SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 507. Dunia Peradaban


Saat itu juga puluhan kelompok suci hanyut dalam pikirannya masing-masing, akibat terkena sihir ilusi.


Tanpa membuang waktu, Dewi Malam dan ratu peri merah mulai menghisap darah satu-persatu kelompok suci.


Sementara di pihak kelompok suci, tidak mengeluarkan suara apapun, meski darah mereka terhisap hingga kehilangan nyawa.


Saat semua kelompok suci sudah mati, Batu Bintang yang mereka pegang sebelumnya, kini langsung jatuh ke tanah.


Di sisi lain, ratu peri merah yang bisa menyerap informasi dari korbannya, kini tersenyum lebar karena dia sudah mengetahui bahwa Liu Ryu telah berada di daratan Muktho.


" Tidak menyangka orang itu telah berada disini." Ucap ratu peri merah, sambil menatap ke arah Batu Bintang yang tergeletak di tanah.


Dari ingatan kelompok suci yang menjadi korbannya, benda aneh tersebut bisa menyerap aura kematian.


Namun ratu peri merah tidak bisa mengetahui kemana aura kematian itu dipindahkan, karena hanya Liu Ryu saja yang mengetahuinya.


" Siapa maksudmu?" Tanya Dewi Malam, karena dia tidak memiliki kemampuan khusus seperti ratu peri merah.


" Siapa lagi kalau bukan Liu Ryu." Ucap ratu peri merah, lalu memungut satu-persatu Batu Bintang yang tergeletak di tanah.


Mendengar ucapan tersebut, Dewi Malam terlihat bersemangat, karena dia sudah tidak sabar ingin menghisap darah Liu Ryu.


Sesaat tatapan mata Dewi Malam tertuju pada ratu peri merah yang sedang mengambil benda seukuran kelereng di tanah.


" Benda apa itu?" Tanya Dewi Malam.


" Benda ini memiliki kemampuan untuk menyerap aura kematian. Itu artinya kita bisa mengalahkan para komandan Iblis Merah." Ratu peri merah menjelaskan tentang fungsi dari benda yang dia kumpulkan.


Ratu peri merah juga menjelaskan bahwa benda yang berada di tangannya bisa membuat pasukan Iblis Merah melemah.


" Apa kamu yakin?" Dewi Malam sedikit ragu dengan kemampuan benda di tangan ratu peri merah.


" Jika kamu tidak percaya, aku akan menunjukkan kepadamu." Bersamaan dengan ucapannya, ratu peri merah melemparkan satu Batu Bintang ke arah yang memiliki aura kematian yang sangat pekat.


Buussshh!


Saat itu juga Batu Bintang langsung menghisap semua kabut asap merah yang merupakan wujud dari aura kematian.


" Menarik." Dewi Malam menaikkan alisnya, karena benda tersebut bisa menghisap aura kematian.


Dengan demikian, Dewi Malam dan ratu peri merah bisa menghalau gerombolan pasukan Iblis Merah dan membunuh komandan Iblis Merah.


Tanpa membuang waktu, kedua wanita itupun langsung melesat ke sebuah arah untuk mencari keberadaan komandan Iblis Merah, sebelum berhadapan dengan Liu Ryu.


*******


Di tempat lain, Liu Ryu yang sedang mencari keberadaan pasukan Iblis Merah, kini langkahnya terhenti saat merasakan kelompok suci yang menjadi budaknya telah dibunuh oleh seseorang.


" Tidak menyangka wanita itu bisa berada di tempat ini." Liu Ryu sedikit mengerutkan kening, karena ratu peri merah yang mampu membuatnya tertarik juga berada di daratan Muktho.


Sesaat Liu Ryu menaikan alisnya, karena ada wanita lain yang lebih cantik dari ratu peri merah.


Tanpa membuang waktu, Liu Ryu langsung melesat ke sebuah arah untuk mencari keberadaan Dewi Malam dan ratu peri merah, karena dia tidak ingin kelompok suci yang menjadi budaknya akan dibunuh lagi.


Selama dalam perjalanan, Liu Ryu kembali bertemu dengan kelompok kecil pasukan Iblis Merah yang berencana secara diam-diam mendatangi kediaman para warga.


Namun Liu Ryu tidak melewatkan satupun pasukan Iblis Merah yang melarikan diri, sehingga sebagian mayat mereka dijadikan sebagai makanan ras duyung yang tinggal di Dunia Quzhu.


Sebagian mayat pasukan Iblis Merah, Liu Ryu masukkan ke dalam jurang tanpa dasar tempat Altar Naga Kuno untuk dimurnikan.


Sementara di Dunia Quzhu, keempat Istri Liu Ryu bisa lebih cepat untuk meningkatkan Kultivasi, berkat bantuan energi alam yang sangat murni di Dunia Quzhu.


Saat berada di tengah perjalanan, kini Liu Ryu berpapasan dengan sosok pria sepuh yang rambutnya sudah memutih.


" Siapa kamu?" Tanya Liu Ryu, sambil menatap ke arah pria sepuh yang berdiri di depannya.


Pria sepuh itupun tersenyum ramah, sambil berjalan mendekati Liu Ryu.


" Perkenalkan namaku Ling Tian. Sepertinya kita berasal dari dunia yang sama." Jawab Ling Tian.


" Ling Tian?" Liu Ryu sedikit mengerutkan kening, karena sosok yang berada di depannya adalah ayah mertuanya.


" Salam ayah mertua." Liu Ryu mengepal kedua tangannya, sebagai rasa hormat.


Mendengar ucapan tersebut, Ling Tian merasa heran, karena selama dia berada di Dunia Tiantang, putrinya telah menikah dengan Xu Tianpeng.


" Aku sudah lama meninggalkan Dunia Tiantang dan menjalani kehidupan baru di dunia ini. Jika boleh tau, mengapa kamu memanggilku dengan sebutan ayah mertua?" Ling Tian terlihat penasaran, karena sosok di depannya begitu asing, meskipun mereka berasal dari tempat yang sama.


Liu Ryu menarik napas dalam-dalam, lalu menceritakan tentang situasi yang ada di Dunia Tiantang, hingga dia menikah dengan Ling Huoliang dan 69 wanita Klan Ling.


Liu Ryu juga merasa menyesal karena tidak bisa menyelamatkan istrinya, sehingga putri dari Ling Tian harus kehilangan nyawa.


Mendengar keterangan dari Liu Ryu, Ling Tian menarik napas dalam-dalam, karena dia juga sudah memperkirakan bahwa hal itu bisa terjadi.


Meskipun merasa menyesal karena tidak bisa menyelamatkan putrinya, namun Ling Tian juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena apa yang dia cari di dunia itu masih belum ditemukan.


" Hidup dan mati sebagai makhluk hidup, tidak ada satupun yang mengetahuinya. Bahkan aku sendiri yang sudah hidup lama, masih belum bisa mencapai ranah half Immortal, meskipun aku telah berhasil melepaskan belenggu itu." Ling Tian menghela nafas berat, karena dia hanya bisa mencapai Bintang Dewa.


Jika dibandingkan usianya dengan Liu Ryu, usia Liu Ryu hanya 1% darinya, karena untuk mencapai ranah half Immortal tidak semudah membalik telapak tangan.


" Kamu sungguh beruntung bisa mencapai Bintang Dewa dengan usia masih muda. Jadi aku memiliki satu permintaan untukmu." Ucap Ling Tian, sambil menatap ke arah Liu Ryu.


Ling Tian mengeluarkan sebuah kitab yang dia tulis sendiri, berdasarkan apa yang dia temukan selama hidupnya, lalu memberikan kepada Liu Ryu.


" Ayah mertua, apa ini?" Tanya Liu Ryu, sambil memegang kita di tangannya.


" Menantuku... Itu adalah gambaran umum tentang rahasia alam semesta. Meskipun aku tidak mengetahui tempatnya berada, namun di setiap planet memiliki peradaban tersendiri." Ling Tian menjelaskan bahwa banyak sekali peradaban makhluk hidup yang tinggal di alam semesta.


Salah satunya adalah peradaban Budha, peradaban Taois, peradaban Sihir, peradaban Kuno, peradaban Kultivasi dan masih banyak lagi peradaban yang lain yang semuanya memiliki dunia atau planet tersendiri.