
Hari kini berganti lagi. Disana, di dalam sebuah kamar kos, sepasang anak manusia masih terlelap diatas satu kasur dan di dibawah satu selimut. Mereka saling peluk. Tanda merah bertebaran di dada dan leher mereka, sebagai tanda betapa dahsyatnya permainan penuh keringat yang mereka lakukan malam tadi.
Si pria terdengar melenguh, lenguhan tanda kalau dia sudah sadar dari tidurnya. Mata pria yang posisi tidurnya miring itu mengerjap dan perlahan terbuka. Pertama yang dilihat mata pria itu saat terbuka adalah wajah seorang wanita yang masih terlelap dalam tidurnya.
Pria itu sontak tersenyum dan dia mendaratkan bibirnya di kening wanita itu. Wanita yang masih memejamkan matanya bereaksi. Sepertinya kecupan itu membangunkannya. Wanita itu juga melenguh dan perlahan membuka matanya.
Dia pun tersenyum tipis saat melihat wajah pria yang sedang menatapnya. Kemudian wanita itu bergeser dan menenggelamkan kepalanya di dada sang pria. Mereka saling peluk guna menyalurkan segala rasa bahagia yang ada di dalam dada tanpa perlu berkata kata.
Hening kembali menelusup kamar itu. Dua anak manusia tanpa busana itu memilih diam dalam pelukan. Mungkin karena belum ada topik untuk jadi bahan obrolan. Atau mungkin saja rasa ngantuk masih menghinggap pada diri mereka.
"Marahnya udah selesai?" tanya Karin membuka percakapan.
"Belum," jawab Iqbal ."Kamu harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab soal apa?" tanya Karin tanpa melepas pelukannya.
Iqbal menyeringai, kini saatnya dia mengerjai balik wanita itu. "Kamu sudah memamerkan milik Aleta dan Belinda di depanku. Jadi kamu juga harus tanggung jawab menyuruh mereka bermain ranjang bersamaku, Dong."
"Loh, nggak bisa begitu!" protes Karin.
"Harus bisa dong! Semalam yang menggoda duluan siapa? Sekarang aku sudah tergoda sama mereka. Kalau bukan kamu yang tanggung jawab meminta mereka untuk main ranjang denganku, lantas siapa?"
Karin mencebikan bibirnya. Dia tidak menyangka Iqbal malah menyuruhnya seperti ini. Pastinya Karin sangat keberatan. Membayangkanya saja ngeri, ini malah disuruh bilang sendiri dan meminta pada dua kakaknya.
"Tapi kan semalam aku sudah menebus kesalahanku, Bal? Kita main dua ronde loh?"
"Kan aku nggak Minta. Aku kan penginnya main sama kakak kamu? Kenapa semalam malah mereka pulang? Kenapa nggak diajak main dulu? Sudah menggoda tapi nggak tanggung jawab. Harusnya menggodanya sampai tuntas. Kalau perlu kita main berempat biar seru."
"Kamu gila!" bentak Karin. Dia langsung melepas pelukannya dan berbalik posisi memunggungi Iqbal. Sedangkan pemuda itu malah tersenyu penuh kemenangan. Kini Iqbal memeluk Karin dari belakang.
"Kayaknya bakalan seru yah? Kalau kita main berempat? Coba yuk, Non." ledek Iqbal agak berbisik.
"Ogah! Enak aja! Kalau kamu mau main dengan Aleta dan Belinda, kamu juga harus ijinin aku main dengan dua temanmu yang dari kampung itu." tantang Karin. Entah kenapa ide itu terlintas begitu saja.
"Kenapa? Biar adil dong, Bal."
"Nggak! Nggak bisa!" tolak Iqbal tegas. "Emangnya lubang kamu toilet umum."
Senyum Karin semakin melebar. Hatinya menghangat saat Iqbal benar benar menjaga dirinya dan tidak terima jika ada lelaki lain yang memasuki lubang Karin.
"Dih, tadi nantangin, giliran ditantang balik, nggak berani," cibir Karin. Iqbal terkekeh sambil mengeratkan pelukannya.
"Hari libur gini enaknya kemana, Non?" tanya Iqbal setelah sesaat keduanya terdiam setelah berhenti saling meledek.
"Nggak tahu, Jalan ada dulu, nanti kita tentukan saat dalam perjalanan."
"Baiklah."
Iqbal pun melepas pelukannya, kemudian dia bangkit dan duduk di tepi kasur. Tangannya bergerak meraih ponsel yang tergeletak di lantai dalam posisi tertancap kabel penambah daya.
Dicabutnya kabel tersebut dan ponsel dinyalakan. Mata Iqbal melebar saat membaca satu pesan masuk dalam ponselnya. Dadanya langsung bergemuruh. Amarah dan paniknya langsung mencuat seketika.
"Sepertinya aku harus pulang kampung, Non," ucap tiba tiba. Tentu saja perkataan Iqbal sangat mengejutkan Karin.
"Apa!" pekik Karin. Dia sontak bangun dan duduk disisi Iqbal. "Kenapa? Apa yang terjadi?"
Iqbal tidak menjawab, tapi dia menyerahkan ponselnya pada Karin. Dengan perasaaan bingung dan penuh tanya, wanita itu menerima ponsel Iqbal.
Sama seperti Iqbal, Karin sangat terkejut membaca satu pesan yang membuat Iqbal terbungkam. Sebuah pesan dari kakak Iqbal yang berisi, "Cepat pulang! Pergi pamit kerja malah kumpul kebo dengan anak majikan! Memalukan! Pulang! Kalau nggak pulang Anggap kami bukan keluargamu!"
"Siapa yang memberi tahu berita seperti ini?" Tanya Karin dengan bibir yang bergetar. Iqbal pun sama bingungnya. Dia benar benar tidak tahu harus berbuat apa. Yang pasti saat ini Iqbal harus segera pulang.
...@@@@@@...