal pun ikut tertawa. Meski bukan kejadian lucu tapi cukup aneh saja dengan pekerja baru yang dibawa Tuan Tomi.
Hingga beberapa saat kemudian Mbak Sari dan Rizal pun larut dalam obrolan sambil melepas penat.
...@@@@@...