
Para prajurit itupun berjalan dan menggeledah tumpukan mayat untuk mencari barang yang berharga, lalu membuang mayat tersebut ke Dunia Quzhu.
Di sisi lain, Kaisar Haguro dan para Jenderal Besar berjalan mendekati Liu Ryu dengan penuh kekaguman.
" Menantuku... Kamu sangat luar biasa." Kaisar Haguro tidak henti dengan kekagumannya terhadap Liu Ryu yang melampaui Kultivator yang lain di Benua Timur.
Kaisar Haguro juga berharap agar putrinya Haruki bisa melampaui batasannya dengan bantuan dari Liu Ryu.
" Ayah mertua." Ucap Liu Ryu, sambil menundukkan kepala.
" Menantuku... Kamu tidak perlu melakukan seperti itu. Seorang Kultivator tingkat tinggi sepertimu, tidak boleh menunduk kepada siapapun." Kaisar Haguro merasa tidak enak jika justru Liu Ryu yang memiliki kekuatan besar harus menunduk kepadanya, karena itulah jalan sebagai seorang Kultivator.
Yang kuat akan selalu berdiri kokoh, sedangkan yang lemah harus menunduk.
Namun bagi Liu Ryu, menghormati orang yang lebih tua adalah keharusan, tapi tidak untuk seorang musuh.
" Menantuku... Hutan disana sudah tidak memiliki penghuni lagi. Karena kalian telah memenangkan peperangan, maka wilayah itu akan menjadi milik kalian." Ucap Kaisar Haguro, sambil menunjuk ke arah hutan yang sebelumnya tempat kekuasaan suku Raksasa.
" Terimakasih ayah mertua." Liu Ryu terlihat senang, karena dengan demikian dia bisa memindahkan Kerajaan Gu agar menjadi Kekaisaran Gu lagi.
Liu Ryu juga langsung mengirim pesan jiwa kepada Istrinya untuk memberitahukan kepada Kerajaan Gu untuk mempersiapkan kepindahan mereka.
Tidak lama kemudian, para prajurit Kekaisaran Atas Awan telah menyelesaikan tugas mereka, lalu berjalan mendekati Liu Ryu.
" Yang Mulia Kaisar." Ucap mereka serempak.
Liu Ryu pun mengangguk, lalu meminta kepada para prajurit untuk menelusuri wilayah hutan tersebut untuk diberikan kepada Kerajaan Gu.
" Kalian boleh kembali ke Istana, aku ingin melihat hutan ini bersama menantuku." Kaisar Haguro meminta kepada para Jenderal Besar untuk kembali ke Istana bersama para prajurit.
" Baik Yang Mulia Kaisar." Jawab mereka serempak, lalu meninggalkan tempat tersebut.
Tanpa membuang waktu, Liu Ryu dan Kaisar Haguro bersama para prajurit Kekaisaran Atas Awan langsung berjalan menyusuri hutan tersebut untuk mencari tempat yang cocok untuk dijadikan sebagai tempat tinggal.
Dengan kemampuan dari para prajurit Kekaisaran Atas Awan yang sekarang, mereka dengan mudah menumbangkan pepohonan agar kelak bisa dijadikan sebagai jalan utama.
Saat berada di kedalaman hutan, Liu Ryu meminta kepada para prajurit untuk membersihkan wilayah tersebut dari pepohonan yang rindang.
Kaisar Haguro yang kebetulan berada di tempat itu membuka tutup mulutnya lebar-lebar, karena para prajurit Kekaisaran Atas Awan dengan patuh mengikuti perintah Liu Ryu.
" Para prajurit ini memiliki loyalitas yang tinggi. Bahkan untuk membersihkan wilayah ini saja mereka terlihat antusias." Pikir Kaisar Haguro, sambil menatap ke arah para prajurit yang sedang melakukan pekerjaan mereka.
Tentu Kaisar Haguro sedikit tercengang melihat kejadian tersebut, karena sangat langka untuk seorang Kultivator yang mau mengerjakan tugas seperti itu.
" Yang Mulia Kaisar, di bagian barat tempat ini ada banyak sekali Sumberdaya. Apa kita akan mengambilnya?" Tanya Tou Shuijing, sambil menunjuk ke sebuah arah.
Mendengar ucapan tersebut, Kaisar Haguro terlihat bersemangat, karena Sumberdaya adalah hal yang paling penting untuk perkembangan sebuah Kekaisaran.
Meskipun demikian, Kaisar Haguro berusaha untuk menahan diri, karena bagaimanapun dia adalah seorang Kaisar yang tidak ingin harga dirinya turun demi mendapatkan Sumberdaya.
Tou Shuijing pun meminta kepada beberapa prajurit untuk mengisolasi wilayah tersebut sebagai wilayah larangan, agar tidak ada yang berani mendekati tempat tumbuhnya Sumberdaya.
" Ayah mertua... Mari kita melihatnya." Liu Ryu membawa Kaisar Haguro untuk melihat para prajurit yang sedang bekerja di tempat tumbuhnya Sumberdaya.
" Mmmm." Kaisar Haguro mengangguk, lalu berjalan mengikuti Liu Ryu.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di sebuah lembah tempat tumbuhnya Sumberdaya, dimana tidak jauh dari tempat itu ada beberapa bangunan yang merupakan tempat tinggal suku Raksasa sebelumnya.
" Menantuku, dari mana kalian mendapatkan bebatuan khusus ini?" Tanya Kaisar Haguro, saat melihat para prajurit yang sedang membuat tembok besar mengelilingi rawa yang merupakan tempat tumbuhnya Sumberdaya.
Tentu Kaisar Haguro bisa mengenal jenis batu tersebut, karena bisa dibilang sangat langka di Benua Timur.
" Kami mengambilnya dari Benua Dongwei." Liu Ryu berkata dengan jujur, karena menurutnya tidak ada yang berani pergi ke Benua Dongwei, kecuali orang yang pernah tinggal di tempat itu.
" Benua Dongwei?" Gumam Kaisar Haguro, merasa ngeri mendengarnya.
Tentu Kaisar Haguro mengetahui efek dari Benua Dongwei yang bisa menurunkan tingkat Kultivasi seseorang Kultivator, jika berani memasuki benua tersebut.
Liu Ryu menjelaskan bahwa mereka memiliki cara tersendiri untuk pergi ke Benua Dongwei tanpa harus kehilangan tingkat Kultivasi.
Tidak lama kemudian Sheng Zhishu dan Istri Liu Ryu yang lain muncul di tempat itu bersama dengan Raja Gu Fan dan prajuritnya.
Liu Ryu memperkenalkan Istrinya kepada Kaisar Haguro, begitu dengan Gu Fan yang merupakan ayah mertuanya juga.
Perkenalan itu berlangsung cukup singkat, karena Gu Fan langsung memberi perintah kepada bawahannya untuk memindahkan Istana mereka.
" Keluarkan semua Batu Roh yang sudah kita sediakan." Terdengar suara dari Gu Fan dari kejauhan yang sedang memberi perintah kepada bawahannya.
Mendengar ucapan tersebut, Kaisar Haguro menelan ludah kasar, karena proses pemindahan Istana bukanlah perkara mudah, dimana harus memiliki kemampuan khusus dan tentu membutuhkan banyak Batu Roh.
" Seberapa kaya Kaisar Gu Fan ini?" Pikir Kaisar Haguro, sambil menatap ke arah Istana yang tiba-tiba muncul.
" Yang Mulia Kaisar... Di bagian perbatasan Kekaisaran Taiyang bagian utara kami menemukan tambang Batu Roh yang sangat besar."
" Apa kita akan mengambilnya?" Wu Tian yang baru saja muncul dari arah lain, kini langsung menjelaskan tentang apa yang mereka temukan.
Wu Tian juga menjelaskan bahwa tambang Batu Roh tersebut berada di sekitar 200 meter dari perbatasan Kekaisaran Taiyang.
Kini Kaisar Haguro tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena tambang Batu Roh yang mereka idam-idamkan ternyata berada di wilayah kekuasaan suku Raksasa.
" Yang Mulia Kaisar, di bagian barat juga terdapat tambang Batu Roh." Salah satu Jenderal yang juga muncul, kini langsung melaporkan tentang apa yang mereka temukan.
Mendengar ucapan tersebut, Kaisar Haguro merasa sesak napas, memasang wajah masam karena keberuntungan demi keberuntungan terus datang kepada Liu Ryu dan Istrinya.
Meskipun demikian, Kaisar Haguro tidak memiliki hak atas tambang Batu Roh tersebut, karena itu semua adalah milik Istana Kekaisaran Atas Awan.
Liu Ryu yang melihat perubahan dari raut wajah Kaisar Haguro, kini memahami situasi tersebut karena bagaimanapun sebuah Kekaisaran harus membutuhkan harta untuk meningkatkan perkembangan mereka.