
Jamal akhirnya bisa bernafas lega. Dengan berbagai alasan akhirnya dia bisa terlepas dari jeratan Nyonya Sandra yang benar benar membuat jiwa laki lakinya meronta.
Masih teringat jelas dalam pikiran Jamal, tangan yang menempel pada Sandra digerakan hingga hampir menyentuh sesuatu yang bisa membuat benda miliknya menegang. Sandra yang saat itu hanya memakai rok pendek dan tidak terlalu ketat sungguh membuat Jamal panas dingin dibuatnya.
Meski Jamal dalam kondisi panik dan canggung. Namun sebagai laki laki normal, sisi hati yang lain tetap bersorak hanya karena bisa merasakan sesuatu yang halus, putih dan licin. Bagian itulah yang membuat jiwa laki laki Jamal meronta. Bahkan hanya mengingatnya saja, Jamal merasakan ada yang mengeras di dalam sana.
Dan hal lain yang membuat Jamal berpikir keras adalah tawaran Sandra. Tawaran pekerjaan yang bisa merubah garis hidupnya. Sungguh jamal tergoda dengan tawaran tersebut, namun dia juga takut jika tawaran itu hanya bohong belaka.
Dalam benak Jamal, dia benar benar membutuhkan seseorang untuk berbagi saat ini. Biasanya ada Rizal dan Iqbal yang menjadi tempat Jamal berbagi saat mereka bersama. Namun kini keadaannya berbeda, dua temannya juga sekarang sudah sibuk dengan pekerjaan masing masing. Bahkan sejak mereka bekerja, belum sekalipun mereka berkirim kabar. Padahal Jamal tahu, tempat kerja dua sahabatnya berada di area yang sama, namun entah kenapa jarak itu terasa jauh. Mungkin karena rumah rumah yang ada disana terlalu mewah dan kebanyakan tidak saling mengenal antara tetangga satu dengan tetangga yang lainnya.
Sebagai laki laki, Jamal juga terkesan dengan pesona Nyonya Sandra. wanita itu begitu cantik dengan badan yang seksi berisi membuat Jamal terkesima. Mungkin salah satu penyebab Rio menghianati Selin adalah karena terpesona dengan wanita tersebut. Berbeda jauh dengan Selin yang terlihat jarang memakai riasan.
Tok! tok! tok!
Bunyi ketukan kaca mobil membuyarkan lamunan Jamal yang sedang memikirkan tawaran Sandra. Jamal seketika tergagap dan dia langsung menekan tombol kunci otomatis.
"Bengong, Mal?" tanya Selin begitu masuk ke dalam mobil.
"Maaf, Non." Ucap Jamal cengengesan.
"Ngelamunin apa? Sampe diketok ketok lama?" tanya Selin heran.
"Bukan apa apa Non, kita kemana sekarang, Non. Pulang atau main dulu?" balas Jamal sembari menyalakan mesin mobil.
"Kemana ya, Mal, enaknya. Males pulang, baru jam segini." balas Selin malah minta pendapat Jamal. Tentu saja dia bingung, toh dia belum tahu daerah ini.
"Nggak tahu, Non. Aku belum tahu daerah sini, kan?"
Mendengar jawaban Jamal, Selin pun berdecih tapi dia juga membenarkan kalau Jamal anak baru yang mengenal kota.
"Ya udah jalan aja dulu, sambil jalan sambil mikir enaknya kemana," usul Selin sekaligus memberi perintah.
"Baik, Non."
Dalam diam, Selin mengamati penampilan Jamal kali ini. Supir barunya sungguh sangat tampan dengan pakaian yang Selin belikan. Bahkan pakaian yang Jamal kenakan memperlihatkan kalau badan yang dibalut pakaian ketat itu sangat bagus. Selin sampai terpana melihatnya. Bahkan dia sampai berpikir liar dengan mengkhayalkan Jamal.
Dalam perjalanannya, ponsel Selin berdering dan ternyata itu panggilan dari papahnya. Segera Selin mengangkat telfon. dari telfon itu Papah Selin memerintahkan Selin segera pulang karena katanya ada hal penting yang akan Tuan Gustavo bicarakan.
"Kita pulang saja, Mal. Papah mennyuruhku pulang." ucap Selin memberi tahu pesan papahnya.
"Baik, Non."
Mobil pun berubah arah, kini tujuan mereka adalah rumah.
Tak lama kemudian sampailah mobil Selin di kediamannya. Selin bergegas turun dan masuk rumah mencari sosok ayahnya. Jamal memilih masuk rumah lewat samping rumah menuju belakang.
"Pah?" panggil Selin saat membuka ruang kerja Gustavo di lantai dua. Benar saja Gustavo berada disana. Dia sedang fokus dengan pekerjaannya di depan layar laptop.
"Eh, sudah sampai, Sayang? Kirain masih lama?" balas Gustavo saat menoleh melihat anaknya datang.
"Tadi emang nggak terlalu jauh dari rumah kok, Pah." balas Selin sembari duduk di kursi depan meja kerja ayahnya. "Ada apa, Pah. katanya ada yang akan papah omongin?"
Gustavo pun memgangguk dan menyuruh anaknya menunggu sebentar karena Gustavo harus menyelesaikan pekerjaannya sebentar lagi.
Setelah beberapa menit menunggu, Gustavo pun menutup laptopnya pertanda pekerjaannya sudah selesai. Kemudian dia menatap anaknya dengan serius.
"Ini tentang mamahmu, Sel," ucap Gustavo terasa begitu berat.
"Mamah? Buat ulah apa lagi dia?" balas Selin kesal.
"Dia sepertinya menginginkan Jamal."
"Apa!"
...@@@@@@...