
Kamu adalah anak selingkuhan papah kamu, Selin."
"Sandra!" Bentak Gustavo.
"Apa!" balas Sandra tak kalah lantang. Apa lagi yang akan kamu tutupi, Gustavo Romanov!"
Sementara Selin mematung dengan raut wajah penuh dengan rasa terkejut. Dada Selin begitu sesak mendengar kenyataan dari mulut Sandra. Apa ini benar? Apa semua ini nyata? Kalau benar, kenapa? Kenapa ini terjadi? Dan kenapa kenyataan ini sungguh menyakitkan?
"Apa kamu pikir mamah juga bohong dalam hal ini, Nak? Tanya papahmu? Tanya?"
Selin menoleh menatap sang papah dengan perasaan berkecamuk. Sedangkan Gustavo terbungkam, menatap nanar kepada anaknya.
"Yang diucapkan Mamah tidak benar kan, Pah? Mamah bohong, kan?" tanya Selin dan berharap papahnya menjawab sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Maafkan Papah, nak." Hanya itu jawaban yang mampu Gustavo berikan. Jawaban yang menegaskan kalau apa yang diucapkan Sandra itu benar. Seketika Selin ambruk. Dia terduduk dilantai dengan perasaan hancur.
Gustovo menunduk dan berjongkok. Dia menoleh ke arah sekretaris dan memintanya keluar. Kemudian dia kembali menatap sang anak yang sedang terisak. Di belainya rambut sang anak dengan penuh rasa sayang.
Sementara di sisi lain. Sandra juga memilih duduk di sofa. Perasaannya juga tak kalah hancur. Dia juga tak ingin dalam situasi seperti ini. Tapi keadaanlah yang memaksa Sandra harus bertindak seperti wanita kejam.
"Bagaimana bisa, Pah? Bagaimana bisa aku anak selingkuhan papah?" tanya Selin lirih. Hatinya benar benar sakit dengan kenyataan yang baru saja dia dengar. Namun Gustavo hanya membisu. Dia sendiri bingung mau menjelaskannya.
"Kamu tahu Selin, perasaan mamah juga hancur. Mamah sakit mengatakannya. Ini sama saja membuka luka mamah yang sudah mamah pendam sangat lama." ucap Sandra dengan nada bergetar. "Kalau kamu siap mendengarkannya, mamah akan ceritakan semuanya, Nak?"
"Bicaralah, Mah. Selin siap mendengarnya. Ceritakan semuanya!" perintah Selin diantara isak tangisnya. Sementara Gustavo menatap anaknya dengan wajah semakin pias.
"Baiklah, kalau itu mau kamu, Nak. Mamah akan menceritakan semuanya." ucap Sandra.
Beberapa saat setelah mengehembus kasar nafasnya dan memantapkan hatinya agar kuat, Sandra mulai bercerita. Sandra memang wanita yang tidak sempurna, dua tahun menikah, dia di vonis mandul. Vonis itu jelas saja menyakitkan dan menghancurkan perasaan dan impian Sandra. Namun yang lebih menyakitkan adalah kejadian setelah vonis itu datang satu bulan kemudian. Gustavo pulang dari luar kota dengan membawa bayi berusia dua minggu. Bayi itu kehilangan ibunya yang meninggal setelah melahirkan. Bagaimana bisa satu bulan setelah Vonis mandul, Gustavo datang bawa bayi?
"Kamu bisa bayangkan betapa sakitnya mamah saat mamah mendengar kenyataan kalau bayi itu adalah anak papah kamu dengan selingkuhannya. Bahkan dengan kejam papahmu meminta aku untuk merawat bayi itu. Saat itu perasaan mamah hancur, Sel. Perasaan mamah hancur." ucap Sandra di iringi dengan isak tangis yang terdengar sangat pilu.
Selin semakin tergugu sedangkan Gustavo, dia terduduk, kepalanya menunduk, kakinya tertekuk, kedua telapak tangannya menumpuk dibelakang kepalanya. Entah apa yang dirasakan Gustavo saat ini, yang pasti nampak frustasi.
"Papahmu bilang, dia akan berubah. Dia menyesali semuanya. Jujur awalnya mamah berat merawat bayi itu. Wanita mana yang mau merawat anak hasil selingkuhan suaminya? Tapi Mamah sadar, Sel. Bayi itu tidak berdosa. Bayi yang tidak meminta dilahirkan dari hubungan yang salah. Mamah memendam rasa sakit mamah. Mamah perlahan menerima bayi itu. Mamah memberikan kasih sayang dan segalanya untuk bayi itu. Tapi apa yang dilakukan papahmu, nak? Dia kembali berulah, dia kembali selingkuh. Bahkan di usia bayi itu menginjak usai 10 tahun, mamah hampir mengulangi kejadian yang sama. Mamah di minta merawat lagi seorang anak hasil selingkuhan, apa itu tidak gila? Apa itu tidak kejam? Sekarang kamu pikir, siapa yang kejam? Mamah atau papah?" Sandra menangis tergugu meluapkan rasa sakitnya yang selama ini dia pendam. Dan Selin semakin syok mendengar kelanjutan kisah pahit Sandra.
"Bayi itu adalah kamu, nak. Bayi yang tidak berdosa dan Mamah dengan perjuangan keras melawan ego dan sakit hati mamah untuk menerima kamu dan menyayangi selayaknya anak mamah sendiri." lanjut Sandra.
Selin mencerna semua yang dia dengar. Kenyataan yang begitu menyakitkan. Sungguh Selin tidak menyangka, mamahnya justru menahan kesakitannya bertahun tahun.
"Apa demi membalas papah, mamah memilih main gila dengan pria lain termasuk mamah main gila dengan Rio?"
Deg
...@@@@@...