TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 86 (Iqbal)


Pagi kini menjelang. Hangat sinar matahri pagi seakan mewakili hangatnya dua insan yang semalam habis melakukan hal gila untuk pertama kalinya. Memang benar kata orang, setiap hal yang terjadi untuk pertama kali pada seseorang pasti sangat berkesan dan tak terlupakan. Begitu juga yang dirasakan Iqbal dan Karin. Kejadian semalam sungguh menyenangkan bagi mereka.


Wajah ceria dan semangat, Iqbal pancarkan pagi ini saat dia sedang membantu meringankan pekerjaan Mbak Inah seperti biasanya. Bahkan wanita itu sampai geleng-geleng kepala merasa heran melihat tingkah Iqbal. Mbak Inah berpikir, mungkin Iqbal bertingkah konyol meluapkan kebahagiaannya karena semalam jadi rebutan dua anak majikannya. Padahal dugaan Mbak Inah salah, Iqbal ceria karena ulah Karin semalam yang telah membuat tidurnya lebih nyenyak.


Rasa bahagia juga dirasakan putri ketiga penghuni rumah itu. Berdua bersama supir tampannya, membuat dia bisa melupakan masalah yang terjadi antara dirinya dengan sang Mamih. Karin bahkan tidurnya lebih nyenyak setelah menikmati rudal supir tampannya. Beruntung, semalam dia pergi ke kamar Iqbal, jadi dia bisa mendapat ketenangan dan hal baru yang sangat seru dalam hidupnya. Karin masih tidak percaya, dia semalam begitu menikmati benda besar milik Iqbal di dalam mulutnya. Dan mungkin itu akan jadi makanan favorit baru dalam daftar kesukaan Karin mulai saat itu.


Karin keluar kamar bersiap mau berangkat kampus. Wajah bahagianya dia tutupi dengan wajah dingin dan datar saat dia turun tangga dan melihat keluarganya sudah berada di meja makan menikmati hidangan sarapannya. Karin memilih langsung berangkat, tidak bergabung dengan yang lain.


"Nggak sarapan dulu, Rin?" ucap Mamih namun Karin tak menghiraukan suara Mamihnya meski dia mendengar. Wajah Amanda langsung murung menatap kepergian Karin dengan segala kekecewaan yang dia toreh.


"Kok dari tadi diam?" tanya Iqbal begitu mereka sudah dalam perjalanan menuju kampus.


Karin menoleh, "Kenapa? Kamu memikirkanku?"


"Ya iya lah, orang semalam kita baik-baik saja, sekarang kamu malah diem," cicit Iqbal.


Karin pun tersenyum, diusapnya dengan lembut, pipi sang supir. "Nggak ada apa kok, Bal. Jangan khawatir."


"Syukur lah, kirain ada masalah lagi," ucap Iqbal lega. "Pengin makan punyaku lagi nggak, Non?"


Mendengar pertanyaan Iqbal, sontak saja Karin memukul bahu Iqbal yang sedang cengengesan kemudian dia mengarahkan tangannya ke celana Iqbal dan mengusapnya. "Nanti malam aja lah, biar seru."


"Punyaku enak ya, Non?" dan Karin dengan entengnya mengangguk, " Emang Non nggak jijik gitu?"


"Awalnya sih merasa jijik, Bal. Tapi kalau lihat video, kok ya kayak enak gitu, makanya semalam aku beraniin untuk nyoba, kamu nggak suka apa, Bal?"


"Suka lah, suka banget malah, aku aja kaget waktu Non Karin tiba-tiba malahap habis punyaku, kirain cuma pake tangan doang," jawab Iqbal antusias. Kemudian dia kembali bertanya, "Aku boleh makan punya kamu nggak, Non?"


"Malu lah, Bal," tolak Karin. Padahal dia juga penasaran. Meski belum pernah melakukannya, Karin sering melihatnya dalam video.


"Malu kenapa? Kan kamu sudah lihat punyaku? Masa aku nggak boleh lihat punya kamu?" tanya Iqbal agak memaksa.


"Tapi, Bal?"


"Tapi apa? Non Karin nggak mau? Ya udah nggak apa-apa. Padahal kan aku juga pengin nyoba makan punya cewek," cicit Iqbal sambil memasang wajah cemberut. Karin yang melihatnya mengulas senyum. Tingkah Iqbal sangat menggemaskan.


"Beneran?" tanya Iqbal dengan mata berbinar dan Karin hanya mengangguk.


"Nah gitu, dong, Yeeahh!" teriak Iqbal meluapkan senangya. Karin pun tersenyum dan mengusap pipi Iqbal. Keduanya pun saling melempar senyum.


"Kamu sudah pernah melakukannya dengan wanita lain apa, Bal?" tanya Karin sambil menatap pria itu.


"Belumlah, Non Karin tuh yang pertama. Dari ciuman, pelukan sampai melakukan yang semalam," terang Iqbal gamblang dan terdengar jujur.


"Benarkah?" Iqbal mengangguk. "Wah! Senengnya aku, jadi yang pertama."


"Punya Non pernah dimasukin laki-laki lain belum?" tanya Iqbal penasaran.


"Belum lah, dipegang laki-laki aja belum pernah, apa lagi dimasukin," jawab Karin jujur.


"Wuih! Mantap! Kalau aku yang pertama masukin gimana, Non?" pinta Iqbal sambil cengengesan.


"Ngaco, jangan dulu lah," tolak Karin.


"Lah? Kok gitu? Kan biar sama sama yang pertama, Non?" ujar Iqbal. Lagi lagi memasang wajah cemberut.


"Ya pikir nanti lah, Bal. Kita jalani dulu apa yang ada, masalah itu dipikir belakangan." balas Karin agar Iqbal tak cemberut lagi.


"Tapi nanti kalau Non Karin pengin dimasukin, harus aku loh yang pertama," pinta Iqbal posesif.


"Iya, Iqbal! Ih, mentang nentang ganteng," balas Karin gemas.


"Sip!" balas Iqbal sambil cengengesan.


Pembahasan tak penting itu berakhir saat mobil memasuki area kampus dan mereka berpisah untuk sementara.


...@@@@...