TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 109 (Rizal)


Matahari belum terlalu tinggi, panasnya juga masih terasa hangat menyentuh kulit. Di sana, di sebuah Villa mewah berpagar keliling tinggi, di dekat sebuah kolam renang, seorang pria sedang menggerakan pinggangnya maju mundur di belakang tubuh wanita yang sedang dalam posisi merangkak di atas kursi malas. Keringat mereka bercucuran dan suara rintihan kenikmatan mereka saling bersahutan dengan laju hujaman benda menegang si pria ke dalam lembah nikmat si wanita.


Beberapa saat kemudian hentakan pinggang si pria dipercepat dan tak lama tubuhnya bergetar hebat dan lengkingan suara penuh rasa lega saat benda miliknya menyembur air putih kental di dalam lembah nikmat si wanita.


Setelah itu, si pria terdiam dengan benda yang masih berada di dalam lembah nikmat si wanita. Nafas keduanya terdengar menderu. Setelah merasa tuntas, si pria melepas benda miliknya mengambil alih kursi malas dan merebahkan badannya di sana. Sedangkankan si wanita, turut serta berbaring di atasnya.


"Capek, Zal?" tanya Miranda sambil mengusap keringat di dada Rizal.


"Capek, Non, Tapi nikmat," balas Rizal sumringah. "Sayangnya, besok kalau udah balik, nggak bisa kayak gini lagi ya, Non?"


"Nggak bisa kayak gini, gimana?" tanya Miranda tanpa menghentikan gerakan tangannya.


"Nggak bebas kayak di sini, Non. Kalau di sini, kita bebas main kapan saja dan dimana aja. kita juga bebas nggak pakai baju seharian."


Miranda mengulas senyum mendengar keluhan pria yang sudah dua hari ini memuaskan dirinya.


"Emang kamu suka kalau kita seharian nggak pake baju?"


"Suka lah, Non. Apalagi memandang tubuh Non Miranda tanpa baju. Betah, Non."


Lagi-lagi Miranda hanya mengulas senyum mendengar Rizal berceloteh. Dia juga sebenarnya berat kembali ke kota. Disini dia bisa sesuka hati bermain dengan Rizal. Bahkan ini sudah dua kalinya dia main di luar rumah. Ternyata main di luar rumah, sensasinya beda banget.


Sebenarnya Miranda bisa mengulur waktu kepulangan dan bisa lebih lama berada di Bali dengan Rizal. Namun dia juga punya tanggung jawab dengan pekerjaannya. Jangan sampai karena terlalu bahagia bisa merasakan nafkah bathin, Miranda sampa lalai dengan sumber penghasilannya.


"Ya sudah, mumpung masih disini, puas puasin aja menikmati tubuhku, Zal. Toh aku nggak keberatan," balas Miranda yang masih menenggelamkan kepalanya di dada bidang pria itu.


"Non, jujur yah, sampai sekarang aku tuh heran, kenapa Non Miran masih rapet gitu? Padahal kan menikah udah lama?"


Lagi-lagi Miranda mengulas senyum. Mungkin siapapun juga tidak akan percaya dengan apa yang terjadi dengan wanita itu. Cantik, sukses dan menggairahkan. Tapi kenapa Tomi tidak ada minat menyentuhnya? Disaat banyak pria yang membayangkan nakal kepada istrinya.


"Non Miran pernah nggak sih? Menggoda Tuan Tomi gitu?"


"Ya sering lah, Zal. Aku tiap malam pake lingerie kan untuk menggodanya. Aku bahkan pernah loh beberapa kali ngasih dia obat perangsang, tapi nggak mempan. Dia malah bayanginnya laki laki bukan wanita," terang Miranda dan Rizal semakin tertegun saat mendengar kenyataan yang Miranda jalani.


"Aneh ya, Non."


"Ya begitu lah, Zal."


"Tapi sekarang Non bahagia nggak sudah mendapat nafkah batin, ya meski dapatnya dari supir?"


Miranda tidak langsung menjawab. Dia mendongak dan mendekati wajah Rizal terus mencium pipi dengan segenap perasaannya.


"Bahagi lah, Zal. Bahagia banget, sudah lama aku ingin seperti ini, Zal. Berbagi kehangatan, berbagi keringat dengan pria. Aku nggak peduli kamu supir atau apa, Zal. Yang pasti aku bahagia bisa merasakan nikmatnya lelaki karena kamu."


"Kenapa dulu Non nggak kepikiran dengan pria lain? Tiga tahun lumayan lama loh?"


"Dulu masih takut lah, Zal. Tapi sejak ada kamu, aku menemukan kenyamanan. Aku pikir kamu nggak akan mau,Zal?"


"Aku juga sebenarnya kemarin takut, Non. Apalagi saat aku tahu mahkota Non masih utuh, aku takut banget. Tapi melihat Non Miran pasrah dan menikmati, ya udah aku lanjut aja. Eh malah jadi ketagihan sekarang. Non Miran enak banget sih."


Miranda kembali mencium pipi Rizal dan pria itu hanya diam saja. Dia juga senang diperlakukan seperti itu.


"Ya udah, mumpung masih disini, kamu puas puasin aja menikmati tubuhku, Zal. Nanti jika kembali, tiap akhir pekan kita keluar kota deh, biar kita bisa bebas kayak gini."


"Beneran, Non?"


"Iya, Sayang."


"Wuih, mantap. Makasih ya, Non."


"Ya udah, kita masuk yuk, udah mulai panas ini udaranya."


"Yuk, Non. Tapi Bibir Non Miran sini dulu, aku pengin cium."


Miranda pun kembali mengupas senyum dan dia malayangkan bibirnya ke arah bibir Rizal dan perang bibir panas pun terjadi.


...@@@@@...