TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 264 (Jamal)


"Papa kenapa? Kok kaget gitu?"


"Papa nggak kenapa," balas Gustavo. "Ya wajar dong Papa kaget. Emang Jamal kapan akan melamar kamu?"


"Ya secepatnya, Pa. Nunggu Ibunya sehat dulu katanya. Kan baru pulang dari rumah sakit."


"Oh, ya baguslah. Ya udah, Papa berangkat dulu, Sayang. Nanti kita bicarakan lagi masalah ini."


"Siap, Bos!"


Gustavo sontak tersenyum. Lantas dia bergegas pergi guna menikmati hari libur bersama rekan bisnisnya. Sedangkan Selin, masih semangat belajar memasaknya. Dia sangat menikmati proses belajarnya.


Jelas sekali terlihat raut bahagia, terpancar dari wajah gadis itu. Bukan karena Jamal akhirnya resmi akan melamarnya, tapi dari cerita Jamal, Keluarga pria itu mau menerima apa adanya Selin meski dia terlahir dari hubungan di luar nikah.


Selin benar benar tidak menyesal sama sekali telah menyerahkan semuanya kepada Jamal. Dan sekarang, Selin tinggal belajar memperbaiki diri demi kelangsungan hidup kedepannya bersama Jamal.


Hingga waktu terus merangkak maju dan kini petang telah menjelang. Di sebuah rumah sederhana, nampak satu keluarga tengah berkumpul dan duduk santai di kursi yang biasa menjadi tempat duduk kalau ada tamu.


"Udah dong, Mal. di elus elus mulu motornya. Nggak bakal ilang juga," ledek Bapak pada anak keduanya yang sedari tadi betah nangkring di atas motor barunya.


"Apaan sih, Pak. Aku kan cuma lagi lihat lihat," elak Akmal dengan wajah cemberut.


"Bawa motornya ke kamar kamu, sekalian di kelonin," ledek Bapak semakin menjadi.


"Hih!" pekik Akmal semakin merasa kesal. Sedangkan Jamal sama Emak hanya ikut tertawa melihat tingkah Bapak dan Akmal.


"Gaji kamu berapa sih, Mal? Karja baru dua bulan, kok bisa beli motor? Kontan lagi bayarnya," tanya Emak setelah menyeruput teh hangatnya.


Jamal yang sedang asyik mengunyah mendoan nampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan Emak. Dia memang belum cerita tentang gaji dan uang bonus yang dia dapatkan dari Gustavo.


"Gaji sih ya nggak gede gede amat, Mak. Cuma kemarin Jamal dapat bonus dari Tuan Gustavo," jawab Jamal sambil menikmati mendoan yang tersaji dihadapannya.


"Bonus? Bonus apaan?" tanya Emak lagi.


"Menyelamatkan Non Selin dari penculikan, Mak."


"Hah! Penculikan? Gimana ceritanya?" tanya Emak yang semakin penasaran. Begitu juga dengan Bapak yang ikutan menatap Jamal dengan tatapan serius.


"Jadi gini ..." ucap Jamal mengawali ceritanya. Jamal mennceritakan semua kejadian yang dia alami. Termasuk usaha Sandra yang mau melakukan apapun demi mencapai tujuannya.


"Astaga! Kok parah banget, Mal?" kini Emak malah sangat terkejut setelah mendengar cerita anaknya.


"Maka itu, Mak. Aku kasihan sama Non Selin. Dia itu kayak butuh kasih sayang gitu. Makanya, ketika sedang berdua dengan Jamal, manjanya ampun deh."


"Maka itu kamu sampe keenakan dan kebablasan gitu yah?" sindir Bapak. Jamal hanya cengengesan.


"Ya ditangkap polisi. Entah sih sekarang gimana kelanjutannya. Soalnya Jamal kan keburu pulang."


"Kok bisa ya, seorang wanita nekat kayak gitu. Tingggal ikhlas dan menerima keadaan, apa susah banget atau gimana," ungkap Emak heran.


"Ya namanya juga sakit hati, Mak. Mungkin karena keingianannya nggak terkabul juga jadi dia melakukan segala cara," Bapak yang menimpali.


"Iya, Nyonya Sandra terlalu berambisi. Beruntung dulu aku tidak terima tawarannya. Nggak kebayang nasib aku akan bagaimana, jika aku kerja dengan Nyonya Sandra," cicit Jamal.


"Nah terus? Kamu dapat bonus berapa emangnya?" kini Bapak yang bertanya.


"Lumayan Banyak sih, Pak. Ada seratus juta."


"Wuih! Banyak banget, Mas?" seru Akmal dari atas motor. "Minta dong, Mas."


"Kan udah dibeliin motor? Masa minta lagi," Bapak yang bersuara.


"Ya beda, Pak. Motor, kan, buat dipake rame rame," kilah Akmal.


"Apaan di pake rame rame. Paling nanti kamu yang sering make buat pacaran," sekarang Emak ikutan meledek anak keduanya.


"Siapa yang pacaran? Mana ada cewek yang mau sama aku," kilah Akmal.


"Halah gayamu, Mal. Terus Tasya, Kamila dan Alin mau dikemanain? Punya pacar nggak cukup satu."


"Kok Emak tahu?" tanya Akmal sambil cecengesan. Meski awalnya sempat terkejut.


"Astaga! Beneran, Mak, Akmal punya pacar sebanyak itu?" tanya Jamal Jamal tak kalah terkejut.


"Ya benar, Mal. Mana mereka semua satu sekolah lagi."


Jamal dan Bapak semakin terkejut, sedangkan Akmal hanya cengar cengir salah tingkah.


"Wah! Parah nih!" seru Jamal.


"Apaan sih, Mas. Orang cuma temenan," ucap Akmal. Dia sama sekali tidak mau ngaku.


"Kalau gitu mending motornya dijual aja deh, daripada nanti Akmal makin bertingkah," ledek Bapak.


"Jangan!" sertu Akmal. Dia langsung menghampiri kakaknya dan merayu agar motornya tidak dikembalikan.


Jamal dan kedua orang tuanya hanya senyum senyum melihat tingkah sang adik. Keluarga kecil itu, melewati malam dengan berbagi cerita dan penuh kehangatan.


...@@@@@...