
Sesampai di kediaman para penjaga gerbang, pemimpin penjaga langsung mempersilahkan kepada Liu Ryu dan kedua Istrinya untuk memasuki kamar dari bangunan yang memanjang.
Namun tujuan Liu Ryu dan Istrinya sebenarnya ingin menggunakan goa yang berada dibawah kota kecil itu agar bisa menuju kota pelabuhan dalam waktu singkat.
Jika harus melewati hutan, Liu Ryu dan kedua Istrinya membutuhkan waktu selama dua tahun agar bisa sampai di kota pelabuhan, meskipun harus terbang dengan kecepatan tinggi.
Namun jika melewati goa bawah tanah, mereka hanya menghabiskan waktu selama satu bulan.
" Teman... Sebenarnya kami ingin menggunakan goa bawah tanah untuk pergi ke kota pelabuhan. Apa kamu bisa membantu kami?" Tanya Liu Ryu yang mengutarakan tujuannya.
Sesaat pemimpin penjaga terdiam sejenak, karena goa bawah tanah yang dimaksud sudah lama tidak digunakan lagi, karena dipenuhi oleh para siluman.
" Teman... Bukanya aku tidak mau membantumu, namun goa bawah tanah itu sangat berbahaya." Pemimpin penjaga menyarankan agar Liu Ryu dan Istrinya mengurungkan niat mereka untuk melewati goa bawah tanah.
Pemimpin penjaga menjelaskan apa yang terjadi pada goa bawah tanah, sehingga mereka menutup jalur tersebut dengan sebuah sihir.
" Teman... Kamu tidak perlu khawatir. Kami masih mampu melewati jalur itu." Ucap Liu Ryu, untuk meyakinkan pemimpin penjaga.
Namun pemimpin penjaga gerbang tetap menolak, karena itu menyangkut kelangsungan hidup para warga yang berada di kota itu.
Jika goa bawah tanah terbuka, maka para siluman akan menyerang mereka melalui goa bawah tanah.
" Sepertinya aku harus meyakinkan kepada mereka terlebih dulu. Bagaimanapun juga, mereka begitu khawatir dengan keselamatan para warga." Pikir Liu Ryu, karena dia juga tidak ingin memaksa.
Dengan kata lain, Liu Ryu dan kedua Istrinya harus menunjukkan kemampuan mereka agar pemimpin penjaga percaya dan membuka goa bawah tanah.
Terlebih selama dalam perjalanan, saat memasuki kota kecil itu, Liu Ryu dan kedua Istrinya bisa melihat jelas dari raut wajah para warga yang memiliki rasa trauma.
Dengan kata lain kota kecil itu sering mendapatkan serangan dari hewan buas dan siluman.
" Teman... Dari apa yang kamu katakan sebelumnya, apakah hewan buas selalu menyerang kota ini setiap malam?" Tanya Liu Ryu yang sedikit heran karena tidak seperti biasanya hewan buas aktif di malam hari.
" Benar teman. Hewan buas selalu mendatangi kota ini setiap sore hari dan kembali ke hutan ketika menjelang pagi." Jawab pemimpin penjaga.
Pemimpin penjaga menceritakan bahwa sudah banyak para warga yang mati akibat serangan hewan buas.
Karena itulah Walikota di kota itu meminta kepada seluruh warga dan mengumpulkan dari semua desa di wilayah itu untuk bergotong royong membuat tembok yang tinggi.
Dengan demikian masalah serangan hewan buas bisa meminimalisir jumlah korban, sehingga mereka masih bisa bertahan hidup.
" Jika aku membantu kalian, aku meminta bantuanmu untuk membuka goa bawah tanah untuk kami." Ucap Liu Ryu, sambil menatap pria kekar itu.
Pemimpin penjaga tidak menjawab apapun, karena sangat sulit bagi mereka untuk membunuh semua hewan buas yang selalu menyerang kota tersebut.
" Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan membantu kalian untuk menghadapi hewan buas itu." Ucap Liu Ryu, sambil menepuk pundak pria kekar.
" Baiklah teman. Aku akan berjanji membantumu untuk mengambil kunci goa bawah tanah dari walikota, jika anda berhasil membantu kami." Pemimpin penjaga tidak terlalu berharap banyak kepada Liu Ryu, karena sudah banyak para petarung yang kehilangan nyawa ketika berhadapan dengan hewan buas yang jumlahnya terlalu banyak.
Semakin lama, jumlah hewan buas juga semakin banyak, sehingga kota kecil itu seakan dikepung oleh hewan buas, membuat para warga tidak berani keluar dari tembok pertahanan.
" Kalau begitu, aku pamit dulu. Nanti sore hari pasti hewan buas itu kembali kesini." Ucap pemimpin penjaga, lalu meninggalkan tempat tersebut agar Liu Ryu dan kedua Istrinya bisa beristirahat sejenak.
*******
Di seluruh sudut tembok pertahanan kota, kini para penjaga gerbang dan semua warga pria telah bersiap untuk menyambut kedatangan hewan buas.
Liu Ryu dapat merasakan bahwa ada ketakutan di hati mereka, karena serangan hewan buas tidak ada habisnya.
Bahkan walikota dan beberapa kepala desa dari berbagai tempat juga berkumpul di atas tembok pertahanan.
" Bahkan para wanita juga ikut membantu?" Gumam Dewi Arinia, sambil menatap ke berbagai arah dimana terdapat beberapa sosok wanita yang berbaris rapi di atas tembok pertahanan.
" Benar nona... Hanya anak-anak saja yang tidak ikut, karena ini semua demi kelangsungan hidup warga disini." Ucap pemimpin penjaga, sambil menatap lurus ke depan.
Ggooooaaarr!
Ggooooaaarr!
Ggooooaaarr!
Saat hari mulai gelap, kini terdengar suara raungan keras dari hewan buas saling bersahutan dibalik pepohonan.
" Siapkan panah kalian!" Teriak pemimpin penjaga, diikuti seluruh penjaga gerbang dan para warga langsung mengangkat busur panahnya masing-masing.
Dewi Arinia dan Elena juga ikut mengeluarkan busur panahnya untuk menyambut kedatangan hewan buas.
Namun yang membedakan busur panah milik Dewi Arinia dan Elena dari yang lain, dimana anak panah tidak ada.
Sedangkan untuk para warga yang lain, dimana terlihat anak panah menumpuk di depan mereka masing-masing.
Dalam waktu singkat, seluruh kota kecil itu seakan dikepung oleh ratusan hewan buas dari berbagai macam jenis.
Dari berbagai tempat, semua memiliki pemimpin masing-masing, karena para wanita seakan memenuhi semua tembok pertahanan di berbagai penjuru.
" Gawat... Jumlah mereka kali ini terlalu banyak." Pemimpin penjaga berkeringat dingin, karena jumlah hewan buas yang menyerang, sudah tidak terhitung jumlahnya.
Semua yang berada di atas tembok pertahanan juga terlihat pucat, karena setinggi apapun tembok yang mereka ciptakan, seakan tidak mampu untuk menghalau amukan dari hewan buas.
" Elena, kamu bantu mereka untuk menghadapi hewan buas di tembok bagian kiri. Biar aku yang pergi ke tembok bagian kanan." Dewi Arinia memberi isyarat, karena dia sangat yakin para warga tidak mampu menahan amukan hewan buas.
" Baik." Jawab Elena, lalu terbang ke arah tembok bagian kiri, diikuti Dewi Arinia juga terbang ke arah tembok bagian kanan.
Melihat kejadian tersebut, semua berdecak kagum karena sangat jarang ditemukan seorang petarung atau penyihir yang bisa terbang di udara.
" Siapa mereka sebenarnya? Sepertinya mereka orang baru di kota ini."
" Entahlah... Mungkin saja mereka adalah Dewa tertinggi yang turun dari langit."
" Benar teman. Semoga saja mereka bisa membantu kita."
Beberapa warga yang menyaksikan kejadian tersebut, kini berharap penuh kepada ketiga sosok yang sedang membantu mereka.
Tentu jika selamanya mereka terkurung di dalam tembok pertahanan, maka para warga akan kehilangan mata pencaharian untuk menyambung hidup mereka sehari-hari.