
"Kalian nggak suka foto?" tanya Belinda dengan wajah penuh selidik Rizal dan Jamal saling pandang. Bukannya tidak suka, tapi takut ada yang salah paham.
"Paling mereka takut, pacar mereka tahu, Bel," Aleta yang menjawab dan itu memang benar. Mereka takut foto itu disalah gunakan oleh Belinda dan Aleta. Karena dari cerita Iqbal, mereka tahu kenapa Karin bisa sampai keluar rumah dan memilih kost.
"Hahaha .... takut sama pacar? Apa kalian baru kali ini pacaran?" tanya Belinda dengan suara tawa yang sumbang. "Apa sudah pasti mereka adalah jodoh kalian?"
Ketiga pemuda itu tetap diam meski pikiran mereka berjalan kemana mana. Belinda yang sedari tadi bergelayut manja, kini dia beranjak dan berpindah duduk diantara Jamal dan Rizal. Sedangkan Aleta tetap memlih bersandar di bahu Iqbal dengan tangan yang saling bertautan. Tepatnya Aleta yang memaksa mereka genggaman tangan.
"Kalian hanya foto bareng dengan cewek, itu aja rame rame, nggak berduaan, kalian masih takut? Heran," ucap Belinda lagi sambil nempel di bahu Jamal.
"Kalian juga pasti mikir, aku nempel kayak gini ke cowok, pasti dikiranya cewek gatel? iya, kan?" tebak Aleta.
"Ya nggak juga sih," jawab Iqbal agak tergagap.
"Hahaha, iya Let bener. Pasti mereka mikir kita yang tidak tidak, wajar lah, Let. Mereka merasa ganteng," cibir Belinda.
Tapi memang naas, meski mereka tidak jadi foto, tak jauh dari mereka ada yang diam diam mengambil foto mereka. Apalagi pose Jamal dan Belinda yang menempel.
Tak jauh dari keberadaan mereka, Rio, yang menaruh benci kepada Jamal, memanfaatkan momen langka tersebut. Dia yang dan Tomi yang masih menghabiskan waktu bersama dan beristirahat di tempat yang tak jauh dari tempat Jamal dan kawan kawan duduk.
"Kamu kenapa senyum senyum gitu, Rio?" tanya Tomi sembari duduk dengan tangan membawa dua cup es coklat boba.
"Tuh! Lagi lihatin pria munafik," tunjuk Rio dan seketika mata Tomi menatap arah yang ditunjuk Rio.
"Loh, itu kan Rizal dan teman temannya? Siapa itu dua cewek yang bersama mereka?" tanya Tomi dengan tatapan terkejut. Karena jika dilihat lihat, dua cewek itu sepertinya mengenal mereka dan sangat akrab karena pada saling tempel.
"Nggak tahu, tapi yang pasti aku punya alat buat membalas supir belagu itu?" ucap Rio sinis.
"Supir belagu? Siapa?" tanya Tomi penasaran.
"Itu, yang pakai kaos ijo," tunjuk Rio lagi. "Gara gara dia, aku sampe di skorsing pihak kampus."
"Dia itu supir, dan majikannya itu pacar aku, Mas. Dan yah seperti yang ceritakan, mereka selingkuh," terang Rio dengan wajah dibuat sedih.
"Owalah, jadi pacarmu selingkuh sama supir? Bodoh banget cewek kamu, supirnya menang tampang doang," cibir Tomi setelah dapat kejelasan dari kisah Rio.
"Ya gitu deh, Mas. Makanya aku bingung mencari bukti, buat membuka mata hati pacarku, kalau supirnya itu tak sebaik yang dia pikir, dan sekarang aku dapat buktinya," ucap Rio merasa senang. Dia yakin dengan foto itu, dia bisa membalas sakit hatinya.
Tomi yang sedang menyeruput cup esnya sambil mencerna ucapan Rio, tiba tiba wajahnya berbinar. Dia seperti menemukan ide cemerlang sambil menatap ke arah Rizal yang kini juga terlihat sedang saling nempel dengan dua wanita kakak beradik itu. Tomi langsung menyalakan ponselnya dan melakulan hal yang sama seperti yang Rio lakukan.
"Mas Tomi lagi ngapain?" tanya Rio begitu selesai mengambil beberapa foto.
"Sama yang seperti kamu lakukan, biar istriku terkejut dengan kelakuan supirnya," jawab Tomi sambil terus fokus mengambil gambar.
"Apa istri Mas Tomi juga selingkuh dengan supirnya?" tanya Rio yang merasa heran mendengar alasan Tomi mengambil foto mereka.
"Nggak juga sih, Ri. Cuma istriku tuh percaya kalau supirnya anak baik baik dan sangat tidak suka jika aku deketin, setidaknya jika melihat ini, hati istriku terbuka," terang Tomi sesaat setelah selesai mengambil beberapa gambar.
"Istri Mas Tomi sampai segitunya, Mas? Kan cuma supir?" tanya Rio yang semakin heran dengan penjelasan Tomi yang merasa aneh.
"Aku juga heran, kenapa istriku selalu membela dia? Terkesan melindungi gitu," balas Tomi kemudian menyeruput esnya.
Lagi lagi Rio tercengang mendengar jawaban Tomi. Namun tak lama kemudian dia menyeringai.
"Aku yakin sih, hubungan istri Mas Tomi bukan sekedar hubungan supir dan majikannya."
"Maksudmu?"
...@@@@@@...