
Setelah kejadian sebelumnya, kini perjalanan kapal yang ditumpangi Liu Ryu dan rombongan tidak mengalami kendala apapun, sehingga yang mereka butuhkan hanyalah waktu.
Ketiga bersaudara yang menyadari keanehan dari langit yang berubah berwarna merah, kini mengingatkan kepada Staid dan Priscilla agar tidak melanjutkan perjalanan ke daratan Muktho.
" Tapi kami harus bertemu dengan keluarga kami." Priscilla tetap bersikukuh untuk pergi ke daratan Muktho.
" Kami hanya mengingatkan kepada kalian. Sepertinya ada bencana besar di daratan Muktho."
" Aku pikir daratan Muktho tidak seperti dulu lagi." Muggy menggelengkan kepala, meskipun mereka belum pernah mendatangi daratan Muktho, namun sumber aura kematian itu berasal dari daratan yang masih jauh.
Mendengar ucapan tersebut, Staid dan Priscilla terdiam sejenak, karena apa yang dikatakan tiga bersaudara itu memang benar.
" Semoga saja master Liu Ryu dan ketiga Istrinya mau membantu kita." Staid menaruh harapan besar kepada Liu Ryu dan Istrinya, karena hanya bersama mereka saja keduanya bisa selamat.
" Semoga kalian beruntung." Muggy tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena bagaimanapun kedua sosok itu sangat merindukan keluarganya.
*******
( Daratan Muktho )
Kini daratan Muktho sangat kritis, dimana jutaan hingga milyaran umat manusia telah dihancurkan oleh pasukan Iblis Merah dan hewan buas.
Daratan Muktho yang awalnya tempat tinggal manusia yang paling banyak, kini lebih dari setengah daratan sudah dikuasai pasukan Iblis Merah.
Umat manusia yang sempat menyelamatkan diri, kini harus mengungsi ke beberapa titik kota yang memiliki seorang petarung atau penyihir tingkat tinggi.
Sedangkan sisanya sudah rata dengan tanah, dimana seluruh tanah yang awalnya sangat subur, kini dipenuhi dengan tumpukan mayat manusia hingga hewan buas.
" Pasukan Iblis Merah ini sangat mengerikan." Ucap ratu peri merah yang terbang di udara, sambil menatap tumpukan mayat manusia.
Aroma bangkai pun menyelimuti seluruh daratan Muktho, membuat para manusia yang masih hidup mengidap penyakit kulit yang sangat mengerikan.
Tentu itu semua terjadi karena udara di daratan Muktho sudah tercemar oleh bangkai manusia dan hewan buas, yang hanya menyisakan hewan buas yang sudah berevolusi menjadi Hewan Iblis.
Begitupun dengan air sungai yang sudah tercemar, kini semua ikan saling membunuh, hingga menyisakan ikan yang terkuat dan sudah berevolusi menjadi sosok monster yang sangat mengerikan.
" Aku tidak menyangka bahwa pasukan Iblis Merah melakukan hal sekeji ini." Meskipun Dewi Malam terkenal sangat jahat, namun tidak pernah merusak ekosistem di dalam dunia itu.
" Apa yang harus kita lakukan?" Tanya ratu peri merah.
Meskipun ratu peri merah memiliki ambisi untuk menjadi yang terkuat, namun jika semua makhluk hidup sudah musnah, maka mereka hanya hidup berdua di dunia itu.
" Kita harus membunuh pasukan Iblis Merah sedikit demi sedikit. Jika bertarung melawan mereka sekaligus, kita tidak akan mampu." Jawab Dewi Malam, meskipun kemampuan mereka tidak bisa dianggap enteng.
Namun karena banyaknya pasukan Iblis Merah, tentu mereka akan kerepotan.
*******
Di sebuah kaki gunung, terlihat gerombolan manusia yang sedang berdoa kepada para Dewa agar bisa memberi pertolongan kepada manusia.
Gunung tersebut mereka namakan sebagai gunung dewa, karena hanya tempat itu saja yang udaranya masih bersih, karena dilindungi sihir khusus.
" Ya dewa, tolonglah kami! Tempat kami sedang mengalami bencana besar."
" Ya dewa, tolonglah kami! Tempat kami sedang mengalami bencana besar."
" Ya dewa, tolonglah kami! Tempat kami sedang mengalami bencana besar."
Tujuan mereka tidak lain agar para Dewa bisa turun dari langit untuk membantu umat manusia agar bisa menghadapi pasukan Iblis Merah.
Duaarr!
Sebuah kilatan cahaya membuat langit yang berada di atas gunung dewa seakan terbelah, hingga bermunculan ratusan cahaya.
Cahaya itupun berhenti di atas awan, hingga berubah wujud menjadi sosok manusia yang lengkap dengan alat perang.
Melihat kedatangan para prajurit Dewa, semua yang berada di tempat itu merasa ketakutan sekaligus sangat senang karena para Dewa tertinggi menjawab permohonan mereka yang selama berhari-hari berdoa di tempat itu.
Semua prajurit Dewa itupun terbang dengan menggunakan awan, lalu berhenti di depan para manusia yang berada di kaki gunung dewa.
" Pulanglah! Biar pasukan Iblis Merah menjadi urusan kami." Ucap salah satu sosok Pria sepuh yang rambut dan jenggotnya sudah memutih.
" Tapi dewa... Jika kami keluar dari tempat ini, maka pasukan Iblis Merah akan memburu dan membunuh kami." Ucap salah satu manusia yang berada di kerumunan.
" Tapi kalian tidak boleh tinggal disini terlalu lama. Gunung dewa adalah gunung yang suci. Bukan untuk tempat tinggal manusia rendahan seperti kalian." Ucap salah satu dari prajurit Dewa.
Pria sepuh mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar prajurit Dewa tidak terlalu arogan kepada mereka.
Pria sepuh itu tidak lain adalah Ling Tian atau Dewa Langit yang sudah lama tinggal di alam Dewa.
" Jika kalian sanggup, silahkan berperang secara langsung dengan pasukan Iblis Merah." Ucap Ling Tian sambil menatap ke arah prajurit Dewa secara bergantian.
Mendengar ucapan tersebut, semua prajurit Dewa terdiam sejenak, karena tanpa bantuan Ling Tian, mereka tidak akan mampu melawan pasukan Iblis Merah.
" Sekarang, bersihkan semua wilayah tempat kediaman para manusia yang tersisa!" Ling Tian memberi instruksi kepada prajurit Dewa, agar membersihkan udara di kediaman para warga yang tersisa.
Setelah itu, mereka mengatur rencana untuk menghadapi pasukan Iblis Merah yang memiliki jumlah yang sangat banyak.
" Baik Dewa Langit." Semua prajurit Dewa menjawab dengan serempak, lalu melesat ke berbagai.
Setelah ratusan prajurit Dewa telah pergi, Ling Tian memejamkan mata, sambil memeriksa situasi di dunia itu.
" Dewa Agung." Ling Tian membuka matanya lebar-lebar, karena dia dapat merasakan bahwa ada sosok Dewa yang memiliki kemampuan besar sedang berada di tempat yang sangat jauh.
Meskipun belum mengetahui secara jelas, namun Ling Tian berharap agar sosok itu bisa cepat datang ke daratan Muktho, karena prajurit Dewa tidak bisa diandalkan.
Ling Tian menoleh ke arah semua orang yang berada di tempat itu, lalu meninggalkan tempat itu untuk menghapus energi negatif dari aura kematian yang berada di luar gunung dewa.
" Dunia ini hampir mau kiamat." Gumam Ling Tian sambil menatap hamparan tanah yang kini berubah berwarna merah darah.
Buussshh!
Ling Tian mengibaskan tangannya membuat sebuah kubah pelindung untuk memulihkan kondisi tanah dan udara yang terkontaminasi dengan aura kematian.
Membutuhkan waktu yang cukup lama, kini secara perlahan asap merah yang berada di dalam kubah pelindung, mulai menghilang.
Setelah membersihkan tempat itu, Ling Tian pergi ke tempat yang lain, untuk membersihkan aura kematian yang bisa merusak pikiran makhluk hidup.
Meskipun membutuhkan waktu yang sangat lama, namun hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan nyawa manusia yang masih tersisa.