TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 42 (Iqbal)


"Siapa yang pertama kali berhasil ngajak Iqbal main, berarti dia yang berhak bersama Iqbal, gimana?" tantang Belinda kepada sang adik.


"Hah! Yang benar saja?" tanya Aleta terperangah.


"Berani nggak? Jangan sok suci deh, Kamu juga mau sama Iqbal karena pengin merasakannya kan, Let?" tebak Belinda. Namun Aleta terdiam dengan arah pandang matanya berpindah ke sisi kamar yang lain. Dia tidak berani menatap Belinda karena sudah jelas niatnya akan ketebak.


Belinda menyeringai. Dia tahu sang adik menginginkan hal yang sama tapi mencoba menutupinya. Wanita yang sedang bersila kaki sambil memangku bantal itu menatap sang adik dengan tatapan meremehkan.


Dalam hati Aleta bergumam, bagaimana bisa dia bersaing dengan sang kakak? Sudah pasti dia akan kalah. Apalagi main dengan lelaki. Mantan mantan Aleta saja banyak yang bertekuk lutut dengan pesona sang kakak.


Bukan hal yang patut dibanggakan sebenarnya, tapi bagi laki laki buaya pasti percaya, pesona Belinda memang sangat luar biasa. Bahkan keindahan yang tersembunyi milik Belinda konon katanya nikmat tak terkira.


Aleta juga ragu dapat menang dari Belinda karena dia juga tak sepintar kakaknya dalam menaklukkan pria pria tampan incarannya. Ditambah pengalaman Aleta yang belum lama mengenal hubungan dewasa membuat keraguan Aleta semakin dalam. Aleta pertama kali melakukan hubungan dengan pria diusia dua puluh satu sedangkan Belinda pas usia delapan belas. Sangat fantasis bukan perbedaannya?


"Gimana adikku sayang? Kamu berani?" tanya Belinda meremehkan.


"Tapi kan ada Karin juga, Bel? Bagaimana caranya mengatasi itu anak?" tanya Aleta. Kali ini dia memberanikan diri menatap sang kakak.


"Nggak perlu dipikirkan, yang penting kita harus bikin Iqbal ada di pihak kita. Salah sendiri, Karin nggak mau membantu kita. Udah tahu kita disini tidak ada teman akrab." ucap Belinda.


Salah satu alasan mereka tidak cocok dengan sang adik adalah karena Karin yang enggan dipengaruhi hal buruk seperti main ke klub. Karin sih tidak pernah keberatan mengenalkan kedua kakaknya dengan teman temannya. Namun kakaknya malah meminta dikenalkan kepada laki laki yang kelihatan mapan. Tentu saja Karin tidak memiliki kenalan laki laki seperti itu. Kebanyakan temannya anak kuliahan, paling tinggi kakak seniornya. Alasan itu juga yang menjadi salah satu alasan Karin dibenci kedua kakaknya.


Sementara di tempat lain, Iqbal terperangah saat matanya menatap bangunan di hadapannya. Dia tidak menyangka, Karin akan membawanya ke tempat yang terkenal hanya untuk wanita saja.


"Ayo masuk?" ajak Karin sambil melangkah terlebih dahulu. Namun Iqbal tetap terdiam di tempatnya tanpa ada niat untuk bergerak. Dia tidak pernah bermimpi sekalipun datang ke tempat khusus wanita ini.


Karin yang menyadari Iqbal tidak mengikutinya seketika berbalik badan. "Iqbal, ayo!"


Karin pun mendengus kemudian dia mendekat ke arah Iqbal dan segera dia menarik tangan sang supir.


"Orang mau dibikin ganteng kok nggak mau," sungut Karin.


"Malu, Non. Pasti di dalam banyak cewek." kilah Iqbal.


"Katanya udah biasa jadi rebutan?" balas Karin tanpa mau melepas tangan supirnya. Iqbal terbungkam, dia akhirnya pasrah masuk ke dalam salon.


Begitu telapak kakinya menginjak lantai dalam salon, Iqbal terperangah seketika. Ternyata dalam salon tersebut tidak hanya ada wanita, namun juga ada laki laki. Bahkan disana ada laki laki yang rambutnya sedang dirapikan oleh seorang pria.


"Kenapa bengong? Ayo duduk," ajak Karin setelah melakukan pendaftaran. Mereka duduk dikursi tunggu barisan belakang.


Karin sengaja membawa Iqbal ke salon sesuai saran teman agar sang supir terlihat lebih rapi. Meski tampan, penampilan Iqbal memang kurang rapi. Di tambah pakaian yang lusuh, menambah penampilan Iqbal kurang sedap dipandang. Karin sih maklum. Mungkin, Iqbal terlihat lusuh pastinya karena keadaan yang menyebabkannya. Maka itu dia ingin membantu sedikit merubah penampilan Iqbal.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kini giliran Iqbal. Dengan malas dan pasrah, dia menuruti perintah majikannya. Bahkan model rambut pun Karin yang memilihnya.


Setelah siap, tibalah saatnya Iqbal diubah penampilannya. Dengan telaten pria bertubuh kekar dengan kedua tangan nampak tertutup tato itu memamerkan keahliannya. Dengan sangat cekatan dan perhitungan yang tepat, rambut Iqbal dirapikan dengan gaya yang terlihat lebih keren.


Beberapa menit kemudian, setelah melakukan berbagai proses, selesei juga acara merapikan rambut. Karin yang melihat penampilan Iqbal yang berbeda, seketika matanya berbinar. Bahkan matanya nyaris tak berkedip. Dadanya pun turut berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Iqbal! Kamu tampan banget!" pekiknya


...@@@@...


Hai gens, apa kabar? baik semua pastikan? othor cuma mau ngasih tahu, kisah ini sengaja ganti judul karena suatu hal. Sebenarnya berat, tapi mau gimana lagi. Judul aja sampai pengaruh. maaf ya gengsk. dan othor juga ucapkan terima kasih banyak atas dukungan kalian, semoga kalian tidak letih memberi dukungan. Terima kasih banyak