
Hari yang penuh kejutan. itulah yang Iqbal rasakan saat ini. Hari dimana dia tidak pernah terbesit dalam pemikirannya mendapatkan sesuatu yang diluar dugaan dari tiga saudara sekaligus.
Dua kali merasakan perang bibir dengan orang yang sama dan dua kali pula dia harus melihat benda istimewa milik dua wanita yang berbeda sungguh menguji jiwa lelakinya. Entah itu sengaja atau tidak, tapi sebagai laki laki, Iqbal menikmatinya walau hanya sebatas memandang.
Setelah puas bermain solo di toilet, Iqbal kembali beranjak ke kamar dan ternyata Aleta sudah tidak ada di kamarnya. Iqbal segera mengunci pintu, melepas celana dan boxernya kemudian dia berbaring. Pikiran Iqbal terus membayangkan dua benda indah dan dua kali perang bibir hingga rasa ngantuk menghampirinya. Tak lama kemudian Iqbal terlelap dalam kondisi hanya memakai kaos saja.
Pagi kini kembali, manyapa jiwa jiwa yang baru bangun dan hendak mewujudkan mimpi. Seperti biasa, kegiatan Iqbal di pagi hari adalah membantu Mbak Inah. Apa yang bisa Iqbal lakukan, dia lakukan dengan baik.
Rasa damai juga menghinggapi perempuan cantik bernama Karin. Dia tidak menyangka dengan beraninya dia mencium sang supir, bahkan perang bibir kedua terjadi lebih parah dan panas. Dengan tak tahu malu, Karin memaksa duduk dipangkuan demi bisa kembali merasakan bibir manis supirnya.
Yang membuat Karin semakin senang adalah Karin meyakini kalau perang bibir yang Iqbal lakukan semalam bersamanya adalah perang bibir pertama Iqbal. Alasan Karin berpikiran seperti itu memang tidak salah. Karin sendiri merasakan ketika pertama bibir mereka menempel, Iqbal diam tak seperti orang bingung. Meski hanya sebentar, diamnya Iqbal menandakan kalau sang supir memang belum berpengalaman.
Dengan berdendang lagu dari negera luar, Karin beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap siap menjalankan harinya.
Sementara itu, di kamar lain, Belinda dan Aleta masih memikirkan cara untuk menjerat Iqbal. Hanya karena badan Iqbal mempesona, mereka jadi terobsesi pada supir adiknya. Setelah beberapa bulan tidak mendapat sentuhan laki laki, tentu saja hidup mereka merasa masih ada yang kurang. Dan mereka ingin melampiaskannya kepada Iqbal.
Waktu terus berlalu. Kini keluarga Tuan Martin sedang menikmati hidangan yang telah tersedia di meja makan. Mereka menikmati sarapannya tanpa ada keributan seperti biasa.
"Rin, apa kamu masih sering kerja kelompok?" tanya Martin kepada anak bungsunya.
"Masih," jawab Karin singkat dan dingin. Bahkan dia tidak menoleh ke arah orang tuanya.
"Apa nggak sebaiknya kamu nggak ikut belajar kelompok, Rin?" seketika Karin menghentikan sarapannya. Sendok berisi makanan pun berhenti di tengah jalan.
Karin langsung berpaling, menatap tajam kedua orang tuanya. "Kenapa nggak kalian batasi saja usiaku sekalian?"
"Rin, maksud Papih ... "
"Iya Aku tahu!" teriak Karin dengan penuh, "Dengan dalih untuk kebaikan aku, hidupku harus di atur. Aku dilarang bergerak sesuai keinginanku. Itu kan maksud kalian?"
"Bukan begitu Karin," sanggah Mamih.
"Karin! Jangan teriak teriak seperti itu! Nggak sopan kamu," sungut Martin.
Sementara dua kakak Karin tetap menikmati sarapannya dengan tenang. Mereka sangat menikmari perdebatan yang terjadi diantara mereka.
"Jangan salahkan aku, jika aku akhirnya melakukan apa yang Mamih dan Papih pikirkan tentang aku." Ucap Karin dan dia segera saja menyambar tasnya dan segera beranjak meninggalkan meja makan dengan penuh rasa kecewa dan amarah yang berkecamuk.
"Udah sih, Pih. Biarin aja. Orang udah ketahuan belangnya juga, kenapa papih malah membatasi? Bisa saja lama kelamaan Karin makin parah loh, Pih," ucap Belinda mengompori papihnya.
Sementara Martin memilih diam. Dia tak berniat menimpali ucapan Belinda.
Karin masuk ke dalam mobil dengan wajah yang tidak bersahabat. Iqbal yang melihatnya pun heran. Iqbal dari tadi memang menunggu Karin di pos penjagaan, jadi dia tidak mendengar pertengkaran Karin dengan orang tuanya. Tanpa banyak tanya, Iqbal segera melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, tidak ada suara keluar diantara keduanya. Iqbal pun bingung dengan sikap Karin yang mendadak diam. Padahal kemarin Karin masih bersikap hangat. Bahkan Karin mengajak perang bibir. Tapi detik ini Karin diam seribu bahasa membuat Iqbal bingung dengan segala pemikirannya.
"Bal, tolong menepi sebentar," titah Karin tiba tiba. Iqbal pun kaget dan dia menurutinya. Mobil menepi dan berhenti.
"Sudah, Non." ucap Iqbal sambil melirik wanita yang duduk di sebelahnya. Dan hanya diam yang Iqbal dapatkan.
Namun beberapa saat kemudian, iqbal dibuat terkejut. Karin tiba tiba bergerak dan memaksa duduk dipangkuan Iqbal.
"Non Karin?"
Karin bukannya menjawab, tapi dia menangkup kedua pipi Iqbal dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Iqbal.
Cup!
...@@@@@...