
Tanpa membuang waktu, semua prajurit kembali ke Benua Timur, karena mereka sangat segan untuk menyentuh Istri tuan mereka.
Jika bukan karena dalam keadaan terdesak, para prajurit tidak berani menyentuh Sheng Zhishu dan yang lain.
" Semoga saja Yang Mulia Kaisar baik-baik saja dan bisa kembali kesini." Gumam Tou Shuijing, lalu menyimpan kapal udara tempat Istri Liu Ryu berada.
Mereka pun langsung menambah laju kapal, dan mencari cara untuk mencari keberadaan Liu Ryu setelah mengantar para Ratu.
*******
Di sisi lain Liu Ryu berada di tempat yang sangat gelap, dimana di depannya terdapat sebuah cahaya yang sangat terang sehingga dia tidak bisa melihat jelas apa yang ada di sekitarnya.
" Tempat apa ini?" Gumam Liu Ryu, merasakan tubuhnya seakan sedang ditarik ke arah sumber cahaya.
Bahkan hal yang paling buruk dimana Qi milik Liu Ryu seakan tersedot, dimana kulitnya seakan dirobek oleh angin puyuh yang sangat tajam seperti pisau.
Liu Ryu mengumpat dalam hati, karena tubuhnya tidak bisa digerakkan akibat angin yang seakan mengoyak kulitnya.
" Apa-apaan ini." Liu Ryu memasang wajah jelek karena Qi miliknya benar-benar habis terkuras.
Bahkan secara perlahan pandangannya mulai memudar hingga tubuhnya mulai melemah hingga kesadarannya mulai menghilang.
Bboooom!
Saat posisi Liu Ryu sudah dekat dengan sumber cahaya, tubuhnya seakan remuk karena membentur benda yang sangat keras.
*******
Di sisi lain terlihat satu sosok wanita berambut merah dengan sepasang mata berwarna hijau sedang berjalan menuju ke sebuah hutan.
Wanita berambut merah itu menenteng sebuah keranjang di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah tongkat dimana bagian atasnya terdapat permata yang bercahaya.
Sesaat wanita berambut merah mendongakkan kepalanya ke atas, karena dia ada sesuatu yang aneh menuju ke arahnya.
" Me... Meteor?" Gumam wanita berambut merah lalu melompat untuk menjauhi bola cahaya yang berada di depannya.
Bboooom!
Bola cahaya membentur tanah yang berada di depan wanita berambut merah, hingga membentuk kawah besar.
" Jika itu meteor, maka aku bisa hidup kaya." Wanita berambut merah terlihat senang, namun sama sekali tidak menurunkan kewaspadaan, karena kejadian itu tidak pernah terjadi di tempatnya.
Wanita berambut merah berlari ke arah kawah besar yang terlihat mengeluarkan kepulan asap dan debu yang berterbangan.
Membutuhkan waktu yang cukup lama, wanita berambut merah menunggu kepulan asap itu menghilang, hingga terlihat samar-samar bahwa benda yang jatuh itu bukanlah meteor seperti yang dia harapkan. Melainkan sosok manusia yang sedang tidak sadarkan diri.
" Apa dia manusia atau Siluman?" Gumam wanita berambut merah, sambil menatap ke arah sosok yang sedang telungkup di tanah.
Dengan penuh kehati-hatian, wanita berambut merah memeriksa sosok tersebut seperti tidak menggunakan sehelai kain.
" Sepertinya dia manusia. Aku harus menolongnya." Wanita berambut merah melompat ke arah kawah besar, lalu berjalan mendekati sosok tersebut.
Setelah merasakan cukup aman, wanita berambut merah membalikkan tubuh sosok tersebut yang sedang telanjang bulat, membuatnya berkeringat dingin.
Cukup lama wanita berambut merah berdiri mematung, karena benda pusaka milik sosok tersebut memiliki ukuran tidak wajar, membuatnya menelan ludah kasar dengan wajah memerah merona.
Sesaat wanita berambut merah memeriksa keadaan sekitar, untuk mencari cara agar bisa menutupi bagian tubuh sosok tersebut.
Setelah sekian lama mencari cara untuk menutup tubuh sosok tersebut, pada akhirnya wanita berambut merah menggunakan jubahnya untuk menutupi tubuh sosok tersebut yang tidak lain adalah Liu Ryu.
" Sepertinya dia masih hidup. Aku harus menolongnya." Wanita berambut merah mengangkat tubuh Liu Ryu, lalu membawanya keluar dari kawah besar dengan bersusah payah.
Dengan seluruh kemampuannya, wanita berambut merah membawa Liu Ryu di punggungnya dengan berjalan tertatih yang terkadang benda pusaka milik Liu menyentuh bokongnya membuat wajah wanita itu merah merona.
" Nona Elena, siapa orang yang kamu bawa itu?" Tanya salah satu penjaga gerbang di permukiman warga, sambil menunjuk ke arah sosok pria berambut panjang dan berwarna hitam.
Para penjaga merasa heran karena sosok itu tidak memiliki ciri-ciri orang yang tinggal di kota kecil itu yang bernama Kyria.
" Aku menemukan pemuda ini jatuh dari langit." Jawab wanita berambut merah yang bernama Elena, sambil membawa Liu Ryu masuk ke dalam kota Kyria.
Para penjaga itu hanya saling berpandangan, karena mereka tidak berani menyinggung Elena yang merupakan putri dari tuan kota Kyria.
" Kalian bantu aku membawanya ke rumah." Elena yang merasa sudah kelelahan, kini meminta pertolongan kepada para penjaga gerbang.
" Baik nona Elena." Jawab mereka, lalu beberapa sosok langsung mencari sesuatu yang bisa dijadikan untuk menandu sosok yang berada di atas punggung Elena.
Kedua penjaga gerbang tertegun melihat benda yang tidak lazim di tengah kedua paha sosok yang mereka tandu, namun segera menutupinya dengan jubah milik Elena.
' Sihir apa yang bisa membuat benda pusaka bisa sebesar itu?' Pikir kedua penjaga yang menandu Liu Ryu menuju ke kediaman tuan kota Kyria.
Saat berada di depan rumah tuan kota Kyria, Elena langsung meminta kepada mereka untuk membawa Liu Ryu ke sebuah kamar, lalu membaringkan tubuh sosok itu.
Tuan kota yang ikut menyaksikan kejadian itu, sedikit mengerutkan kening, namun tidak sempat bertanya kepada putrinya karena Elena dengan buru-buru meminta kepada salah satu pelayan untuk memanggil seorang tabib kota.
*******
Satu hari telah berlalu, Liu Ryu yang berada di tempat tidur, kini membuka matanya sambil memeriksa keadaan sekitar.
" Ada dimana ini?" Gumam Liu Ryu sambil melihat ke tempat tidurnya yang memiliki corak berbeda dari tempat asalnya.
" Akhirnya kamu sadar juga." Ucap sosok wanita berambut merah yang duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur. " Aku menemukanmu di pinggir hutan. Jadi aku membawamu kesini." Elena menjelaskan kejadian saat dia membawa Liu Ryu ke kota Kyria.
Elena juga memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa Liu Ryu tinggal di kediamannya.
" Kyria?" Liu Ryu sedikit mengerutkan kening karena nama kota tersebut sangat asing baginya.
Sesaat Liu Ryu memeriksa energi alam yang berada di tempat itu, dimana energinya sangat tipis.
Liu Ryu memasang wajah masam, karena dia tidak bisa memulihkan Qi miliknya jika berada di tempat yang memiliki energi alam yang sangat tipis.
Dengan kata lain Liu Ryu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengumpulkan Qi miliknya agar bisa terisi penuh.
" Kalau boleh tau, siapa namamu?" Tanya Elena yang begitu penasaran, karena postur tubuh dan wajah Liu Ryu tidak seperti orang-orang yang berada di tempatnya.
Apalagi dengan rambut Liu Ryu yang memanjang dan berwarna hitam, dimana sepengetahuan Elena, tidak ada satupun yang memiliki penampilan seperti sosok yang di depannya.