SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 390. Kematian Dewa Gurun


Di sisi lain Elena sedikit mengerutkan kening, karena ular derik bermunculan dari timbunan pasir. Bahkan ukuran mereka jauh lebih besar dari biasanya.


" Kenapa ular derik bermunculan pada siang hari?" Elena merasa heran, karena sifat ular derik yang tidak terlalu aktif, kini terlihat lebih agresif.


" Nona Elena, aku yakin kemunculan ular derik ini karena Dewa Gurun yang mengendalikan mereka." Jackson berspekulasi sambil menunjuk ke arah Dewa Gurun yang mengendalikan dua angin puyuh.


Jackson terlihat panik karena ular derik bermunculan dalam jumlah banyak, bahkan semakin mendekati Sandflier yang mereka tumpangi.


Tanpa membuang waktu, Elena langsung mengeluarkan bola cahaya dari tongkat sihirnya, lalu mengarahkan ke arah ular derik.


Wuush! Wuush! Wuush!


Belasan bola cahaya keluar dari tongkat sihir Elena, menuju ke arah ular derik yang mendekati mereka.


Bboooom!


Bboooom!


Bboooom!


Setiap serangan bola cahaya dari Elena, satu-persatu kepala ular derik hancur berkeping-keping.


Namun ular derik yang tersebar ke berbagai arah, seakan tidak menyerah, terus menjalar ke arah Elena yang membunuh rekan mereka.


Wuush! Wuush! Wuush!


Belasan ular derik yang lain melompat ke arah Elena seperti pegas, seakan ingin menggigit Elena.


Wuush! Wuush! Wuush!


Elena juga dengan gesit menghindar dari serangan ular derik, sambil mengayunkan tongkat sihirnya untuk menyerang balik.


Satu-persatu ular derik yang seukuran betis manusia dewasa, mati dengan kepalanya remuk.


" Kenapa jumlah mereka terlalu banyak?" Elena memasang wajah serius, karena semakin lama semakin banyak ular derik yang melesat ke arahnya.


Melihat situasi seperti itu, Elena meminta kepada Jackson untuk masuk ke dalam Sandflier dan menutup pintu, agar tidak terkena serangan dari ular derik.


Beruntung kemampuan Elena sangat kuat, sehingga dia masih mampu mengalahkan ular derik yang awalnya hanya berjumlah belasan hingga semakin lama berjumlah puluhan bahkan ratusan.


Wuush!


Elena melesat ke sebuah arah, agar tidak terkena serangan ular derik yang melompat seperti pegas.


Bboooom! Bboooom!


Bboooom! Bboooom!


Sambil menghindari setiap serangan ular derik, Elena juga menyempatkan untuk membunuh mereka satu-persatu dari serangan sihirnya yang membentuk belasan bola cahaya.


Semakin lama, pertarungan itupun semakin sengit, dimana beberapa dari ular derik sudah menjadi Siluman yang memiliki ukuran lebih besar seperti manusia dewasa dan panjang sekitar 20 meter.


Belasan ular derik Siluman sangat marah karena ratusan bawahan mereka mati di tangan Elena.


" Manusia, mengapa kamu membunuh rakyat kami?" Tanya salah satu dari Siluman ular derik.


" Jangan salahkan aku! Merekalah yang lebih dulu menyerang kami." Ucap Elena, sambil melakukan serangan terhadap puluhan ular derik.


Sesaat belasan ular derik Siluman saling berpandangan, lalu memejamkan mata, seakan sedang berkomunikasi jarak jauh.


Salah satu Siluman ular derik mengangkat tangan kanannya, hingga puluhan ular derik yang kecil menghentikan serangan mereka, lalu berkumpul di hadapan belasan ular derik Siluman.


" Kembalilah ke kediaman kalian! Jangan mengganggu manusia lagi." Salah satu Siluman ular derik, mengibaskan tangannya membuat ratusan ular derik masuk ke dalam pasir.


Melihat kejadian tersebut, Elena langsung meningkatkan kewaspadaan, karena untuk menghadapi belasan ular derik Siluman bukanlah perkara mudah.


" Nona... Mohon maafkan rakyat kami. Sepertinya mereka sedang dikendalikan oleh Dewa Gurun itu." Ucap salah satu Siluman ular derik, sambil menunjuk ke arah Dewa Gurun yang sedang bertarung melawan Liu Ryu.


Melihat belasan ular derik Siluman yang tidak memiliki niat untuk bertarung, Elena langsung berjalan mendekati Sandflier sambil menunggu suaminya menyelesaikan pertarungannya.


*******


Di sisi lain Liu Ryu yang sedang melakukan pertarungan melawan Dewa Gurun, kini langsung mengeluarkan kekuatan penuh, karena dia dapat merasakan bahwa ada beberapa sosok yang memiliki kekuatan besar.


Straaing!


Liu Ryu berpindah tempat ke arah belakang Dewa Gurun, lalu mengayunkan kepalan tangannya.


Melihat Liu Ryu yang sudah berpindah tempat, Dewa Gurun memutar bola matanya. Tidak menyangka bahwa sosok manusia bisa melepaskan diri dari serangan angin puyuh miliknya.


Bboooom!


Sebuah pukulan keras bersarang di tubuh Dewa Gurun, membuatnya terpental puluhan meter diikuti getaran gempa yang sangat kuat.


Wuush!


Liu Ryu melesat ke arah Dewa Gurun yang terpental ke udara, sambil mengayunkan pedangnya.


Craaash!


Tubuh Dewa Gurun langsung terbelah menjadi dua bagian, hingga terlihat gumpalan pasir yang memadat berukuran kecil.


Traaang!


Gumpalan pasir langsung pecah dimana terlihat gumpalan benda kenyal berwarna abu-abu di tempat itu.


" Inti Sel Dewa Gurun?" Gumam Liu Ryu, Lalu mengambil Inti Sel tersebut.


Sesaat Liu Ryu menatap ke arah belasan ular derik Siluman yang memiliki kaki dan tangan layaknya manusia, meskipun wujud mereka masih berbentuk ular.


Liu Ryu dapat merasakan jika dia bertarung melawan belasan ular derik Siluman, maka dengan terpaksa harus mengeluarkan Qi dalam jumlah besar.


Namun situasi itu sama sekali tidak menguntungkan, karena energi alam di tempat itu sangat tipis.


" Jika bukan karena menghemat Qi, akan lebih mudah untuk mengalahkan mereka." Gumam Liu Ryu, lalu berjalan mendekati Sandflier dimana Elena sedang menunggunya.


Begitupun dengan belasan ular derik Siluman, juga melesat ke arah Liu Ryu dan memberikan hormat.


" Salam tuan... Ratu kami ingin mengundang kalian ke Istananya." Ucap salah satu dari Siluman ular derik.


Sesaat Liu Ryu menoleh ke arah Elena, sambil mempertimbangkan segala yang terjadi.


Jika saja di dunia itu memiliki energi seperti di Dunia Tiantang, maka hanya dengan satu kali tebasan, mereka akan mati.


" Jika aku menolak, apa yang ingin kalian lakukan?" Tanya Liu Ryu sedikit menyelidik.


" Mohon maaf tuan. Jika tuan menolak, maka dengan terpaksa kami harus menggunakan cara kasar." Jawab salah satu Siluman ular derik.


Liu Ryu menarik napas dalam-dalam, karena kali ini dia seakan tidak berdaya. Liu Ryu mengumpat dalam hati, karena energi di dunia itu sangat tidak cocok untuknya.


Terlebih jika dia melakukan pertarungan, maka tidak menutup kemungkinan Elena dan Jackson akan terbunuh.


Bahkan Sandflier yang mereka gunakan juga akan hancur berkeping-keping.


" Suamiku." Elena terlihat khawatir, karena situasi mereka sangat tidak menguntungkan.


Di sisi lain Jackson yang baru saja keluar dari Sandflier, kini wajahnya terlihat pucat karena tidak menyangka bahwa mereka dihadapkan dengan prajurit ular gurun.


" Prajurit ular gurun?" Meskipun Jackson belum pernah bertemu dengan mereka, namun dia pernah mendengar bahwa prajurit ular gurun bisa dikatakan sebagai dewa penguasa gurun yang paling ditakuti oleh para petarung legenda bahkan penyihir Legenda.


Elena kini terlihat pucat, setelah mendengar perkataan dari Jackson yang mengatakan bahwa sosok yang sedang ada di depan mereka adalah ' Prajurit ular gurun.'