TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 244 (Rizal)


"Dan kamu Rizal, aku pastikan sebentar lagi orang tuamu akan malu karena memiliki seorang anak yang sukses menjadi penghancur rumah tangga majikannya!"


"Apa!" pekik Rizal. Wajah tenangnya berubah pias. Rasa panik seketika menyusup ke dalam hatinya. Siapapun orangnya, jika mendapat masalah dan menyeret nama orang tua. Pasti akan merasa takut. Apa lagi Rizal yang memang sangat menghormati orang tuanya.


"Kenapa? Panik? Hahaha ... Saat kamu zina di balakang orang tua kamu, bukankah kamu sangat bahagia? Nggak salah, kan? Aku bantu kamu menyampaikan rasa bahagia kamu pada orang tua kamu sendiri?"


Rahang Rizal mengeras, tangannya mengepal kuat. Jelas sekali dia sedang menahan amarahnya. Rizal ingin sekali meluapkan amarahnya dan menghajar pria belok di hadapannya. Tapi dia sadar diri, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada masalah hanya akan semakin runyam. Ruzal tidak mau menambah masalah lain yang bisa memperburuk keadaan.


"Keterlaluan kamu Tomi! Ini masalah kita, kamu nggak perlu melibatkan orang tua Rizal!" hardik Miranda tajam. Sungguh emosi wanita itu kembali meletup tak karuan.


"Kenapa kamu marah? Kamu aja seenaknya bawa orang tua ke dalam masalah kita, kenapa aku nggak boleh melibatkan orang tua Rizal? Bukankah kamu harusnya bersyukur Miranda, Rizal jadi tidak perlu repot menjelaskan ke orang tuanya? Orang tuanya pasti senang jika mereka tahu tentang calon istri anaknya dapat darimana," balas Tomi santai tapi penuh hinaan. "Kalau kalian memang ada niat untuk menikah, otomatis kalian butuh restu orang tua, bukan? Udah kuat mental?"


Miranda, Sari dan Rizal benar benar terbungkam oleh ucapan Tomi. Bukannya tidak ingin membalas ucapan pria itu. Mereka dalam posisi yang salah dan akan sangat percuma jika mereka melawan ucapan Tomi yang sedang emosi.


Dari sini sudah sangat jelas kalau manusia itu tempatnya salah. Tidak ada alasan demi kebaikan jika pada akhirnya akan ada pihak yang kecewa dan sakit hati. Tapi itulah perjalanan hidup, akan ada jalan dimana kita berbuat salah, dan menyadari kesalahan kita atau tidak.


"Sebentar lagi, mungkin orang tuamu akan menyuruh kamu pulang, Zal!"


Deg!


Untuk kesekian kalinya Rizal kembali terkejut. Sudah pasti dia panik luar biasa. Bukan hanya Rizal yang terkejut, Sari dan Miranda juga sama terkejutnya. Mereka tidak menyangka Tomi sudah melangkah sejauh itu.


"Bagaimana bisa?" ucap Miranda tak percaya.


"Ya bisa lah! Tinggal ngomong aja ke penyalur yang mengantar Rizal kesini. Beres. Kalian pikir aku nggak tahu? Harusnya kamu ingat, aku kepala keluarga di rumah ini jadi aku harus tahu asal usul semua penghuni rumah ini."


Miranda tidak bisa membantah. Nyatanya apa yang dikatakan Tomi benar. Mungkin Tomi sudah bertindak secepat itu saat pergi tadi. Apa lagi, Tomi memang selalu mencatat nama dan latar belakang setiap orang yang bekerja di rumahnya.


Rizal terdiam. Tentu saja pikirannya sangat kacau. Jika benar apa yang dikatakan Tomi, bisa saja hari ini orang tuanya sudah tahu akan perbuatannya.


"Zal," pannggil Miranda. Rizal yang sedang terdiam dengan perasaan yang sangat berkecamuk lantas menoleh. "Apa kamu baik baik saja?"


Rizal tersenyum getir. "Bagaimana bisa aku baik baik saja, Non? Jika masalah ini sudah melibatkan orang tua."


"Terus apa rencana kamu? Apa kita sama sama pergi ke kampung kamu? Kita jelaskan semuanya?"


"Tidak perlu. Aku sendiri saja yang akan menjelaskan ke mereka. Aku tidak mau orang tuaku semakin murka jika Non Miran ikut. Biar bagaimana pun Non Miran saat ini masih istri dari Tuan Tomi."


"Tapi, Zal ..."


"Benar, Non," timpal Mbak Sari. "Apa yang dikatakan Rizal memang benar. Jika Non Miran ikut, yang ada orang tua Rizal akan semakin tambah malu. Non Miran harus tahu, kehidupan di kota dan di kampung itu beda. Di komplek perumahan ini aja, Non Miran nggak kenal, siapa aja tetangga Non Miran. Beda kalau di kampung. Bisa jadi kalau tetangga tahu apa yang terjadi pada Rizal, ini akan jadi bahan gunjingan. Kasian nanti orang tua Rizal."


Miranda menghembus kasar nafasnya setelah mendengar ucapan Sari yang sangat panjang tapi mengandung kebenaran. Di tatapnya Rizal lekat lekat.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan, Zal?"


"Tidak ada pilihan lain lagi, Non. Hari ini, aku harus pulang."


"Baiklah."


Pembicaraan pun selesai. Rizal kembali ke kamar guna bersiap diri untuk pulang. Betapa kagetnya dia saat mengecek ponsel dan membaca pesan yang masuk. Tomi tidak main main dengan ucapannya. Pesan dari sang kakak semakin menguatkan tekadnya untuk segera pulang.


...@@@@@...