
Wanita berusia hampir empat puluh tahun itu melangkah pergi dengan rasa malu dan amarah berbaur jadi satu. Sungguh dia tidak menyangka, sepak terjangnya dalam menaklukan dunia brondong, baru kali ini mendapat ucapan tajam yang seakan merendahkannya. Harga dirinya rontok dan jatuh di hadapan seorang supir.
Amarah Sandra benar benar merayap hingga sampai puncak ubun ubunnya. Sayang sekali dia tidak bisa menyangkal apa yang Jamal katakan padanya. Semua yang Jamal tuduhkan memang tidak salah. Dia sangat terobsesi dengan isi celana jamal.
Dimata Sandra, wajah tampan yang Jamal miliki, membuat pikirannya melambung tinggi. Dia selalu membayangkan betapa tampannya Jamal jika sedang tidak memakai pakaian, membayangkan wajah tampan Jamal berada diatas tubuhnya sambil bertukar keringat, sungguh selalu menyiksa pikiran Sandra.
Sandra ingin semua itu terwujud. Sandra ingin semua itu terjadi secara nyata, bukan hanya khayalan yang sering dia bayangkan. Sungguh, itu sangat menyiksa bagi Sandra.
Meski sudah dipermalukan, ambisi Sandra makin menjadi. Dia tidak terima mendapat hinaaan dari mulut supir itu. Pikirannya bekerja. Dia harus bisa membuat supir itu memohon ampun karena telah membuat dirinya malu.
"Temui saya di kampus ABCD, sekarang," ucap Sandra pada seseorang yang menerima panggilan telfonnya.
Sementara Jamal, hatinya merasa sedikit lebih lega setelah mengeluarkan isi hatinya kepada Nyonya Sandra. Biarlah nanti dia diaduin ke Tuan Gustavo, nyatanya, dia sungguh muak dengan sikap Sandra. Bagaimana bisa wanita itu akan mengganggu keluarganya demi mendapatkan Jamal? Sungguh konyol sekali. Jamal tidak habis pikir, dirinya akan dihadapkan pada jalan hidup yang aneh seperti ini.
Di saat dia kepikiran tentang rasa bersalahnya pada Gustavo, di saat bersamaan, Sandra malah membuat ancaman yang menjijikan. Apakah wanita kaya dan terhormat harus bersikap seperti itu?
Waktu terus berlalu. Tak terasa jam pulang kampus kini telah tiba. Selin berjalan cepat menuju mobilnya karena tidak tahan udara dengan udara yang sangat panas.
"Huu, adem," ucap Selin begitu dia duduk di sebelah Jamal. Pria itu tersenyum tipis melihat tingkah menggemaskan wanita di sebelahnya. Melihat Jamal tersenyum, Selin pun lantas memajukan kepalanya dan mencium pipi Jamal.
"Kita langsung pulang atau gimana, non?" tanya Jamal sambil menyalakan mesin mobil.
"Kita cari makan di luar aja deh, sekalian membahas perintah papa, dan katanya kamu ada yang ingin di omongin?"
"Gitu? Ya udah."
Jamal pun segera menjalankan mobilnya keluar dari area kampus.
"Non?"
"Hum? Kenapa, Mal?"
"Merasa salah, bagaimana?" tanya Selin dengan dahi yang berkerut. Matanya juga menatap Jamal penuh selidik.
"Non Selin tahu kan? Papa Non Selin mempercayakan Non Selin untuk aku jaga? Tapi apa yang aku perbuat. Aku bukannya menjaga Non Selin tapi malah merusaknya. Berkali kali aku melakukan hubungan layaknya suami istri dengan Non Selin. Bukankah aku pantas di sebut penghianat?"
Dahi Selin semakin berkerut. Matanya menyipit menatap Jamal dengan pikiran yang mencerna ucapan supir itu. Tapi tak lama kemudian kepala Selin maju dan bibirnya nempel di pipi Jamal. Pemuda itu sedikit kaget. Dia menoleh sejenak, menatap Selin yang sedang tersenyum.
"Lagi di jalan, Non, ciumnya nunggu lampu merah," protes Jamal tapi Selin malah tertawa.
"Hahaha ... Jadi karena itu? Kamu sedari pagi lebih banyak diamnya?" tanya Selin diantara suara tawanya.
"Malah diketawain, aku tuh serius, Non, aku merasa nggak enak sama Tuan."
"Terus aku harus bagaimana? Apa kita ngomong jujur aja? Ayo! Kalau itu membuat hati kamu lega," usul Selin dengan entengnya.
"Terus kalau kita dipisahin? Apa Non Selin siap?"
Selin menghirup nafasnya dengan sangat dalam, dan dia hembuskan nafas itu secara perlahan. Matanya kini lurus menghadap ke depan.
"Setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya, Mal. Aku juga tahu, rasanya dibohongi dan di khianati itu seperti apa. Tapi, dari pada nanti Papa tahu dari orang lain, bukankah lebih baik kita jujur. Lagian, disini, aku yang salah. Aku dulu yang memaksa kamu."
Jamal menoleh ke arah wanita diselebahnya sejenak, kemudian kembali fokus menatap arah depan.
"Ini salah kita, Non. Kita yang perbuat, dan sudah sepantasnya kita memikulnya sama sama. Seandainya kita dipisahkan nanti, aku tidak akan merasa bersalah karena aku tidak ingin Non Selin menanggung semuanya sendirian."
Selin tertawa kecil. "Baiklah, mari kita siapkan mental, Mal. Semoga nanti papa mau mengerti dan memaafkan kita."
"Aamiin."
...@@@@@...