TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 273 (Jamal)


Waktu berlalu dengan cepatnya. Tak terasa hari yang ditunggu Selin dan Jamal pun telah tiba. Kini Jamal dan keluarga sedang berada dalam perjalanan menuju kediaman Selin. Tidak banyak keluarga yang ikut, mengingat jarak yang jauh dan juga kesibukan masing masing keluarga besar. Hanya ada keluarga inti Jamal dan seorang Pakde. Keluarga yang lain tidak bisa ikut tapi doa restu terucap untuk kebahagiaan Jamal dan pasangan.


Jamal berangkat ke kota dengan menyewa mobil di tempat biasa. Dia menyewa mobil bukan karena ingin terlihat kaya, tapi agar tidak terlihat repot saja. Karena jika menggunakan kendaraan umum, itu akan sangat merepotkan.


Sementara di kediaman Gustavo, Selin juga sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan keluarga Jamal. Meski hanya melibatkan Mbok Sum dan beberapa wanita dari para pekerja di kantor Gustavo, tapi bagi Selin itu sudah cukup. Apalagi Gustavo juga tidak mengundang keluarga besarnya. Sengaja Gustavo tidak mengundang mereka karena Gustavo tidak mau ada cibiran dan perdebatan dengan keluarganya. Gustavo tidak mau merusak kebahagiaan putrinya dengan menghadirkan keluarga besar yang jelas jelas tidak menyukai anaknya.


Hingga beberapa jam kemudian, akhirnya Jamal sampai di kediaman Tuan Gustavo. Semuanya nampak takjub dengan rumah besar yang ada dihadapan mereka kecuali Jamal.


"Wuihh, mantap! Gede banget rumahnya!" seru Akmal penuh kekaguman. Mereka segera turun dari mobil.


Di depan pintu utama, Gustavo menyambut kedatangan keluarga Jamal dengan ramah. Ada juga asisten pribadi yang turut serta dalam penyambutan. Orang tua Jamal malah merasa canggung dan malu juga kagum. Meski Gustavo orang kaya, tapi dia menyambut kedatangan tamunya dengan baik. Bahkan sampai semuanya menempati tempat duduk, keramahan Gustavo tidak kunjung surut.


"Silakan, dinikmati hidangannya," ucap Gustavo.


"Iya terima kasih," jawab Bapak canggung. "Sebelumnya kami minta maaf."


"Minta maaf?" tanya Gustavo dengan kening berkerut.


"Iya, sebelumnya kami minta maaf, atas perbuatan anak kami yang telah merusak kepercayaan Bapak. Jujur kami sebagai orang tua malu. Kami tidak menyangka jika anak saya bisa berbuat diluar batas," ucap Bapak penuh sesal. Bahkan Bapak mengatakan itu semua dengan kepala menunduk guna menyembunyikan rasa malu.


Gustavo lantas mengulum senyum. "Bukan hanya anak Bapak yang salah. Anak saya juga salah. Kalau bukan anak saya yang memulai, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Saya juga sangat menyesalkan perbuatan Jamal, harusnya dia bisa mencegah agar kejadianya tidak terulang lagi. Tapi sayang, Jamal malah larut ke dalamnya."


"Maafkan kami, bahkan menghadap Bapak Gustavo seperti ini saja, kami malu. Kami seperti tidak punya muka."


"Sudah, sudah ... saya sudah memaafkan Jamal. Dengan dia tanggung jawab, itu sudah cukup bagi saya. seorang anak berbuat salah itu wajar, kita sebagai orang tua, wajib meluruskan dengan nasehat agar sang anak mau bertanggung jawab atas kesalahannya dan berusaha untuk memperbaiki diri. Beruntung anak anak kita anak yang penurut dan bertanggung jawab."


Semua yang ada disana membenarkan ucapan Gustavo. Sungguh Jamal dan keluarga sangat kagum dengan kebesaran hati pria itu. Padahal Gustavo orang kaya, tapi tidak terbesit sedikitpun hinaan atau amarah keluar dari mulutnya. Yang ada hanya sikap ramah dan santun juga bijak.


Jamal terkesima dengan penampilan wanita yang dia rindukan. Baru kali ini Jamal melihat Selin nampak beda dengan make up nya. Lebih terlhat anggun dan cantik. Mereka berdua saling curi pandang dan melempar senyum.


"Baiklah, berhubung anak saya juga sudah ada disini, bagaimana kalau kita langsung saja ke dalam acara inti kita?" usul Gustavo dan semua nampak setuju.


Akhirnya acara lamaran pun berjalan dengan lancar. Hubungan Jamal dan Selin kini setingkat lebih maju. Setelah pemasangan cincin selesai, para orang tua langsung membahas rencana pernikahan anak anak mereka.


Setelah saling usul dan saling berdebat sedikit dalam musyarawah, acara pernikahan akan digelar dalam waktu dua bulan kedepan. Acara pernikahan juga akan digelar di dua tempat yaitu di kota dan di kampung Jamal sekalian ijab sah.


Kini wajah wajah tegang dari semau orang ada, berubah menjadi wajah ceria penuh kebahagian. Terutama wajah dua anak manusia yang saat ini memilih duduk terpisah di taman belakang.


"Bagaimana perasaan Non Selin saat ini?"


"Masa sama calon istri manggilnya masih Non sih, Mas?"


"Mas?" ucap Jamal dengan hati malayang.


"Iyalah, aku akan manggil kamu, Mas bukan Mal."


"Baiklah,baiklah," jawab Jamal sambil cengengesan. "Aku juga akan memanggil kamu Sayang, gimana?"


Selin mengangguk cepat dan keduanya saling tertawa.


...@@@@@...