
Malam beranjak semakin larut. Meski jam di di dinding baru menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi entah kenapa suasana begitu terasa sangat sepi. Terutama di kediaman Tuan Martin. Tiap selesai jam makan malam, rumah itu seketika nampak seperti rumah tak berpenghuni. Martin dan Amanda sudah lelah dengan pekerjaannya. Aleta dan Belinda kabarnya hari ini ikut Mamih membantu di restorannya. Jadi kemungkinan malam ini mereka juga sudah tidur karena capek. Mbak Inah dan supir yang lain berada di kamarnya masing masing dan kemungkinan mereka juga terlelap. Yang matanya masih melek di rumah itu hanya Iqbal dan Karin di kamar yang sama.
Mata Iqbal fokus menatap layar ponsel. Jari jarinya sibuk membalas pesan yang masuk karena nomer miliknya sudah lama tidak aktif. Begitu nomer telfonnya aktif, pesan masuk berdatangan lumayan banyak. Sedangkan dibelakangnya Karin masih setia menemani Iqbal. Tangan Karin juga masih setia berada di dalam kolor Iqbal, memainkan senjata Iqbal yang mulai menegang. Karena lama menunggu Iqbal bereaksi, Karin sedikit merasa jengah.
"Lagi ngapain sih? Lama banget," rengek Karin dari belakang.
"Lagi bales pesan masuk, Non. Nih yang chat banyak banget," tunjuk Iqbal dan Karin pun melirik ke layar ponsel baru Iqbal. Wajahnya cemberut tapi Iqbal kurang peka.
"Ada dari cewek nggak?" tanya Karin.
"Ada, kakakku, nih," balas Iqbal.
"Kakak kamu perempuan?" dan Iqbal mengiyakan.
"Cewek yang lain ada nggak?" tanya Karin penasaran.
"Ngak ada, tuh!" tunjuk iqbal dan nyatanya dia jujur. Tidak ada pesan masuk satupun dari wanita.
Setelah itu Iqbal kembali asyik berbalas chat. Terutama dengan kedua sahabatnya yang sudah lama tak berkirim pesan. Karin hanya bisa mendengus sebal karena merasa diabaikan.
Semakin lama, Karin semakin merasa tak betah berada disana. Dia yang sengaja datang ke kamar Iqbal ingin berbagi rasa dan memenuhi keinginan Iqbal, tapi kedatangannya malah seperti tak dianggap. Iqbal terlalu asyik chat dengan teman temannya dan mengabaikan keberadaan Selin yang telah menunggunya.
Karin pun merasa kecewa karena terlalu lama diabaikan. Akhirnya dia pun melepas pelukan tangannya dan ingin segera pergi karena dia merasa kehadirannya saat ini sedang tidak dibutuhkan oleh Iqbal.
"Aku pergi aja lah, disini aku sedang tidak dibutuhkan," ucap Karin tiba tiba. Dia pun segera beranjak.
Iqbal terkesiap. Dia segera meletakkan ponselnya dan ikutan beranjak mencegah Karin pergi.
"Mau kemana?" tanya Iqbal sambil mencekal tangan Karin.
"Kembali ke kamar," balas Karin tanpa menoleh.
"Nggak lah, Bal. Aku tahu malam ini aku sedang tidak dibutuhkan, mending aku balik ke kamar saja," balas Karin berusaha melepas genggaman tangan Iqbal.
"Bukan begitu, aku hanya ... "
"Kamu lanjutin saja sana main ponselnya, aku mau tidur," balas Karin memotong ucapan Iqbal sambil melepaskan tangannya. Setelah tangan terlepas, Karin segera saja pergi dengan rasa kecewa.
Iqbal menatap kepergian Karin dengan perasaan yang tak enak. Dia pun kembali duduk dan mengusap wajahnya merasa frustasi. Tapi beberapa saat kemudian dia berpikir kalau Karin paling marah hanya sebentar dan besok pasti sudah baikan lagi. Senyumnya tersungginng dan akhirnya Iqbal memutuskan kembali melanjutkan berkirim pesannya.
Waktu pun berlalu begitu cepat dan hari kini telah berganti lagi. Seperti biasa, di pagi hari dengan semangat Iqbal mengerjakan pekerjaan rumahnya membantu Mbak Inah. Hingga tak terasa waktu cepat banget berjalan dan pekerjaan selesai.
Awalnya semua nampak baik baik saja, Tuan Martin, istri dan kedua anaknya nampak sedang menikmati sarapannya. Cuma Karin yang tidak kelihatan. Akhir akhir ini, Karin memang sering makan sendirian dan menghindari berkumpul dengan keluarganya.
Hingga waktu berlalu, Iqbal merasa heran karena sudah hampir siang Karin tidak kunjung keluar dari kamar.
Saat Iqbal sedang duduk dengan penjaga rumah di pos penjagaan, Iqbal diberi tahu Mbak Inah disuruh masuk ke dalam katanya Tuan Martij memanggil. Iqbal pun segera saja beranjak menghadap Tuan Martin.
"Ada apa, Tuan? Katanya Tuan memanggil saya?" tanya Iqbal begitu sampai di hadapan Tuan Martin yang terlihat sedang kebingungan di bawah anak tangga.
"Kamu punya nomer ponsel Karin? Nomernya yang sekarang nggak aktif?" Iqbal tercengang mendengarkan pertanyaan Tuan Martin.
"Enggak, Tuan. Aku malah nggak punya nomer ponsel Non Karin satu pun," balas Iqbal dengan perasaan penuh tanya.
"Karin nggak ada, Bal. Dia kabur dari rumah."
"Apa!"
...@@@@@@...