TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 148


Hari pun kini berganti. Ketiga pemuda kembali melakukan tugasnya di tempat kerjanya masing masing. Kalau diperhatikan dari ketiga pemuda yang terdiri dari Jamal, Rizal dan Iqbal, hanya Rizal yang dibisa dikatakan bekerja. Sedangkan Jamal dan Iqbal, bagaimana bisa dikatakan bekerja kalau bangun tidur hingga tidur lagi berdua dengan wanita yang dijaganya.


Terlihat di tempat kerja masing masing, Iqbal maupun Jamal masih tidur satu ranjang wanitanya masing masing. Tentunya Jamal di apartemen dan Iqbal di kamar kosan. Sedangkan Rizal sudah bersenandung sembari mencuci mobil yang kemarin dia gunakan untuk piknik.


Setelah mencuci mobil beres, baru Rizal bisa santai sambil menikmati sarapannya bersama Mbak Sari di belakang rumah. Sedangkan di meja makan, Tomi juga sedang menikmati sarapan dengan Miranda.


"Si Linda nggak kamu suruh nginep disini lagi, Tom?" tanya Miranda basa basi buat memecah keheningan.


"Enggak, dia lagi banyak tugas yang lainnya. Kenapa? Kamu pengin dia tinggal disini?" ucap Tomi sambil melempar pertanyaan.


"Ya nggak juga. Lagian ngapain nambah orang kalau Sari dan Rizal saja cukup," jawab Miranda kemudian dia kembali memasukan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


"Apa kamu takut gerak gerik kamu sama Rizal ketahuan?" Miranda sontak menghentikan gerakan tangannya. Dia melirik tajam ke arah Tomi yang terlihat tajam.


"Maksud kamu apa sih, Tom? Dari semalam kamu tuh aneh banget, sejak habis piknik?" tanya Miranda heran, meskipun dia tahu maksud dibalik pertanyaan yang Tomi lontarkan.


Miranda merasa Tomi mulai mencurigai kalau dia dengan Rizal ada hubungan di belakang mereka. Dan kecurigaan Miranda nyatanya benar adanya. Sejak Tomi berbicara dengan Rio dan mendengar apa yang Rio alami, besar kemungkinan kalau Miranda bisa saja selingkuh dengan Rizal.


"Nggak, nggak ada maksud apa apa?" kilah Tomi santai tapi cukup membuat Miranda emosi.


"Kamu mencurigai aku selingkuh sama Rizal? Kenapa? Apa gara gara Rizal susah di ajak tidur sama kamu?"


Sontak saja kini gantian Tomi yang mendadak terbungkam mendengar tuduhan Miranda. Meski apa yang diucapkan Miranda benar adanya tapi Tomi tidak mau mengakuinya.


"Jangan asal nuduh," sanggah Tomi.


"Asal nuduh gimana? Kenyataannya benar kan? Cuma Rizal, supir yang susah kamu taklukan meski dengan iming iming pekerjaan."


"CUKUP!" bentak Tomi.


Semua yang mendengar suara lantang Miranda tentu saja kaget. Terutama Tomi. Selama pernikahan mereka, tidak pernah sekalipun mereka bersitegang seperti ini. Dan hal itu terjadi hanya gara gara soal supir.


"Selama ini aku diam karena aku masih menghargai kamu, Tom. Aku tidak pernah mempermasalahkan kamu dekat dengan siapa saja hanya demi memenuhi jalan sesat kamu. Tapi kenapa sejak Rizal tidak bisa kamu taklukan, kenapa kamu mencurigaiku? Hah!"


Selera makan semua yang ada disana langsung menghilang begitu saja. Miranda menatap tajam Tomi dengan dada yang sungguh bergemuruh.


"Bukan begitu maksud aku, Mir," cicit Tomi agak terbata.


"Sudahlah, terserah kamu, mending aku bersiap siap. Sebelum kamu menuduh orang lain, pikir dulu, perbuatanmu sudah benar apa belum?" ucap Miranda tajam kemudian dia bergegas pergi meninggalkan Tomi yang terbungkam sembari mencerna ucapan istrinya.


Hingga tak terasa, waktu terus beranjak menuju siang. Terlihat di sebuah Mall sepasang manusia beda usia nampak sekali sedang berjalan bergandengan layaknya kekasih. Tapi pada kenyataannya mereka memang sepasang kekasih. Dia lah Rio dan Sandra. Meski Rio juga menjalin hubungan dengan Tomi tapi pemuda itu juga tidak ingin melepas tambang uang lainnya.


"Ri, nanti kamu pulang sendiri yah? Abisnya aku ada urusan dengan rekan bisnis sebentar lagi," ucap Sandra manja.


"Oke tanteku, sayang. Yang penting bisnis tante lancar maka aku ikut seneng. Kan kalau rejeki tante mengalir deras, atm aku juga mengalir deras juga," ucap Rio tanpa rasa malu menggengam jemari Sandra.


"Ya udah, tante pamit ya? Kamu jangan nakal, awas loh."


"Siap, sayang."


Rio pun tersenyum manis melepas kepergian tambang uangnya. Setelah Sandra tak kelihatan, Rio berbalik badan menyusuri Mall sebelum memutuskan balik.


Memiliki dua tambang uang tentu saja membuat hidup Rio terasa sempurna dan bahagia. Dia bebas mau apa saja karena hampir tiap hari ada saja sejumlah uang yang masuk baik dari Tomi maupun Sandra. Tentu saja, Rio merahasiakan mereka satu sama lain.


Saat mata Rio sedang memandang kesekitar, tiba tiba matanya menangkap seseorang yang sedang berdiri di depan stand minuman. Rio mengatami orang tersebut karena merasa pernah melihatnya. Hingga beberapa saat Rio berpikir, matanya tiba tiba berbinar.


"Nah aku ingat, mending aku deketin, siapa tahu bermanfaat."