
"Tunggu sebentar ya, Sayang. Papa mau nerusin pekerjaan Papa dulu."
Selin mengangguk. Dia menatap sang Papa beranjak menuju ke kursi kebesarannya. Mata Selin hampir tak berkedip memandang pria yang masih kelihatan tampan meski usianya sudah sangat matang. Pria yang menanggung beban hidupnya sendirian, hanya gara gara kesalahan dimasa lalu.
Namanya Gustavo Aldamofe. Pria tampan dengan berjuta pesona yang bisa meluluh lantakan hati para wanita. Pria yang hingga kini selalu disalahkan karena hobi celup sana celup sini dimasa lalunya.
Ya, semua memang menyalahkan Gustavo. Bahkan banyak yang menyudutkanya kalau dia pria yang tidak baik dan banyak yang mendoakan karma untuk dirinya.
Itulah sejatinya sifat manusia.Mereka lebih suka menghakimi kesalahan orang lain daripada harus bercermin dan bertanya pada diri sendiri, apakah dirinya sangat suci? Apakah dirinya bersih dari dosa? Apakah hanya orang yang lain yang punya salah?
Itu pula yang terjadi pada Gustavo. Dia manusia kotor tapi dia tidak pernah lepas dari tanggung jawabnya. Mereka hanya sibuk memandang kesalahan Gustavo tanpa mau memandang sisi lain dari sosok pria itu.
Selama hidup dengan Sandra dan menjadi suaminya. Tak pernah sekalipun Gustavo protes dengan segala yang Sandra lakukan. Meskipun kelakuan Sandra dulu sering membuat Gustavo menahan emosi.
Bagaimana Gustavo tidak emosi, baru satu bulan menikah dengan Sandra, wanita itu memaksa orang tua Gustavo segera menyerahkan harta warisan kepadanya. Belum lagi kegilaan kegilaan keluarga Sandra yang selalu merongrong hartanya hingga Gustavo hampir bangkrut.
Gustavo tidak bisa bercerai karena dia yang memilih Sandra dan menantang orang tuanya. Disaat Gustavo diambang kehancuran, justru keluarga Sandra memaksa Sandra menggugat cerai Gustavo. Mereka tidak mau Sandra hidup susah. Tapi saat mereka tahu Sandra mandul dan Gustavo sedang bangkit, mereka ngotot agar Sandra tetap bertahan dengan Gustavo. Keluarga macam apa itu?
Saat Gustavo terpuruk, justru ibu kandung Selin yang ada disisinya, menguatkannya, membantunya dengan daya dan upaya sebisanya. Tapi Sandra, dia memilih hidup dengan orang tuanya tanpa peduli dengan keadaan Gustavo yang butuh dukungannya.
Hingga sampai detik ini, meski Sandra sudah berbuat jahat pada Selin. Gustavo masih mengirimi Sandra nafkah. Usaha Sandra yang amburadul karena sifat boros Sandra dan juga membiayai brondongnya, Gustavo juga yang selalu menyokongnya. Tapi Sayang kebaikan Gustavo tak pernah terlihat sedikit pun hanya gara gara dia suka celap celup.
Inilah alasan kenapa Selin sangat dibenci keluarga besar Sandra dan Gustavo. Karena mereka tidak ingin harta Gustavo jatuh ke tangan anak kandungnya. Alasan lain dulu Sandra mau menerima Selin, karena pengaruh keluarganya juga. Lagi lagi harta yang jadi alasan mereka. Meski Sandra juga pernah sangat menyayangi Selin apa adanya.
"Papa tahu, Papa masih ganteng. Nggak perlu menatap Papa sampai segitunya, Sayang," ucap Gustavo setelah beberapa lama fokus pada pekerjaannya dan menyadari kalau sang anak sedang memperhatikannya, hingga Selin gelagapan.
"Dihh! Pede banget," cibir Selin tapi anak itu menyunggingkan senyum pada akhirnya.
"Lalu? Kenapa lihatin Papa terus? Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Gustavo sambil beranjak menuju kursi yang sama dengan Selin duduki.
"Apa Papa dapat ancaman dari mama Sandra?"
"Oh soal itu?" Selin mengiyakan. Gustavo duduk di sebelah sang anak dan memeluk pundaknya. "Papa juga dapat, cuma belum Papa tanggapin sih."
"Selin takut, Pa. Kalau masalalu Selin menyebar di kampus, gimana?"
Gustavo mengeratkan pelukan ke anaknya. Dia menghirup udara dalam dalam dan perlahan menghembuskannya.
"Maafin Papa ya, Sayang. Kamu harus mengalami hal sulit kayak gini. Semua memang salah Papa. Tapi Papa akan usahakan semampu Papa agar berita itu tidak menyebar sampai ke kampus. Papa nggak ngerti mau Sandra itu apa?"
"Terus Papa harus gimana, Sayang? Nyerahin Jamal pada Sandra?
"Ya jangan."
"Hmm."
Sejenak mereka terdiam, larut dalam pikiran masing masing. Masalah yang menimpa bapak dan anak itu, cukup melelahkan. Tapi karena masalah juga, mereka menjadi semakin erat.
"Pa."
"Hum? Apa Sayang?"
"Selin mau jujur sama Papa?"
"Jujur? Jujur tentang apa?"
Selin menghirup udara dalam dalam untuk menangkan gemuruh di dadanya. Dia melepaskan diri dari pelukan Gustavo dan dan menatap wajah Papanya dengan degup jantung yang tak biasa.
"Papa masih ingat? Hari dimana aku mengetahui kalau aku bukan anak Mama Sandra?"
"Ingat, kenapa, Sayang?"
"Hari itu aku mabuk, Pa. Tapi aku masih sadar dan ingat apa yang aku lakukan."
"Terus?"
"Aku ngancam Jamal."
"Ngancam gimana, Sayang?"
"Aku ngancam Jamal agar mau meniduriku, Pa."
Jedder
...@@@@@...