TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 46 (Rizal)


Sejak pertemuannya dengan kedua sahabatnya, Miranda terus merenungi semua ucapan mereka. Apa yang dikatakan Violin dan Natasha memang ada benarnya. Sudah saatnya Miranda harus membuat dirinya bahagia.


Selama ini memang Mirandalah yang banyak mengalah dan berkorban. Bahkan untuk kebutuhan batinnya saja, Miranda sampai membeli alat bantu benda yang mirip punya pria. Itu saja dia memakainya hanya di sekitar, tidak berani masuk. Miranda pun ingin merasakan nikmatnya dalam kungkungan lelaki.


Miranda juga memikirkan saran kedua sahabatnya tentang supir barunya. Lagi lagi apa yang mereka sarankan sepertinya memang benar. Rizal tampan dan Miranda juga merasa nyaman setelah akrab dan mengenalnya. Serta Rizal juga masih bersih, belum pernah tersentuh siapapun. Sungguh pilihan yang tepat menurut sahabat Miranda.


Miranda juga terpesona dengan ketampanan supir pribadinya. Dia juga selalu hanyut jika sang supir tengah tersenyum. Miranda pun mulai meyakinkan dirinya kalau Rizalah pria yang tepat menikmati mahkota yang dia jaga. Toh suaminya juga tidak suka, jadi mending dikasih orang lain. pikirnya.


Miranda juga sangat yakin, kalau sang suami juga pasti mengincar supirnya. Dengan alasan memberi kerja di kantor, Tomi pasti memiliki niat khusus. Miranda harus gerak cepat. Dia tidak boleh kecolongan kali ini. Cukup beberapa supir saja yang pernah menjadi korbannya. Tapi tidak dengan Rizal. Miranda harus tetap membuat Rizal menjadi pria yang lurus dan menyukai lawan jenisnya.


Miranda mengambil ponselnya dan mencari nomer seseorang yang baru dia dapat atas saran Violin. Sahabatnya menyarankan kalau Miranda menggunakan obat perangsang untuk menjebak Rizal. Awalnya Miranda tidak mau karena Miranda berpikir obat perangsang itu efeknya mirip seorang yang memperkosa. Dia tidak mau nanti Rizal berlaku kasar. Tapi kata Violin, obat perangsang yang ini beda dengan biasanya. Orang yang meminum obat ini masih sadar dan bersikap normal, hanya saja perasaan ingin bercinta menggebu. Nanti tugas Miranda yang memancingnya. Miranda bertekad, kali ini dia harus bisa melakulannya.


Setelah berhasil menghubungi nomer tersebut, Miranda memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan bergagas dia beranjak karena seseorang yan tadi dia hubungi minta bertemu di suatu tempat.


"Maaf, Non. Saya ketiduran." ucap Rizal begitu dia keluar menuju mobil, Miranda sudah ada disana menunggunya. Sebelumnya Miranda memang menyuruh karyawan butik untuk memanggil Rizal dan dia menunggu di tempat parkir mobil.


Mereka berdua bergegas masuk. Rizal kaget saat Miranda tiba tiba duduk disebelahnya, bukan di belakang.


"Kenapa duduk di depan, Non?" tanya Rizal antara kaget san canggung.


"Pengin aja, Zal. Biar bisa akrab sama kamu. Nggak ada batasan antara supir dan majikan." Mendengar jawaban Miranda, Rizal pun pasrah tak berani protes kembali. Tak lama kemudian mobil pun melaju menembus jalan raya.


"Kita ke suatu tempat dulu ya, Zal? Aku harus menemui seseorang." pinta Miranda.


"Siap, Non."


Mata Rizal kembali melirik bagian bawah kursi sebelah. Entah sadar atau tidak kedua kaki Miranda sedikit membentang dengan rok mini yang terangkat ke atas menuju pinggang. Rizal menelan salivanya memandang sesuatu yang putih mulus disebelahnya. Dada Rizal berdegup kencang. Dia segera berpaling dan fokus menatap arah depan ketika melihat Miranda bergerak.


"Bentar lagi sampai, Zal. jalan perlahan aja." titah Miranda.


"Baik, Nona."


Dan kini mereka telah sampai di tempat tujuan. Miranda meminta Rizal menunggu sebentar. Kalaupun Rizal ikut bisa gagal rencananya. Karena Miranda ke tempat semacam caffe tersebut untuk menemui orang yang menjual obat perangsang yang akan dia gunakan untuk membuat sejarah baru dalam hidup Miranda. Terkesan jahat memang, memanfaatkan kepolosan Rizal, namun Miranda meyakini diri sendiri kalau ini untuk kebaikan Rizal juga.


Dari dalam mobil Rizal melihat Miranda berbicara dengan seorang laki laki, namun beruntungnya Rizal tidak melihat transaksi yang terjadi diantara mereka. Rizal berpikir itu adalah teman majikannya.


Benar apa yang diucapkan Miranda, mereka memang tidak lama. Terlihat pria itu pergi terlebih dahulu kemudian Miranda berikutnya.


"Sudah, Non?" tanya Rizal begitu Miranda masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.


"Sudah, sekarang kita pulang ya?"


"baik."


Dan kembali, mobil melaju menembus jalan. Sepanjang perjalanan hati Miranda terus berdebar membayangkan rencana gila unruk supirnya.


"Semoga, kamu tidak marah dengan apa yang aku lakukan ya, Zal?" harap Miranda dalam hati.


...@@@@@@...