
( Kediaman keluarga Klan Li )
Ryu yang sudah berada di dalam kamar milik Li Jilan, kini langsung menuju ruang rapat Klan sekedar untuk menyapa para petinggi Klan Li.
" Gege... Setelah kita menemui Ayah dan petinggi Klan Li, aku ingin mengajakmu ke tempat persembunyianku dulu." Li Jilan ingin membawa suaminya itu ke sebuah rawa yang menurutnya sangat unik.
" Bisa juga. Tapi setelah kita bertemu dengan Ayah Mertua dan yang lain." Ucap Ryu sambil melanjutkan langkahnya.
Tidak lama kemudian, Ryu dan Li Jilan telah sampai di ruangan rapat Klan Li dimana terlihat Li Shang dan yang lain sedang berkumpul.
" Salam Ayah Mertua, Salam semuanya." Ryu memberi hormat kepada Li Shang dan para petinggi yang lain.
" Salam Yang Mulia Kaisar, Salam Yang Mulia Ratu." Semua yang berada di tempat itu menundukkan kepala dengan sikap hormat.
" Ryu'er, selamat datang di kediaman kami." Li Shang tersenyum lebar menyambut kedatangan menantunya itu.
" Ayah Mertua, mohon maaf telah mengganggu pertemuan kalian." Ryu lebih senang dengan dirinya seperti orang biasa dibandingkan menggunakan nama kebesarannya.
" Tidak masalah Ryu'er... Kami hanya melakukan rapat biasa saja. Silahkan duduk." Li Shang mempersilahkan kepada Ryu untuk duduk di kursinya.
" Tidak perlu sungkan Ayah Mertua. Masih banyak kursi yang masih kosong." Ryu mengambil tempat untuk duduk diikuti Li Jilan.
Melihat hal itu, Li Shang kembali duduk di tempat semula lalu melanjutkan pembicaraan mereka.
Meskipun Ryu hanya diam dan tidak ingin ikut campur masalah keluarga Klan, namun dia mengumpulkan semua informasi tersebut untuk menentukan kebijakan nantinya saat tiba di Istana Kekaisaran Awan.
Setelah cukup lama melakukan perbincangan, Li Jilan mohon pamit lalu membawa Ryu keluar ruangan.
Selama dalam perjalanan, anggota Klan Li yang jumlahnya tidak terlalu banyak kini menyapa ramah kepada Ryu dan Li Jilan.
Meskipun Ryu pernah membunuh setengah dari jumlah anggota Klan Li, namun mereka sama sekali tidak menaruh dendam kepada Pemuda tersebut karena mereka juga tidak sepaham dengan para petinggi Klan Li sebelumnya.
Bahkan berkat bantuan tersebut, anggota Klan Li jauh lebih tentram dan damai dibandingkan sebelumnya, sehingga mereka lebih bebas untuk melakukan aktivitas mereka.
Saat keluar dari kediaman keluarga Klan Li, Li Jilan langsung membawa Ryu ke suatu tempat dimana sebagai tempat persembunyiannya.
Setelah melakukan perjalanan cukup jauh, kini mereka telah sampai di sebuah rawa dimana di tengahnya terdapat sebuah bukit yang cukup besar, namun tidak terlalu tinggi.
Hal itu membuat Ryu sedikit menaikkan alisnya saat melihat keanehan dari bukit tersebut.
' Ini aneh, kenapa bukit ini seperti tempurung kura-kura?' Batin Ryu sambil mengikuti jalan yang hanya ditancapkan kayu dengan diameter seukuran telapak kaki.
" An'er, apa jalannya seperti ini?" Tanya Ryu sambil menatap barisan kayu yang menancap sempurna dan berjejer rapi sebagai jalan untuk menuju bukit tersebut.
" Hanya ini satu-satunya jalan menuju bukit itu! Ayahku yang membuatnya seorang diri agar aku bisa bersembunyi disana. Rawa ini bisa menghisap siapapun yang melewatinya, karena itulah Ayahku menyembunyikan ku di bukit itu." Li Jilan fokus pada langkahnya agar tidak tergelincir dari kayu yang menancap itu.
" Tidak ada yang mengetahui jalan ini, kecuali aku dan ayah." Li Jilan melanjutkan ucapannya.
Mendengar ucapan tersebut, Ryu teringat saat mereka melewati jalan itu sebelumnya dimana terdapat pepohonan yang berjejer rapat, sehingga siapapun yang melewati wilayah itu, karena terkadang harus memiringkan badan bahkan berjongkok agar bisa melewati jalan itu.
" Persembunyian yang sangat sempurna." Gumam Ryu, sambil fokus pada pijakannya.
" Terlalu lama." Ryu yang tidak sabar, langsung memegang pinggang Li Jilan lalu membawanya terbang ke bukit tersebut.
Namun apa yang dia harapkan tidak berjalan dengan sempurna, baru saja kakinya terangkat kini langsung menyentuh kayu tersebut hingga membuat mereka berdua hampir terpeleset.
" Gege, kita tidak bisa terbang melewati rawa ini." Li Jilan menggelengkan kepala karena Ryu seperti sudah tidak sabar.
" Ini aneh? Kenapa gravitasi di rawa ini begitu kuat? Tapi kenapa aku tidak bisa merasakan energi apapun di tempat ini?" Begitu banyak pertanyaan di pikiran Ryu, karena kekuatannya tidak berfungsi sama sekali di tempat itu.
Dengan terpaksa Ryu dengan sabar berjalan mengikuti barisan kayu yang berjejer.
Setelah cukup lama melewati kayu tersebut, akhirnya Ryu dan Li Jilan telah sampai di bukit tersebut dimana terlihat sebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu.
" Gege, inilah tempat tinggalku saat masih kecil hingga dewasa." Li Jilan menunjuk pondok yang ada di depan mereka.
" Lalu siapa yang bersamamu saat tinggal di tempat ini?" Ryu merasa penasaran.
" Ayah mengabarkan bahwa Aku dan ibu telah meninggal, agar tidak ada siapapun yang curiga. Jadi Ibulah yang menemaniku di tempat ini." Li Jilan membuka pintu pondok tersebut yang kini telah dipenuhi jaring laba-laba.
Mereka pun membersihkan pondok tersebut, karena sudah lama tidak ditinggali.
Meskipun pondok tersebut sangat kecil, namun sangat kuat karena menggunakan kayu pilihan sehingga bisa bertahan selamanya ratusan tahun.
Di dalam pondok tersebut juga terdapat tempat tidur yang layaknya sebuah penginapan, meski berada di ruangan yang sempit.
Melihat hal itu, Ryu teringat akan masa-masa kecilnya dimana dia dan ayahnya tinggal di sebuah gubuk kecil sebagai tempat berlindung dari hujan dan panas.
Tanpa terasa air mata Ryu menetes bagaimana perjalanan hidupnya saat masih kecil.
" Gege, ada apa denganmu?" Li Jilan merasa heran karena Ryu seperti sedang menangis.
" Tidak ada! Aku hanya ingin mengenang kembali masa kecilku." Ryu mengusap air matanya lalu duduk di atas tempat tidur yang baru saja mereka bersihkan.
Sedangkan Li Jilan langsung menuju tempat memasak yang peralatannya sangat sederhana dan hanya beberapa langkah dari tempat tidur berniat untuk membuat secangkir teh hangat untuk suaminya.
Setelah beberapa saat Li Jilan pun telah selesai membuat secangkir teh, lalu menyuguhkan kepada suaminya.
" Gege, kita minum dulu." Ucap Li Jilan.
" Mmmm." Ryu mengambil teh tersebut dari tangan istrinya.
" Gege, tempat ini indah kan?" Tanya Li Jilan yang terlihat senang dengan pondok tersebut, meskipun sangat sempit.
" Mmmm... Aku ingin lebih lama tinggal di tempat ini. Apa tempat ini ada tempat untuk berburu?" Ryu ingin mengulang kembali masa kecilnya.
" Kebetulan tempat ini hanya ada hewan biasa, di bagian sana ada sebuah kolam kecil yang ayah gali sebagai tempat pemandian." Li Jilan sambil menunjuk ke sebuah arah.
" Gege, bagaimana kalau kita mandi bersama disana? Airnya sangat jernih dan sejuk." Li Jilan ingin membawa Ryu ke tempat pemandian.
Mereka pun keluar dari pondok tersebut menuju ke kolam pemandian yang tidak jauh, dimana airnya sangat jernih dan telah ditumpuk bebatuan dengan rapi.