TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 71 (Jamal)


Jamal terdiam dan dia sungguh terkejut. Untuk pertama kalinya bibir Jamal ada yang menyentuhnya. Dan yang menyentuhnya bukan bibir sang kekasih, tapi bibir majikannya. Bahkan saat bibir Selin yang duduk di pangkuaannya bergerak, Jamal hanya diam dan bingung. Jamal benar-benar bingung cara membalasnya makanya, bibir Jamal pun tak merespon gerakan bibir Selin.


Setelah menempel beberapa detik, Selin mengangkat bibirnya dan menatap wajah yang kini sedang dia pegangi dengan kedua telapak tangannya. Selin tersenyum dengan pandangan yang sudah berat dan mata yang memerah, namun sepertinya kesadarannya masih ada.


"Supir tampanku, kenapa diam?" tanya Selin dengan suara khas orang mabuk, "Belum pernah ciuman yah?"


Wajah Jamal langsung memerah begitu Selin meledeknya sambil terkekeh.


"Non, kita pulang, yah?" bujuk Jamal lembut.


Selin menggeleng, kemudian dia menoleh ke arah orang yang tadi dia lihat sebelum menyerang bibir Jamal.


"Aku mau seperti itu?" tunjuk Selin dan Jamal pun mengikuti arah tangan Selin menunjuk.


Mata Jamal kembali membelalak. di ujung sana, pria dan wanita yang posisinya sama persis dengan Jamal dan Selin, sedang perang bibir dengan begitu ganasnya.


Selin kembali meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Jamal. "Aku mau seperti itu."


Jamal kesusahan menelan ludahnya. Mata mereka beradu. Jamal hendak menolak dan akan mengeluarkan suara. Namun Selin kembali menempelkan bibirnya dan bergerak. Tentu saja untuk kedua kalinya Jamal kaget. Namun Jamal tetap laki laki normal pada umumnya. Dia punya insting alamiah seorang pria. Perlahan dia pun menggerakkan bibirnya. Dan perang bibir yang lumayan ganas terjadi. Jamal bahkan sampai bersandar dan memegangi kepala Selin.


Perang bibir berakhir setelah terjadi cukup lama. Selin memandang wajah supirnya dan tersenyum. Jamal melepas punggungnya dari sandaran dengan tatapan tak lepas dari mata Selin. Wanita yang sedang duduk dipangkuan Jamal, memeluknya dan menaruh dagunya di pundak kanan Jamal persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Aku nggak mau pulang, aku nggak mau ketemu papah, aku maunya sama kamu," Racau Selin terdengar begitu menyedihkan.


"Tapi kita harus tetap pulang, Non. Tuan pasti khawatir," ucap Jamal pelan. Dia bahkan melingkarkan tangannya memeluk Selin. Hal yang baru pertama kali Jamal lakukan. Berpelukan dengan wanita.


"Nggak mau! Kalau kamu memaksa pulang, lebih baik aku mati, aku nggak mau ketemu kamu lagi dan siapapun," Ancam Selin dan sontak saja membuat Jamal panik.


Jamal pun berinisatif mengambil ponselnya di dalam saku celana dan menghubungi Tuan Gustavo. Terdengar ada kelegaan dari seberang sana meski Jamal juga memberi informasi kalau Selin tidak mau pulang dan ketemu papahnya.


Gustavo pun memaklumi, putrinya pasti sangat terpukul saat ini. Gustavo akhirnya meminta Jamal membawa Selin ke apartemannya. Jamal menyanggupi setelah mendapat pengarahan dari Gustavo.


Dengan susah payah, Selin berhasil dibawa pulang ke apartemen milik orang tuanya. Tentu saja Jamal melakukanya atas petunjuk Tuan Gustavo. Bahkan saat sampai di apartemen, Jamal sudah ditunggu supir Gustavo guna menyerahkan kunci akses masuk apartemen.


Begitu masuk apartemen, Jamal langsung membawa Selin menuju kamar. Jamal membaringkan tubuh anak majikannya. Jamal menatap mata Selin yang terpejam. Dia pikir Selin tertidur jadi Jamal memilih beranjak.


Namun sebelum Jamal beranjak, Selin menahan tangannya dan bersuara, "Carikan aku tali, Mal?"


Sontak saja Jamal kaget, "Tali? Buat apa?"


Mata Selin membuka dan dia duduk, "Carikan!"


Jamal tak bertanya lagi. Dia segera bangkit dan mencari barang yang diinginkan dengan pikiran bermacam dugaan. Beruntung ada tali di lemari dinding yang ada di dapur, Jamal bergegas menuju kembali ke kamar dimana Selin berada.


"Nih," ucap Jamal sembari menyerahkan benda yang Selin inginkan.


"Sekarang kamu naik ke ranjang dan tiduran disini," titah Selin yang langsung membuat Jamal mengerutkan keningnya.


"Buat apa?" tanya Jamal heran.


"Lakukan! Atau aku bilang papah suruh pecat kamu!" Sontak saja Jamal terkesiap. Dengan berbagai pertimbangan dia pun menuruti kemauan anak majikannya daripada dipecat.


Jamal semakin heran, setelah tiduran telentang sesuai perintah, Salah satu tangan Jamal di ikat. Ancaman pemecatan membuat Jamal tak berani membantah. Bahkan Selin mengancam ikatannya jangan di lepas sebelum dapat perintah dari Selin. Jamal pasrah meski dia bingung. Satu tangannya di ikat dengan salah satu ujung tali, dan ujung tali yang lain Selin ikat di celah kayu ujung ranjang.


Jamal pun tiduran dengan tangan terikat. Setelah itu Jamal kembali terkejut. Selin berbaring disampingnya dan meletakkan kepalanya di dada Jamal sambil memeluk erat pinggang Jamal


"Temani aku Jamal, jangan pergi, aku nggak mau menghadapinya sendirian," ucap Selin dengan suara yang bergetar. Sedangkan suara jantung Jamal, "Jug gi jag gi jug gi jag gi jug."


...@@@@@...