TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 135


Saat ini Tomi masih setia duduk bersama dengan tiga pemuda dari desa yang memiliki ketampanan di atas rata rata. Tomi seakan melupakan teman prianya yang berada kini sedang berada di toilet.


Hingga saat mereka sedang asyik tertawa tiba tiba mereka dikejutkan dengan suara seseorang.


"Mas Tomi! Aku cariin kemana mana kok tahunya disini?" ucap seorang pria dari arah toilet. Mereka berempat pun menoleh.


Deg!


"Rio!"


Jamal!"


Pekik kedua orang itu masing masing dalam hati.


"Sini,Rio. Gabung," ajak Tomi.


Tentu saja Jamal kaget dan tumbuh tanda tanya dalam benaknya, apa hubungannya Rio dengan Tomi? Masih teringat jelas dipikiran Jamal, terakhir ketemu Rio saat di ruang pengadilan beberapa waktu yang lalu. Dan setelah itu dia tidak pernah melihat Rio lagi disekitaran kampus. Apa Rio dikeluarkan? gumam Jamal dalam hati.


Begitu juga Rio. Benaknya penuh tanda tanya. Kenapa ada Jamal? Apa Jamal dekat dengan Tomi? Bisa bahaya ini? Rio pun bergumam dalam hati.


Rizal yang melihat Tomi dengan seorang pemuda hanya bisa menggelengkan kepala. Rizal berpikir mungkin pria itu kekasih Tomi yang baru. Kalau Miranda tahu, pasti heboh.


"Mereka siapa, Mas?" tanya Rio, begitu duduk disisi Tomi. Matanya menatap tajam ke arah Jamal. Jamal pun tak gentar, dia membalas tatapan Rio dengan sorotan menantang.


"Ini teman teman supirnya istriku, ini Rizal, supir istriku dan itu dua temannya," jelas Tomi. Rio hanya manggut manggut.


"Dia siapa, Tuan?" tanya Rizal.


"Dia, Rio," jawab Tomi singkat.


"Kerja di kantor Tuan Tomi juga?" tanya Jamal sambil melirik Rio yang semakin menatap penuh benci ke arahnya.


"Tidak, dia masih kuliah, cuma dia kena kasus, difitnah sama kekasih dan selingkuhannya, dia kena skorsing satu bulan," sontak saja Jamal tercengang mendengar jawaban Tomi. Kekasih yang mana? Apa ini ada hubungannya dengan kasus penyerangan yang dia lakukan?


"Pacarnya selingkuh terus dia dipukuli gitu, eh malah dia yang dapat hukuman. Nggak adil banget. Orang dia tidak salah," ucap Tomi nampak sedikit emosi di wajahnya.


Jamal yang tahu fakta sebenarnya pun merasa geram, bisa bisanya Rio memutar balikkan fakta begitu. Tapi yang jadi pertanyaan Jamal, ada hubungan apa Rio dengan Tomi? Apa mungkin Rio adiknya Tomi? Kalau emang iya, berarti Rio anak orang kaya? Atau jangan jangan Rio belok juga dan ada hubungan khusus dengan Tomi? Wah, parah kalau gitu. cewek doyan, cowok juga doyan.


"Emang Tuan Tomi kenal Rio dimana?" Jamal terus yang melempar pertanyaan. Sedangkan Iqbal dan Rizal hanya menjadi pendengar yang baik. Rio juga tak berani bersuara. Hanya wajah garang yang dia perlihatkan. Rio berpikir Jamal tak tahu sisi lain dari Tomi jadi dia merasa aman.


"Kenal di sebuh club. Dia lagi mabuk parah saat itu dan aku tolongin dia," jawab Tomi. Tentu saja Tomi tidak menceritakan semuanya. Karena sebenarnya Tomi bukan hanya menolong Rio mabuk, tapi juga melakukan sesuatu pada Rio hingga sekarang Rio jadi dekat dengan Tomi. Dan pastinya ada iming iming uang yang fantastis membuat Rio mau memenuhi keinginan Tomi.


Mungkin dalam pikiran Rio, tak masalah dengan siapapun saat ini dia dekat, yang penting dia selalu tidak kekurangan uang dan bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan. Sejak menjadi simpanan Sandra saja, Rio dapat uang banyak dan bisa tinggal di apartemen. Apa lagi sekarang di tambah dengan uang dari Tomi, sang pengusaha sukses.


Mendengar penjelasan Tomi, Jamal hanya manggut manggut. Dia menyunggingkan senyum sekilas. Tak habis pikir dengan apa yang Rio lakukan.


"Ayo, Mas kita pergi, ngapain masih disini," ajak Rio yang sudah merasa jengah. Apa lagi tatapan Jamal seperti tatapan mengintimadasi.


"Baiklah," balas Tomi. "Ya udah Rizal dan kalian berdua, saya permisi dulu yah? Kita masih mau berkeliling, soalnya kita baru datang,."


"Oh iya, Tuan, silahkan," jawab Rizal.


Tomi mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu nama. "Kalau kalian minat kerja di tempat saya, hubungi saja saya di sini."


Jamal dan Iqbal menerima kartu nama yang Tomi sodorkan. Setelah itu, Tomi pun undur diri dan segera beranjak karena Rio yang memaksa.


"Kalian yakin mau berkerja di kantor Tuan Tomi?" tanya Rizal selepas Tomi pergi.


"Yakinlah, biar masa depan lebih cerah dan pastinya akan terlihat semakin keren kalau kerja kantoran," balas Iqbal. Rizal menyeringai sembari menatap kedua sahabatbya.


"Sayangnya itu hanya akal bulus Tuan Tomi saja agar kalian bisa jadi teman ranjangnya."


"Apa!"


...@@@@@@...