
"Maksud kamu? Selin pacaran sama supir?" tanya Sandra dengan dahi berkerut.
Rio tersenyum miring kemudian dia mengambil ponselnya dan membuka menu galeri. "Nih lihat, di belakang Selin, Jamal bermesraan dengan cewek lain."
Sandra menatap foto yang ada di ponsel Rio dengan tatapan terkejut. Bagaimana bisa pria yang begitu kelihatan sopan dan lugu, dengan tenang dan diam saja digelayutin seorang wanita. Ada perasaan tak rela dalam hati wanita itu. Bagaimana bisa Jamal menolak dirinya yang bisa memberi segalanya, tapi malah terlihat senang saat ada wanita yang mungkin seusia Jamal bersikap mesra.
"Emang apa hubungannya Selin dengan foto ini?" tanya Sandra setenang mungkin menutupi gemuruh dihatinya. Sandra cemburu melihat Jamal bersikap mesra pada Belinda meski hanya dalam sebuah foto.
"Gini ya, Tan. Aku sih yakin, Jamal mendekati Selin hanya karena mengincar hartanya saja," ucap Rio berapi api.
"Loh? emang ada hubungan apa Jamal dengan Selin? Jamal kan hanya supir?" tanya Sandra. Dia belum memahami apa maksud yang ingin Rio sampaikan.
"Hahaha ... masa tante nggak tahu?" ucap Rio sembari tergelak. Sandra semakin mengerutkan keningnya. "Selin sama Jamal itu diam diam pacaran, tante?"
"Hah! Yang bener kamu, Rio?" tanya Sandra dengan ekspresi terkejut. Tentu saja menurut Sandra, berita ini pasti salah. "Nggak mungkinlah, sayang? Tante tahu Selin seperti apa?"
"Hahaha ... Tante nggak percaya? Orang aku tadi lihat mereka mesra mesraan di Mall?" ucap Rio dusta. "Lagian Tante coba pikir deh, penyebab aku di skorsing sebulan karena apa, karena mereka. Ya kalau tante nggak percaya. Tante bisa tanya pihak kampus yang memberi aku hukuman. Bagaimana sikap Jamal dan Selin, nggak pantes banget."
Sandra semakin terkesiap. Meski dia memang salah telah menyakiti Selin, tapi hatinya tetap tidak rela jika ada pria yang menyakiti anaknya meski bukan anak kandung.
Sandra terdiam tapi pikirannya melayang jauh kemana mana. Termasuk kepada pemuda yang sangat dia idamkan. Sepertinya dia mempunyai ide untuk menjerat Jamal.
"Tante minta foto kamu yang tadi, sayang?"
"Buat apa?"
"Mau tante tunjukin ke papahnya Selin. Biar dia bisa ngomong ke Selin kalau Jamal bukan pria yang bener. Kasian Selin nanti kalau dia sakit hati lagi," ucap Sandra dusta. Tentu saja dia harus berbohong agar Rio tidak curiga terus marah kalau Sandra masih menginginkan Jamal.
Sementara itu di dalam sebuah Mall, Gustavo masih terlihat terkejut setelah mendengar permintaan putrinya. Hatinya sedikit gusar. Di edarkan pandangannnya ke sekitar Mall buat mengurangi kegusaran hatinya dan juga mencari jawaban yang tepat untuk menanggapi permintaan putrinya.
Selin juga terdiam, tapi matanya lekat memandang sang ayah yang tiba tiba berpaling. Selin tidak ingin berpikiran buruk, tapi melihat sikap Gustavo, Selin tahu mungkin permintaanya terlalu berat untuk diwujudkan.
Selin merasa permintaannya tidak terlalu berat. Dia hanya ingin tahu wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Dia juga ingin tahu nasib anak yang telah lahir karena ulah Gustavo juga. Apa kehidupannya baik baik saja? Apa papa menelantarkannya? Dimana dia tinggal sekarang? Sungguh Selin ingin tahu banyak tentang semua yang ayahnya sembunyikan.
Sementara di sisi lain, Jamal juga masih terpaku pada tempatnya. Sepertinya dia sadar, dia akan duduk sendirian disana dalam waktu yang cukup lama. Tapi Jamal tidak keberatan, asalkan dua manusia yang sedang dia tatap, bisa berbaikan dan kembali hidup bersama dalam satu atap.
"Papah keberatan?" pertanyaan Selin akhirnya meluncur juga setelah menunggu beberapa saat tapi Gustavo terdiam.
"Eh, em, apa, Sayang?" ucap Gustavo tergagap. Sepertinya Selin dapat membacanya sikapnya. Gustavo lupa kalau putrinya sudah beranjak dewasa.
"Aku tahu, papah pasti keberatan. Nggak apa apa, aku emang biasa dikecewain," Gustavo terkesiap mendengar ucapan sang anak. Dia yakin pasti putrinya saat ini sangat kecewa. Gustavo menatap putrinya yang sedang menunduk dengan perasaan yang sangat bersalah.
"Bukan seperti itu, Sayang," ucap Gustavo mencoba mencari alasan yang tepat.
"Sudahlah, Pa. Selin sudah tahu jawabannya kok. Selin memang ditakdirkan untuk tidak tahu apa apa. Ya sudah Pa, Selin mau pulang ke apartemen dulu, Papah jaga diri baik baik," ucap Selin sembari bersiap beranjak. Namun saat Selin sudah berdiri, Gustavo menahan tangannya.
"Baiklah, jika itu yang kamu mau, Papa akan mengabulkan."
Gantian Selin yang terkesiap dengan keputusan Papanya.
...@@@@@...