TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 154


"Jadi gimana? Apa kamu sanggup menjalankan tugas dari saya?"


"Pasti, Tuan. Saya akan menjalankan tugas saya sesuai dengan keahlian saya."


"Baiklah. Dapatkan bukti seakurat mungkin. Meski aku berharap apa yang aku pikirkan itu salah."


"Baik, Tuan. Saya akan selidiki istri dan supir anda sebaik mungkin."


"Oke, saya tunggu kabar baiknya."


"Kalau begitu saya permisi, Tuan. Saya akan langsung melaksanakan tugas saya."


Dan pria berbadan tegap dan berwajah sangar itupun meninggalkan ruang kerja Tomi. Orang yang baru saja keluar adalah orang suruhan Tomi. Karena pengaruh ucapan Rio tentang kemungkinan Miranda berselingkuh dengan Rizal, Tomi merasa harus segera bertindak. Entah apa tujuannya Tomi melakukan hal tersebut? Yang pasti untuk saat ini, Tomi sangat penasaran karena ucapan Rio cukup mengganggunya.


Sedangkan di sebuah apartemen, Rio sedang asyik menumpahkankan gejolaknya pada wanita yang baru dia kenal beberapa jam yang lalu. Karena sebuah misi yang sebenarnya tidak terlalu penting, dua manusia berbeda jenis itu kini saling berpagut bibir meraba.


Tangan Rio terus menjelajah dari paha hingga ke dada wanita bernama Belinda. Mereka begitu dekat dan hampir menempel.


"Tanganmu nakal banget, Rio," rengek Belinda manja saat telapak tangan pria itu memijat dadanya yang masih dilapisi dengan Lingerie.


"Sorry, tangan aku memang suka begitu kalau berdekatan dengan cewek yang cantik," balas Rio tak kalah nakal. Bahkan tangannya tetap menjelajah tanpa ada niat untuk berhenti.


Belinda menyeringai nakal. Bibirnya kembali menyerang bibir Rio dan kali ini lebih panas dan ganas. Bahkan Belinda sampai bangkit dan duduk dipangkuan Rio hingga pemuda itu terpojok pada sandaran sofa.


Rio tentu saja dengan senang hati menyambutnya. Bahkan kedua telapak tangan rio memijat dan mencengkram bongkahan pantat Belinda yang besar dan padat.


"Kamu ganas juga, Sayang? Aku suka," ucap Rio begitu bibir mereka terlepas tapi posisi mereka tidak berubah.


"Abisnya kamu seperti membangunkan macan tidur saja," balas Belinda dengan jari mengusap wajah tampan pria yang memangkunya. "Apa lagi aku sudah lama tidak ada yang membelainya."


"Wah! Berapa lama kamu nggak dibelai?" tanya Rio sembari sesekali mencium dada Belinda.


"Lama banget, sampai ladangku gersang karena nggak ada yang garap," cicit Belinda dengan genit dan terlihat makin menggemaskan.


"Waw! Pasti kering banget ladang kamu, Sayang?" tanya Rio.


"Baiklah, ayo kita garap ladang kamu biar nggak kering."


Belinda hanya tersenyum sesaat kemudian kembali menyerang bibir Rio dengan ganasnya. Rio tentu saja memanfaatkan keadaan dengan sangat baik. Disaat bibirnya berperang dengan bibir Belinda, tangannya melepas semua tali yang mengikat lingerie di tubuh Belinda.


Setelah itu, Rio menyuruh Belinda melepas lingerinya. Belinda pun berdiri dari pangkuan Rio. Dengan gaya yang sangat menggoda, Belinda melepas lingerie tersebut.


"Wahh! Indah banget," puji Rio saat menatap tubuh polos wanita cantik dihadapannya. Belinda kembali merangkak naik ke atas pangkuan Rio dan memamerkan keindahan yang dia miliki.


Kedua telapak tangan Rio langsung menggengam dan memijat bukit kembar Belinda yang ukurannya lumayan besar. Padahal bukit kembar itu sering disentuh tangan pria, tapi kepandaian Belinda dalam merawat tubuhnya membuat benda benda penting dalam tubuhnya masih terlihat kencang dan menggemaskan.


Bukan hanya tangan, Rio juga membenamkan wajahnya di antara benda kembar yang terpampang di dada Belinda. Bahkan mulutnya juga ikut bekerja menyesap dan menyedot kedua pucuk bukit kembar dengan rakusnya.


Saking nikmatnya, Belinda sampai terus menekan kepala Rio agar lebih dalam lagi dalam nenikmati benda kembar miliknya.


Sambil memainkan bukit kembar, Rio mengarahkan tubuh Belinda agar berbaring di sofa. Wanita itu menurutinya dan dia sangat suka diperlakukan dalam posisi seperti itu.


"Punya kamu tembem banget sih, Sayang," puji Rio lagi saat tangannya membelai lembut lembah nikmat milik Belinda.


"Biar kamu ketagihan," Balas Belinda terdengar sangat nakal.


"Pasti ini, aku pasti bakalan ketagihan dengan yang tembem tembem seperti ini," balas Rio tak kalah nakal.


"Ya udah cepat dinikmatin, aku udah nggak tahan, Sayang," rengek Belinda.


"Sabar, Sayang. Aku pasti akan menikmatinya," balas Rio dan Belinda pu mengangguk senang.


Rio yang terbaring di sisi Belinda, kembali mengarahkan mulutnya dan mendarat di bukit kembar nan besar lalu melahapnya. Sementara salah satu tangannya juga mengusap dan menijat lembah nikmat milik Belinda yang bersih tanpa bulu dan terlihat sangat menggemaskan. Rintihan nikmat terus keluar dari bibir Belinda.


"Ahhh ..."


...@@@@@...