TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 230 (Iqbal)


Sepanjang perjalanan, Martin dan Amanda hanya terdiam. Mereka larut dalam pikiran masing masing. Mereka tidak menyangka mengalami nasib seperti ini. Ketiga putri mereka seakan kompak menghukum kesalahan mereka di masa lalu. Menyesal sudah pasti, tapi semuanya sudah terjadi. Tinggal bagaimana caranya mereka menyikapi tiga putri yang semakin liar tak terkendali.


Liarnya Belinda dan Aleta juga sudah cukup membuat mereka merasa gagal menjadi orang tua, sekarang di tambah kenyataan dengan anak ketiga mereka. Lagi lagi karena rasa kecewa pada orang tua, anak ketiga mereka memilih menyerahkan tubuhnya pada supir. Sungguh ini seperti tamparan buat mereka. Anak gadis yang penurut sejak kecil, berubah liar karena rasa kecewa juga. Dan orang tua lah yang menjadi faktor pendukung ras kecewanya.


"Mami masih nggak setuju? Kalau Papi nikahkan Karin dengan Iqbal?" Martin akhirnya membuka suara. Sedangkan Amanda merasa gusar dan tak nyaman mendengar pertanyaan suaminya.


"Mami hanya ingin yang terbaik untuk Karin, Pi," jawab Amanda tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Yang terbaik menurut Mami itu yang seperti apa? Memisahkan mereka gitu? Apa Mami sudah bersiap hati dengan dampak buruknya?" cecar Martin mencoba menahan emosinya.


Amanda hanya terdiam. Dia sendiri tidak tahu, apa yang terbaik untuk anaknya. Yang dia inginkan hanya anak anak menurutinya, itu saja. Tapi dia sadar itu sudah tidak munngkin Amanda lakukan. Anak anaknya bukan anak kecil yang mudah diatur.


"Setiap ditanya, diam. Setiap diminta pendapat, diam. Tapi nanti Papi bertindak mengambil keputusmsan, Papi yang disalahin. Sebenarnya maunya Mami tuh apa? Kok nggak jelas terus," keluh Martin.


"Terserah Papi saja lah, Mami bingung. Mami ambil sikap juga tetap Mami yang disalahkan. Mami diam, Papi ngeluh."


"Lah kan aku tanya? Yang terbaik menurut Mami itu apa? Karena setiap keputusan yang Mami buat, dampaknya ke anak anak. Dulu Mami kan yang ngusulin Belinda dan Aleta ikut orang tua kita. Mami meyakinkan Papi kalau orang tua kita bisa menjaga mereka. Buktinya? Mereka malah merusak diri karena kecewa sama kita. Nah sekarang, Karin juga begitu. Apa Mami tidak belajar dari kesalahan. Hanya gara gara kita orang tua mereka, terus Mami gengsi minta maaf ke mereka karena merasa tidak bersalah begitu?"


"Kok Papi terus terusan mojokin Mami sih?"


"Kan? Sudahlah, nggak guna bicara sama Mami. Bikin emosi doang. Apapun keputusan Papi nanti tentang anak anak, Papi nggak akan melibatkan Mami lagi. Papi nggak mau menyesal karena sikap Mami."


Kembali, hening melanda dalam mobil itu. Sang supir jugga terdiam sembari terus menatap ke depan, meski hatinya tak enak karena mendengar pertengkran majikannya


Sementara itu, orang yang sedang dibicarakann sepasang suami istri itu, kini sedang asyik menikmati suasana pantai. Duduk di bangku kayu dengan sebutir kelapa muda menghadap panta, berdua dengan orang yang disayang, adalah impian banyak anak manusia. Begitu juga Karin dan Iqbal.


Sejak mengalami kejadian yang cukup mencengangkan, mereka lebih memilih menghibur diri dengan menghabiskan waktu di pantai. Mereka lebih layak dianggap sebagai pasangan kekasih daripada supir dan anak manjikan. Hanya kemesraan yang mereka tunjukan sepanjang menit ini. Tangan yang bergandengan, tubuh yang saling menempel dan tentu saja, ciuman ciuman kecil sebagai keromantisan dalam sebuah hubungan.


"Bal."


"Hum? Apa?"


"Apa nggak capek? Kawin lari?"


"Ighh ..." rengek Karin manja. "Bukan itu."


"Terus?"


"Kita nikah, meski tanpa restu orang tua."


"Hust, nggak baik, nggak boleh kayak gitu."


"Lah terus kita harus bagaimana? Nungguin restu orang tuaku? Apa kamu nggak sadar? Jelas jelas mereka nggak merestui kita, terutama Mami. Bahkan sudah tahu aku nggak suci pun, dia masih mau memisahkan kita."


Iqbal hanya mengulas senyum sesaat. Tangan kanannya melingkar di pinggang Karin dengan erat hingga mereka sangat menempel.


"Bagi aku, restu itu penting, Nonaku Sayang. Kalau kita masih mau usaha, aku yakin, orang tua kamu pasti marestui kita. Mungkin saat ini, mereka tidak merestui kita karena aku belum ada pekerjaan. Mereka juga pasti nggak mau anaknya menikah terus hidup susah."


"Terus seandainya aku hamil duluan bagaimana? Apa tetap kita menunggu restu? Kasian anak aku dong nantinya.


"Ya enggak lah, kan Ayahnya tanggung jawab."


"Tapi kan kamu maunya menunggu restu dulu, Iqbal. Kalau aku hamil duluan gimana? Masa iya kita akan tetap nunggu restu?"


Iqbal malah terkekeh membuat Karin mendengus sebal.


"Yang penting untuk saat ini, kita berjuang dulu untuk mendapat restu, oke? Jika hamil, baru mikir jalan lain."


Karin hanya mengangguk pasrah dan mereka kembali terdiam menikmati suasana pantai.


...@@@@@...