
Mendengar ucapan tersebut, Priscilla terlihat senang, karena itu artinya dia memiliki kesempatan untuk mendekati Liu Ryu.
Tanpa membuang waktu, Priscilla berlari ke sebuah arah untuk menyajikan hidangan kepada Liu Ryu.
" Apa yang dilakukan adikku?" Pikir Staid, karena adiknya bertingkah aneh.
Sambil berbincang kecil, Liu Ryu mengirim pesan jiwa kepada keempat Istrinya agar bisa meningkatkan Kultivasi dengan Pil yang dia ciptakan dari jiwa ras peri.
Tentu Liu Ryu tidak ingin keempat Istrinya mendapatkan kemalangan sehingga menjadi incaran para penguasa Planet untuk dijadikan sebagai Pil.
Tidak lama kemudian, terlihat Priscilla datang dengan membawa beberapa hidangan kepada Liu Ryu.
" Silahkan dinikmati master." Ucap Priscilla, sambil menyuguhkan secangkir teh kepada Liu Ryu beserta beberapa hidangan lainnya.
Melihat tingkah adiknya, Staid hanya menggelengkan kepala, karena dia tidak menyangka bahwa Priscilla menyukai Liu Ryu yang sudah memiliki Istri.
" Tidak masalah jika master Ryu mau menjadikan adikku sebagai Istrinya. Dengan demikian, adikku bisa dilindungi oleh suaminya." Pikir Staid, karena adiknya memilih calon suami yang sangat kuat.
Berbeda dengan Liu Ryu, secantik apapun Priscilla, dia sama sekali tidak tertarik sedikitpun karena baginya kekuatan adalah segalanya.
" Wanita idiot ini tidak tau diri." Pikir Liu Ryu yang merasa tidak senang dengan sikap Priscilla.
Tanpa berkata apapun, Liu Ryu langsung masuk ke dalam rumah panggung, lalu menutup pintu.
Melihat Liu Ryu yang tidak peduli kepadanya, Priscilla memasang wajah masam, karena sudah berhari-hari dia merindukan kedatangan pemuda itu.
Namun kali ini, Liu Ryu sama sekali tidak peduli kepadanya, bahkan tidak menoleh sedikitpun.
" Sudahlah adik.... Kamu jangan terlalu memaksa diri." Staid mengingatkan kepada Priscilla, agar tidak terlalu berharap banyak kepada Liu Ryu.
Tanpa berkata apapun, Priscilla langsung meninggalkan tempat itu, merasa malu karena makanan dan minuman yang dia sajikan kepada Liu Ryu sama sekali tidak disentuh.
*******
Pada keesokan pagi, Yoke dan beberapa anggota suku lumut mengantar Liu Ryu dan rombongan, menuju ke arah pantai yang menghubungkan dengan daratan Muktho.
" Master... Disinilah jalan menuju daratan Muktho. Waktu kalian tidak banyak. Jadi pergilah secepatnya!" Yoke meminta kepada Liu Ryu agar bisa berjalan secepat mungkin agar tidak terkurung di dalam perjalanan.
" Terimakasih teman. Kalau begitu, kami pamit dulu." Liu Ryu mengepal kedua tangannya, lalu melangkahkan kakinya mengikuti jalur jalan setapak yang seakan mengambang di air laut.
Liu Ryu dan keempat Istrinya melesat cepat, meskipun tidak menggunakan kekuatan penuh, karena Staid dan Priscilla tertinggal jauh darinya.
" Master, tunggu kami." Teriak Priscilla, karena dia dan kakaknya tidak mampu mengimbangi kecepatan Liu Ryu dan keempat Istrinya.
Hal yang membuat Staid dan Priscilla merasa heran, karena kali ini Liu Ryu mendapatkan satu Istri lagi.
Namun mereka sama sekali tidak berani bertanya, karena sikap Liu Ryu sudah banyak berubah.
" Suamiku,. kita harus menunggu mereka." Liu Yunxia merasa tidak enak, karena biar bagaimanapun kedua sosok yang berada di belakang mereka adalah rombongan mereka.
" Salah mereka sendiri terlalu lemah." Ucap Liu Ryu, sambil melangkahkan kakinya.
Mendengar ucapan tersebut, Liu Yunxia dan yang lain hanya menggelengkan kepala, karena mereka merasa tidak tega jika meninggal Staid dan Priscilla yang hanya memiliki kekuatan manusia biasa.
Menyadari kehadiran ikan hiu raksasa, Liu Ryu sama sekali tidak peduli, karena kehadiran Staid dan Priscilla hanya memperlambat perjalanan mereka.
Bboooom!
Sebuah kibasan ekor dari ikan hiu raksasa, hingga menciptakan gelombang air pasang yang mengarah kepada Staid dan Priscilla.
" Gawat." Keempat Istri Liu Ryu dengan buru-buru melesat cepat ke arah Staid dan Priscilla.
Namun serangan gelombang air pasang dari ikan hiu raksasa sangat cepat, sehingga keempat Istri Liu Ryu tidak sempat menyelamatkan nyawa mereka.
Di sisi lain Liu Ryu masih melangkahkan kakinya, tanpa memperdulikan keberadaan ikan hiu raksasa yang sudah membunuh Staid dan Priscilla.
Keempat Istri Liu Ryu membuka mulutnya lebar-lebar, karena kali ini Liu Ryu sama sekali tidak peduli dengan nyawa kedua sosok yang bersama rombongan mereka.
Sementara itu, ikan hiu raksasa yang sudah mendapatkan buruan, kini langsung pergi menjauh dengan membawa kedua mayat korbannya.
" Suamiku, apa yang terjadi denganmu?" Dewi Arinia merasa heran karena, Liu Ryu seperti tidak memiliki hati nurani.
Jika saja Liu Ryu mengambil tindakan, tentu Staid dan Priscilla tidak akan terbunuh, karena hanya Liu Ryu saja yang memiliki kepekaan tingkat tinggi.
Disamping itu juga,.Liu Ryu memiliki teknik teleportasi, sehingga bisa digunakan untuk menyelamatkan nyawa kedua sosok itu.
" Salah mereka sendiri terlalu lemah. Di dunia ini seperti sebuah rantai makanan. Siapa yang terkuat, mereka akan berkuasa."
" Dan yang terlemah, harus menjadi korban. Jadi, memakan atau dimakan itu adalah hal biasa di dunia ini." Ucap Liu Ryu,. namun tidak menghentikan langkahnya.
Kini keempat Istri Liu Ryu saling berpandangan, karena apa yang dikatakan suami mereka memang benar.
Jika sudah berada di alam liar, maka tidak ada satupun yang terlepas dari kematian yang bisa datang kapan saja.
Namun sebagai sesama makhluk hidup, tentu keempat Istri Liu Ryu merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Staid dan Priscilla.
" Untuk itu, kalian harus lebih kuat lagi. Karena tidak selamanya aku bisa melindungi kalian." Liu Ryu mengingatkan kepada keempat Istrinya agar selalu meningkatkan Kultivasi mereka, agar tidak menjadi incaran para penguasa yang lebih kuat.
Kini keempat Istri Liu Ryu tidak ingin membahas lebih jauh tentang permasalahan sebelumnya, meskipun masih ada hal yang mengganjal di pikiran mereka.
Sepanjang perjalanan menuju ke daratan Muktho, kini aura kematian semakin kuat, bahkan langit seakan menjadi gelap, karena diselimuti kabut asap berwarna merah darah keunguan.
" Suamiku... Apa kamu yakin kita bisa mencapai daratan Muktho?" Elena merasa bulu kuduknya merinding, karena aura kematian membuatnya merasa sesak nafas.
Tidak hanya Elena saja, melainkan ketiga Istri Liu Ryu juga merasakan hal yang sama, dimana aura kematian membuat mereka seakan terintimidasi.
" Jika kalian tidak kuat, kembalilah ke Dunia Quzhu dan Berkultivasi disana." Liu Ryu meminta kepada keempat Istrinya agar fokus Berkultivasi, karena aura kematian tersebut bukan ranah mereka lagi.
Liu Ryu meminta kepada keempat Istrinya agar tidak keluar dari Dunia Quzhu, sebelum mereka mencapai Bintang Kaisar, karena aura tersebut bisa merusak pikiran mereka.
" Baiklah, kami akan kembali ke Dunia Quzhu." Keempat Istri Liu Ryu tidak ingin mengambil resiko, karena aura kematian membuat mereka tidak bisa bertahan lama.
Saat keempat istrinya sudah kembali ke Dunia Quzhu, Liu Ryu kembali melanjutkan langkahnya menuju daratan Muktho yang auranya semakin pekat, hingga wilayah sekitar menjadi gelap.