
Hari kembali berganti. Kini pagi telah menyapa. Terdengar suara seorang pria sedang berdendang sembari mengguyur badannya dengan yang keluar dari shower. Pria kampung yang jauh dari kata kemewahan, kini malah hidup seperti orang kaya dalam sebuah apartemen.
Meski fasilitas yang dia gunakan saat ini adalah milik orang tua dari wanita yang masih terlelap akibat rasa lelah yang mendera tubuhnya akibat percintaan yang mereka lakukan.
Bisa jadi kegiatan semalam adalah kegiatan terakhir di apartemen ini, karena hari ini mereka akan kembali ke rumah utama sesuai janji.
Selesai mandi, Pria bernama Jamal keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Sebelum memakai pakaiannya, pria itu berkaca sembari memperhatikan tubuh atletisnya.
"Lama nggak olahraga, sepertinya tubuhku melar semua," gumamnya. Puas bercermin, Jamal menoleh dan menatap wanita yang masih pulas dalam tidurnya. Bibirnya tersenyum, kepalanya menggeleng beberapa saat, lalu dia melangkah dan duduk di tepi ranjang.
"Non ... bangun, udah siang ini loh, bangun yuk," ucap Jamal lirih sambil mengusap pipi wanita bernama Selin.
"Eugh," cuma itu suara yang Selin keluarkan.
"Non ... bangun," ucap Jamal lagi penuh kesabaran.
"Males ah," tolak Selin dengan suara yang masih terdengar berat dan mata yang enggan terbuka.
"Loh, loh, loh, udah siang ini loh, ayo bangun," ajak Jamal. Selin menggeliat beberapa kali terus perlahan membuka matanya.
"Kamu udah mandi?" tanya Selin begitu matanya terbuka dan melihat rambut Jamal basah dan hanya memakai handuk.
"Iya," jawab Jamal singkat.
"aaaahh ... masa mandi duluan?" rengek Selin persis anak kecil. Jamal pun tersenyum geli. Wanita yang satu ini selalu manja dan merengek tiap bangun tidur.
"Kan aku sudah bangunin Non Selin dari pagi, tapi Non Selin nggak bangun bangun, ya udah aku mandi duluan," balas Jamal enteng tanpa rasa bersalah.
"aaahhh ... kamu selalu gitu deh, apa susahnya sih nungguin aku bangun? Minta mandi bareng aja nggak diturutin," sungut Selin. Posisi tubuhnya langsung membelakangi Jamal. Lagi-lagi Jamal hanya mengulas senyum. Gemas dengan sikap Selin yang selalu manja beberapa hari ini. Tiap bangun tidur pasti ada saja drama yang Selin lakukan.
"Padahal besok udah nggak tidur bareng lagi, udah nggak mandi bareng lagi, udah nggak tidur sekamar bareng lagi, tapi minta mandi bareng sebelum pindah aja nggak mau dikabulin, nyebelin," gerutu Selin bersungut sungut.
"Astaga! Siapa yang nggak mau ngabulin, Non?" ucap Jamal membela diri. "Aku kan udah jelasin tadi."
"Bodo amat. Pokoknya aku nggak mau mandi, nggak mau makan, nggak mau ke kampus," ancam Selin seperti biasa.
"Ya udah ayo aku mandiin," bujuk Jamal.
"Ini udah siang loh, Non? Nanti telat, atau aku mudik aja ke kampung, ninggalin Non Selin?" gantian Jamal yang mengancam.
"Jangan!" teriak Selin sembari berbalik badan menghadap Jamal.
"Ya makanya nurut, ayo mandi. Aku mandiin. Sama aja, kan?" ajak Jamal sedikit tegas. Selin hanya mendengus. Dia lebih baik menuruti Jamal daripada Jamal marah terus pulang kampung. Tidak, Selin belum siap jauh dari Jamal.
"Gendong?" pinta Selin dengan wajah cemberut.
"Iya, ayo cepet."
Selin seketika bangkit. Tubuh polosnya langsung menempel pada punggung Jamal dengan tangan yang melingkar di leher. Setelah itu, Jamal langsung mengangkat tubuh Selin menuju kamar mandi. Drama di pagi hari pun selesai.
Seiring waktu berjalan, seiring pula Jamal dan Selin telah selesai mengerjakan kegiatan paginya. Kini keduanya meluncur ke kampus seperti biasanya.
"Nanti setelah pulang kampus, kita ke apartemen sebentar buat beres beres, lalu pulang, oke?"
Selin menoleh. "Sebenarnya bosnya itu aku apa kamu si, Mal? Kok kamu yang ngatur?"
"Hahaha ... Ya lagian sama aja, kalau Non Selin yang ngatur, tetap aku yang ngerjain kan? apa bedanya coba?"
"Dih, huu," dengus Selin. Jamal hanya terkekeh menanggapinya. Nyatanya, apa yang diucapkan Jamal memang benar.
Tak lama kemudian, Mobil sudah memasuki area parkir kampus. Menjadi kebiasan baru, sebelum keluar dari mobil, Selin akan mencium pipi Jamal sejenak. Begitu juga pagi ini. Selin mencium pipi Jamal kemudian dia langsung keluar mobil meninggalkan Jamal.
Tak lama setelah Selin menghilang, kaca samping mobil ada yang mengetuk. Jamal mendongak dan sedikit terkejut melihat siapa yang mengetuk pintu kaca mobil. Jamal segera saja keluar dari mobil ataa permintaan orang itu.
"Ada apa lagi, Nyonya Sandra?"
"Ikuti saya, saya ada kejutan buat kamu."
"Apa!"
...@@@@@...