
Di sebuah rumah sakit, suasana nampak begitu ramai. Dari berbagai sudut, kesibukan jelas sekali terlihat disana. Ada yang datang menjenguk, ada yang memeriksaan diri, ada juga hanya sekedar menenami. Dan itu semua terjadi di beberapa lantai yang ada di rumah sakit ini.
Suasana beberapa lantai itu, berbanding terbalik dengan suasana salah satu ruang vip yang ada di lantai paling atas. Ruang khusus untuk kalangan orang kaya itu lebih terlihat sunyi daripada ruang yang lainnya.
Dari dalam kamar salah satu ruang itu, nampak seorang wanita senyum senyum sambil menatap layar ponselnya. Wanita yang sedang duduk di atas brangkar itu sedang sibuk berkirim pesan dengan pria yang sekarang keberadaannya jauh dari kota.
Meski hubungan keduanya sedang sulit dan belum ada kejelasan tentang masa depannya, tapi mereka nampaknya masih saling mendukung dan sama sama berusaha.
"Ceilaah, senyum senyum mulu nih bocah, kayaknya lagi seneng bener," sebuah suara mengangetkan si wanita yang beberapa bagian tubuhnya luka luka akibat kecelakaam yang dia alami. Wanita itu lantas langsung menoleh ke sumber suara.
"Eh Bel, Let," ucap Wanita yang memiliki nama panggilan Karin. "Baru datang?"
"Yah seperti yang kamu lihat," jawab Belinda. "Nih pesenanmu."
Karin menerima bungkusan dari kakaknya dan langsung membukanya. "Makasih," ucap Karin senang. Dia langsung melahap isinya.
"Iqbal udah dikasih tahu belum, Rin? Tentang kondisi kamu?" tanya Aleta.
"Belum lah, nggak tega aku. Dia aja masih kesulitan menjelaskan semuanya pada keluarganya. Aku nggak mau nambahin beban pikirannya," jawab Karin sambil melahap sepotong sushi.
Oh gitu," jawab Aleta. "Oh iya, Rin. Apa benar, Papi akan menceraikan Mami?"
"Ah iya, aku sampe lupa mau tanya hal itu," sambung Belinda. "Gimana ceritanya sih, Rin? Kok Papi bisa ngomong kayak gitu? Sumpah, tadi pagi aku kaget, Mami pulang dari rumah sakit, nangis nangis."
Sejenak Karin terdiam karena sedang mengunyah makanannya. Setelah makanan itu tertelan, lalu Karin mulai menceritakan perdebatan Mami dan Papinya. Serta perbuatan Mami yang membuat Iqbal harus pulang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Astaga! Kok jadi separah ini sih, Rin?" ucap Aleta terkejut
"Aku juga nggak tahu Mami bisa berbuat sejauh itu."
"Tapi kalau orang tua kita cerai, aku pasti bakalan merasa bersalah banget, Mereka bercerai karena kita," cicit Aleta.
"Nggak bakalan. Aku yakin Papi hanya menggertak saja. Papi hanya ingin Mami sadar, jadi Papi mengancam seperti itu," ucap Belinda dengan yakin.
"Tapi Papi semalam kelihatan sangat serius, Bel. Papi aja sampai nangis. Aku baru kali ini loh lihat Papi nangis. Dan yang paling membuat aku merasa bersalah, Papi nangis gara gara aku," ucap Karin sendu.
"Terus sekarang Mami dimana, Rin? Apa Mami lagi keluar?" tanya Aleta beberapa saat setelah mereka tadi sejenak terdiam.
"Loh, bukannya Mami di rumah?" tanya Karin heran.
"Nggak ada. Dari pagi pagi banget kata Mbak Inah Mami sudah pergi. Katanya ke rumah sakit."
"Hah! Nggak ada, Let. Papi doang yang sedari tadi pagi disini. Terus Papi pulang sekitar jam satu."
"Astaga! Terus Mami kemana?"
Ketiga wanita itu saling tatap penuh kebingungan.
Sementara itu di sebuah kampung. Dua orang pemuda nampak sedang duduk di depan rumah salah satu pemuda itu. Mereka seperti sedang membicarakan hal yang serius.
"Aku bingung, Mal," ucap salah satu pemuda itu. Dia terlihat sangat frustasi. "Dengan cara apa lagi, aku menjelaskan pada Ibu dan Bapak."
Pemuda bernama Jamal, memandang lurus ke depan. Dia juga merasa prihatin dengan keadaan sahabatnya. Jamal bahkan sampai bingung mau memberi solusi bagaimana.
"Sabar lah, Bal. Nunggu emosi mereka reda dulu. Aku aja awalnya gitu kan? Bahkan sampe Emak masuk rumah sakit," ucap Jamal, sedikit memberi solusi.
"Tapi kok aku kayak susah banget gitu. Mungkin aku karena awal kejadiannya nggak seperti kamu. Kalau aku sama Karin, awal kejadiannya karena suka sama suka. Karena kita sama sama khilaf di awal. Makanya aku kayak susah banget membela diri."
"Hmm, ya udahlah, Bal. Nanti aku coba ikut ngomong sama Mbak Rini. Kali aja bisa bantu."
Iqbal menghembus kasar nafasnya. "Udah mau maghrib, aku balik lah, Bal. Selamat ya, semoga acara lamaranmu lancar."
"Sip."
Dengan gontai Iqbal melangkah menuju rumahnya melalui gang gang yang ada di komplek rumah itu. Jarak yang dekat membuat dia cepat sampai. Namun Iqbal dibuat terkejut saat matanya melihat ada mobil yang dia kenal terparkir di depan rumahnya. Dari dalam rumah juga terdengar ramai. Iqbal langsung saja masuk ke dalam rumah. Dan dia semakin terkejut saat melihat siapa yang datang ke rumahnya.
"Nyonya Amanda!"
...@@@@@@...