SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 243. Tongkat Ular.


" Saudara... Tolong berikan wajah kepada mereka! Biar aku yang bertaruh untuk diriku sendiri, Kamu bantu saja taruhan mereka." Ucap Wu Tian sambil mengeluarkan Cincin yang berisi satu milyar Batu Roh.


" Haaah... Baiklah saudara. Sepertinya mereka kehabisan uang, jadi aku akan bertaruh kepada pria itu." Ucap Jiu Tou She sambil menunjuk ke arah sosok yang menjadi lawan Wu Tian.


Di sisi lain pria yang menjadi lawan Wu Tian hanya bisa membuka tutup mulutnya karena baru pertama kali para penonton bertaruh besar.


Mendengar Jiu Tou She yang bertaruh untuknya sebesar 800 juta Batu Roh, pria tersebut terlihat bersemangat. Jika dia menang, maka dia akan menjadi Kultivator paling kaya.


" Berhubung majikanku sangat dermawan, maka aku akan mempertaruhkan semua harta yang aku miliki sebesar satu milyar." Ucap Wu Tian sambil melemparkan Cincin Ruang kepada petugas taruhan.


" Sa... Satu milyar?" Semua mata tertuju pada Wu Tian, lalu menoleh ke arah Liu Ryu.


Satu pertanyaan di benak mereka, bagaimana seorang pengawal Assosiasi Senjata bisa memberikan gaji sebanyak itu kepada Wu Tian?


Sesaat para tamu undangan mengukur tingkat Kultivasi Wu Tian, dimana masih sama dengan sosok yang menjadi lawannya, yaitu Bintang Berlian.


" Saudara... Mereka terlalu sombong. Kultivator yang menggunakan tongkat ular itu. Lagi pula aku yakin pihak Assosiasi Senjata pasti akan kalah." Salah satu saudagar kaya merasa yakin bahwa mereka akan menang.


Ditambah lagi dengan sosok yang menjadi lawan Wu Tian adalah Kultivator yang sering memenangkan pertarungan di Daxue.


" Baiklah saudara, aku akan bertaruh kepada pria itu untuk mengurangi beban mereka." Jiu Tou She mengulangi perkataannya, membuat para tamu undangan semakin geram.


" Aku sebagai Walikota Lanshui akan bertaruh dengan harta yang aku miliki. Juga menjual semua budakku." Walikota Lanshui yang sudah tidak tahan lagi mendengar ejekan dari pihak Assosiasi Senjata, langsung melemparkan sebuah Cincin kepada petugas taruhan.


Terlebih Walikota Lanshui sudah mempertimbangkan bahwa Kultivator yang menggunakan tongkat ular, jauh lebih kuat dari Wu Tian.


" Aku juga." Ucap para tamu langsung memasang taruhan kepada pemegang tongkat ular.


Kini para penonton berbalik mengejek Liu Ryu, karena dapat dipastikan bahwa untuk kali ini dia akan banyak kehilangan harta.


" Tenang saja tuan muda. Jika kamu kalah, aku bisa mengembalikan kamu ke Benua Barat. Sayangnya ketujuh wanita itu harus bersamaku." Ucap salah satu sosok Pria paruh baya sambil menatap ke arah Liu Ryu.


" Tidak masalah, kami akan ikut bersama orang yang memiliki taruhan yang paling banyak. Asal kalian tau, kami tidak ingin ikut bersama orang yang memiliki harta pas-pasan." Ucap Tai Bai yang kini berusaha menaikkan taruhan.


Mendengar ucapan tersebut, semua mata tertuju pada Jiu Tou She, karena diantara mereka hanya dia yang memiliki banyak Batu Roh.


Tentu para tamu undangan tidak ingin kalah dari Jiu Tou She, sehingga mereka kembali menaikkan taruhan lebih besar dari milik Jiu Tou She agar bisa membawa pulang ketujuh wanita tersebut.


Namun bagi tamu undangan yang memiliki harta tidak sebesar itu, kini memasang wajah masam karena tidak mampu untuk bersaing.


Kini Walikota Lanshui berada di atas angin, karena hanya dia yang memiliki harta paling banyak, bahkan menjual beberapa asetnya demi mendapatkan ketujuh wanita itu.


Di sisi lain Tetua Klan Chu yang merupakan pemilik Daxue sedang berunding bersama Patriak mereka, karena 30% penghasilan Daxue adalah milik Klan.


" Patriak, bagaimana menurutmu?" Tanya Chu Heng yang semangatnya berapi-api untuk mendapatkan ketujuh wanita tersebut.


" Chu Heng... Jika kamu masih keras kepala, maka kamu harus menjual aset Daxue ini. Tapi jangan salahkan aku jika setelah ini kamu tidak memiliki apapun." Meskipun Patriak Klan Chu begitu tertarik untuk mendapatkan ketujuh wanita itu, namun masih bisa berfikir sehat.


Jika Klan Chu tidak memiliki pendapatan lagi, sama artinya mereka akan jatuh dalam kemiskinan.


" Baiklah, kalau begitu aku akan menjual 70% aset milikku." Chu Heng yang sudah kehilangan akal sehat, kini mempertaruhkan semua harta yang dia miliki.


Meskipun Chu Heng hanya seorang Tetua, namun dialah yang paling banyak harta dibandingkan Tetua yang lain, bahkan Patriak Klan Chu.


Tentu mereka yang berada di tempat itu merasa terpancing karena anggota Pasukan Semesta yang menyusup, selalu memanas-manasi para tamu undangan.


" Tuan muda, aku akan bertaruh 70% Daxue ini. Bagaimana menurutmu?" Tanya Chu Heng yang kini sedang melancarkan rencananya.


" Setuju!" Jawab Liu Ryu dengan singkat.


Sesaat Liu Ryu menyipitkan matanya, karena Chu Heng tidak menyebutkan nominal asetnya jika diuangkan menjadi Batu Roh.


" Terlebih percaya diri." Gumam Liu Ryu yang mengetahui rencana Chu Heng, karena saat dia menang taruhan, maka dia akan menyebutkan nominal Batu Roh sekehendak hatinya.


Di sisi lain petugas taruhan juga tengah sibuk menghitung jumlah taruhan, dimana dia langsung meminta bantuan kepada rekannya.


Setelah semua sudah dihitung, Liu Ryu langsung mengeluarkan Batu Roh sebanyak yang petugas taruhan sebutkan, lalu menandatangani perjanjian dengan Chu Heng.


" Ternyata pemuda ini tidak hanya sombong, tapi juga bodoh." Gumam Chu Heng, karena Liu Ryu tidak menanyakan nominal asetnya.


" Jadi kamu ingin merampoknya?" Tanya Patriak Klan Chu.


" Ya... Jika aku menang, maka aku akan mendatangi Chi Leng untuk mencari tahu seberapa banyak Batu Roh milik pemuda itu." Chu Heng yang penuh percaya diri, kini taruhannya melebihi Walikota Lanshui.


Di sisi lain, Walikota Lanshui memasang wajah masam karena kekayaannya tidak bisa mengimbangi Chu Heng.


" Paling tidak, aku bisa mendapatkan Batu Roh sebanyak mungkin." Walikota Lanshui tersenyum pahit sambil menatap ke arah Chu Heng.


Karena tidak ada lagi yang menambah taruhan, kini pemandu turnamen melesat ke tengah arena, agar pertarungan bisa diselenggarakan.


" Apa kalian sudah siap?" Tanya pemandu turnamen.


Tanpa berkata apapun, Wu Tian dan sosok yang menjadi lawannya mengangguk pelan, lalu bersiap untuk bertarung.


" MULAI!" Pemandu turnamen memberi aba-aba, lalu melesat ke pinggir arena.


Tanpa membuang waktu, Wu Tian langsung mengayunkan pedangnya untuk melakukan serangan, dimana pihak lawan juga mengayunkan tongkatnya dengan kekuatan penuh.


Traaang! Traaang! Traaang!


Benturan pedang dan tongkat menciptakan percikan api kecil hingga tombak tersebut terlihat elastis.


" Pantasan mereka menyebutnya tongkat ular." Gumam Wu Tian, sambil mengayunkan pedangnya


Semakin lama, pertarungan tersebut semakin cepat, dimana Wu Tian masih mampu mengimbangi ketangkasan pihak lawan.


" Seharusnya pedang milik pemuda itu sudah patah, ketika bertemu dengan tongkat ular. Benar-benar senjata yang sangat kuat." Gumam beberapa penonton yang menyaksikan pertarungan tersebut.


Para penonton yang berada di tempat itu sudah mengetahui bahwa tongkat ular merupakan pusaka tingkat tinggi yang sering mematahkan senjata milik pihak lawan.