TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 60 (Iqbal)


Wanita memang paling bisa memberikan rasa nyaman walau tanpa rasa cinta di hati sang wanita. Itulah yang Iqbal rasakan saat ini. Hanya dengan diberi ciuman, hati Iqbal merasakan nyaman yang luar biasa. Hati yang sedari tadi gundah karena Karin yang tiba tiba bersikap diam seribu bahasa, kini berubah menjadi damai dan tenang setelah Karin memberikan ciuman. Aneh bukan?


Entah hubungan apa yang mereka jalani saat ini. Belum ada cinta, hanya sebatas supir dan majikan tapi telah perang bibir tiga kali. Apa ini sebatas rasa biasa atau pelampiasan atau apa? Sungguh Iqbal pun tak mengerti. Tapi yang pasti untuk saat ini, Iqbal hanya mampu jadi tempat yang mungkin bisa membuat wanita di sebelahnya merasa tenang.


"Tadi aku habis bertengkar lagi dengan Papih, Bal," ucap Karin begitu perang bibir selesai dan Karin kembali duduk di tempatnya. Iqbal hendak menyalakan mobilnya tapi di tahan oleh Karin. Iqbal pun menuruti keinginan anak majikannya.


"Bertengkar gimana lagi, Non?" jawab Iqbal sambil menatap kepala Karin bagian belakang. Karena saat ini, Karin sedang menatap ke arah luar.


"Seperti biasalah, Bal. Aku disuruh mengurangi bergaul dengan cowok. Entahlah maksud mereka apa, bikin pusing," cicit Karin terdengar begitu sedih.


Iqbal pun mengulas senyum. "Jadi karena itu, tiba tiba kamu nyerang aku?"


Karin menoleh kemudian tertawa kecil. "Maaf ya?"


Iqbal mengangkat kedua alisnya kemudian kembali tersenyum. "Terus? Apa yang kamu rasakan setelah menciumku?"


Karin mengerucutkan bibirnya sambil menatap arah depan mobil. "Sedikit menenangkan," kemudian dia menoleh kembali menatap Iqbal dan tersenyum. "Maaf ya, Bal."


"Nggak apa apa, Non. Kalau bibir aku bisa membuat Non Karin tenang ya jangan merasa sungkan untuk menciumnya lagi." ucap Iqbal sambil cengengesan. Sedangkan Karin langsung mencebikan bibirnya kemudian ikut tertawa.


"Kok kamu jadi ketagihan, Bal?" tanya Karin sambil menatap Iqbal.


"Habisnya bibir Non karin enak," jawab Iqbal asal. Karin pun merasa gemas. Seketika dia melayangkan pukulan di bahu kekar Iqbal dan pemuda itu hanya tertawa.


Setelah suasana lebih tenang, Karin pun meminta Iqbal melajukan mobilnya. Perjalanan ke kampus berlanjut disertai hati yang damai diantara mereka.


Tak butuh waktu lama, mobil pun telah memasuki area kampus. Iqbal menatap anak majikannya yang perlahan menjauh dengan senyum manis yan mengembang.


Jika diperhatikan, Iqbal menjadi pusat perhatian beberapa mata yang melihatnya. Terutama mata wanita. Penampilan Iqbal saat ini beda jauh dari hari kemarin. Iqbal lebih terlihat bersih, rapi dan pastinya tampan.


Hal itu juga tak luput dari perhatian teman teman Karin di delam kelasnya. Mereka tak segan segan mengintrogasi Karin dengan berbagai pertanyaan seputar supirnya.


"Rin, supir sebening itu, kamu dapat dari mana?" tanya salah satu teman Karin saat mereka berkumpul di kantin kampus.


"Udah punya calon belum? Kenalin dong?" timpal yang lain.


"Kalian ini, nggak bisa lihat yang bening dikit langsung kayak ikan keluar dari kolam, klepek keplek," ucap teman Karin yang lain berjenis laki laki.


"Dih! Suka suka kita dong, itu tandanya kalau kita cewek normal, dari pada kita suka sama kamu, apes yang ada," cibir teman Karin dan mereka tergelak bersama kecuali teman laki laki yang tadi bicara.


"Dia jatahnya Karin, jangan diganggu. Dia kan lagi dalam pengawasan orang tuanya." ucap teman laki laki yang satunya, yang sedari tadi diam menikmati bakso.


"Ah iya, kalau deket sama supirnya, orangtuanya nggak bakal ngelarang tuh,"


"Bener, Rin. Orang tuamu masih tidak percaya sama kamu?"


"Ya begitulah," jawab Karin malas. Teman teman Karin pun menatapnya prihatin.


Waktu terus melaju. Perlahan namun pasti, kini waktu pulang pun datang. Karin memilih jalan jalan dulu guna menghabiskan waktu. Lagian jalan jalan sama Iqbal juga orangtuanya tidak akan curiga, makanya Karin aman aman saja.


"Non, aku boleh tanya?" tanya Iqbal sambil matanya fokus ke arah jalan.


"Tanya apa, Bal?" balas Karin tanpa menoleh. Dia juga sedang menikmati pemandangan di tepi jalan.


"Tentang Non Belinda dengan Non Aleta."


Karin menoleh menatap sang supir. "Mereka kenapa?"


Iqbal tak langsung menjawab. Dia memikirkan kata kata yang tepat agar Karin tak berpikir macam macam. Iqbal menoleh sejenak menatap Karin yang juga sedang menatapnya kemudian kembali tatapannya di lempar ke arah depan.


"Sepertinya mereka sedang mengejarku, Non."


Deg!


...@@@@@...