TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 65 (Rizal)


Terkejut. Itulah gambaran wajah yang terjadi saat ini pada diri Rizal. Bagaimana tidak terkejut? Di layar ponsel bekas Miranda terpampang foto Miranda yang cukup berani. Dalam layar tersebut, gaya Miranda mirip model profesional dari luar negeri pada majalah dewasa. Miranda duduk di atas meja dengan kaki membentang dan benda inti miliknya hanya di tutupi dengan tangan tanpa ada kain lain yang menutupinya. Dilihat dari fotonya, sepertinya Miranda mangambil foto di atas meja rias. Meskipun terkejut, Rizal juga senang melihat foto keindahan dari seorang Miranda.


Rizal mencoba menggulir menu dan mencari foto lain, kali saja ada. Dan benar saja, ada beberapa foto berbeda dengan gaya yang lebih menantang. Rizal beberapa kali meneguk salivanya. Bahkan di dalam sana, ada sesuatu yang menggeliat dan mengeras.


"Kalau kayak gini, bisa bisa sabun di kamar mandi cepat habis ini," keluh Rizal. Wajar saja Rizal mengeluh seperti itu, karena beberapa hari ini, Rizal selalu menyaksikan majikan wanitanya sangat menggoda. Meski sabun yang dia pakai adalah jatah dari majikannya namun tetap saja dia mengeluh.


Disaat batin Rizal bergejolak, di saat itu pula hati Miranda tengah senang dibuatnya. Miranda yakin Rizal saat ini sedang menikmati foto dirinya yang sengaja dia ambil tadi pagi sebelum mandi. Konyol memang, atau mungkin terkesan murahan. Tapi Miranda seakan tidak peduli. Tujuan dia hanya satu, membuat dirinya sendiri bahagia.


Berbagai rencana sudah dia susun dengan rapat. Tinggal mencari waktu dan cara yang tepat agar Tomi tak mencurigainya.


Sementara di gedung lain, tepatnya di ruang kantor Tomi. Pria itu nampak serius menatap layar ponselnya. Berbagai berkas pun menumpuk di atas mejanya. Terlepas dari kekurangannya, Tomi merupakan pria pekerja keras. Dia bahkan bisa memajukan perusahaannya sendiri di bidang peralatan rumah tangga. Meski dia tidak pernah memberi nafkah batin pada Miranda, namun untuk nafkah lain, Tomi tak tanggung tanggung memberikannya dalam jumlah yang fantastis. Itulah sisi baiknya dari seorang Tomi. Bahkan dia senang berbagi dengan beberapa panti dan orang yang kurang mampu tanpa mempublikasikannya.


Saat jari jari Tomi sedang asyik memencet tombol kombinasi huruf dan angka pada laptopnya, dia mendengar ada yang menyapanya dari arah pintu. Tomi mendongak dan mengulas senyum.


"Sibuk, Tom?" sapa seorang pria yang sudah akrab dengan dunia yang sama dengan dunianya Tomi. Pria itu masuk dan langsung duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Terlihat di kedua tangan orang itu, bungkusan kantong plastik dengan nama merk makanan ternama.


"Seperti yang kamu lihat, Di," balas Tomi sambil beranjak dan membawa laptopnya ke arah sofa dimana temannya kini berada.


"Jangan terlalu sibuk, kamu nggak akan jatuh miskin meski tidak terlalu sibuk," cibir teman Tomi bernama Didi sembari mengeluarkan isi kantung plastik yang dia bawa dan membuka isinya. Dua porsi pizza dan dua cup besar es cola.


"Tapi kan aku harus tanggung jawab dengan karyawanku, Di. Tahu sendiri kamu, yang menggantungkan rejeki di perusahaanku banyak," ucap Tomi membela diri. Dia terpaksa membiarkan pekerjaannya sebentar yang sudah terpampang di laptopnya.


"Iya iya percaya," ucap Didi akhirnya mengalah. "Gimana dengan anak inceran kamu? Ada kemajuan?"


Tomi mencomot potongan pizza dan melahapnya sedikit. "Susah, Di. Padahal aku sudah ngomongin akan ngasih posisi yang enak buat dia."


Berbeda dengan Tomi. Didi lebih baik dalam mengatasi kekurangannya. Dia bahkan bisa menikah dan memiliki seorang anak. Hubungan dengan sang istri juga baik tanpa ada masalah selain masalah masalah kecil pada umumnya.


Entah kenapa, Tomi tidak pernah bercermin pada temannya itu. Harusnya dia banyak belajar. Tapi nyatanya, Tomi lebih memilih mengabaikan Miranda daripada mau belajar merubah apa yang salah pada dirinya.


"Apa kamu sangat menginginkan supir istrimu?" Tanya Didi di sela sela menikmati pizzanya.


"Kalau nggak pengin, ngapain aku cerita ke kamu, Di." sungut Tomi agak jengkel. Namun Didi malah terkekeh melihatnya.


"iming iming mu kurang mantap kali."


"Kurang mantap gimana? Aku nawarin gaji dua puluh juta sebulan loh," balas Tomi berapi api.


"Waw! fantastis ya?"


"Tapi tetap, dia nggak mau," cicit Tomi frustasi dan Didi semakin tergelak hingga Tomi melotot.


"Kalau cara halus nggak bisa? Kenapa nggak pakai cara licik?" usul Didi.


"Maksudnya?" tanya Tomi dan seketika Didi menyeringai jahat.


...@@@@@...