
Pada akhirnya pria sepuh itupun mau mengantar kelompok bertopeng tersebut, mengingat bahwa secara tidak langsung malapetaka itu berasal darinya.
" Baiklah tuan Pendekar. Aku akan mengantar kalian." Ucap pria sepuh sambil menghela nafas berat.
" Terimakasih paman." Ucap Liu Ryu.
Pria sepuh itupun membawa Liu Ryu dan Istrinya menuju belakang desa, dimana letak gunung yang dia ceritakan.
Sedangkan pemimpin penjaga gerbang tidak bisa ikut, karena dia bertugas untuk menjaga semua kuda yang dimiliki Liu Ryu dan Istrinya.
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di sebuah gunung yang diceritakan oleh pria sepuh, dimana terlihat sebuah jurang dibalik kaki gunung tersebut.
" Tuan Pendekar... Disinilah tempatnya." Ucap pria sepuh, sambil menunjuk ke arah jurang dengan tangan gemetar berkeringat dingin.
" Terimakasih paman. Untuk sekarang, paman boleh kembali." Liu Ryu merasa tidak tega melihat pria sepuh itu yang sangat ketakutan.
" Baik tuan muda. Kalau begitu, aku pergi dulu." Pria sepuh dengan buru-buru meninggalkan tempat tersebut, merasa bulu kuduknya berdiri.
Saat pria sepuh itu sudah pergi, Liu Ryu menatap ke arah jurang yang terlihat biasa-biasa.
Namun yang menjadi pertanyaan bagi Liu Ryu, kenapa ada sebuah jurang dibalik kaki gunung.
" Biar aku yang masuk ke jurang sana! Kalian tunggu disini saja." Ucap Liu Ryu, sambil menoleh ke arah Istrinya.
" Kami juga harus ikut." Jawab Istrinya dengan serempak.
Mendengar ucapan tersebut, Liu Ryu hanya menggelengkan kepala, lalu membawa mereka menuruni jurang tersebut.
Di jurang yang sedalam 20 meter, Liu Ryu berfikir sejenak. Bagaimana pria sepuh itu bisa selamat?
Dengan kata lain Liu Ryu berfikir bahwa pria sepuh itu sebelumnya adalah seorang Kultivator.
" Mungkin saja paman itu memilih hidup tenang menjadi warga biasa." Gumam Liu Ryu sambil melangkahkan kakinya.
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di sebuah pinggir tebing, dimana dibawahnya terdapat sebuah goa yang cukup luas.
Sambil meningkatkan kewaspadaan, Liu Ryu masuk ke dalam goa, yang mengeluarkan aura kuno.
" Suamiku, sepertinya ini bukan sebuah goa. Melainkan bangkai hewan buas." Ucap Tai Bai sambil memeriksa dinding goa yang seperti kerangka seekor Naga yang sudah menjadi batu.
" Aku juga berpikir begitu." Ucap Liu Ryu, sambil memeriksa keadaan sekitar.
Setelah berjalan cukup jauh, kini Liu Ryu dan Istrinya sudah berada di bagian terdalam goa tersebut, yang kemungkinan besar mereka telah berada di bagian perut bangkai Naga yang sudah membatu.
Di tempat itu juga terdapat lima buah Batu besar yang memiliki aura kuno yang sangat kuat, juga terdapat tulisan kuno di batu besar tersebut.
" Sepertinya paman itu mengambil telur naga itu disini." Ucap Liu Ryu, sambil menunjuk ke arah bagian tengah batu besar.
Satu-persatu Istri Liu Ryu membaca tulisan kuno yang berada di batu besar tersebut, namun tidak ada yang mengerti.
" Sepertinya tulisan ini hanya sebuah simbol." Liu Ryu berusaha untuk mengartikan tulisan kuno tersebut.
Meskipun Liu Ryu tidak mengerti tulisan kuno tersebut, namun dia bisa mengetahui maksud dari simbol tersebut.
" Awal mula Ras Naga sebelum adanya manusia?" Gumam Liu Ryu.
" Suamiku, apa kerangka Naga ini adalah salah satu dari Naga Kuno?" Tanya Jinying.
" Naga ini sudah ada sebelum lahirnya para Kultivator. Dapat dipastikan bahwa Naga ini adalah leluhur dari seluruh Ras Naga."
" Untuk mempertahankan telurnya, naga ini menyalurkan energi kehidupan kepada telurnya selama jutaan tahun."
Liu Ryu memperkirakan bahwa telur raksasa yang berada di sungai besar, adalah Naga Kuno.
Naga Kuno tidak bisa dikendalikan oleh siapapun, karena mereka seharusnya hidup pada zaman purba.
" Beruntung Naga Kuno itu baru menetas satu tahun yang lalu. Jika tidak, maka aku menimbulkan malapetaka bagi seluruh dunia ini." Liu Ryu berspekulasi mengenai apa yang dia fahami dari simbol tersebut.
" Apa ini ada hubungannya dengan Organisasi Singa Darah?" Tanya Qin Shuomei.
" Ya... Jika ada yang menggunakan tetesan darah Naga Kuno ini, siapapun mereka pasti bisa berubah wujud menjadi seekor Naga." Ucap Liu Ryu.
" Apa itu termasuk kami yang berasal dari Ras Phoenix?" Tanya Long Que Zhu.
" Benar. Hanya saja perubahan wujudnya berbeda. Terlebih untuk menyerap tetesan darah Naga Kuno, harus memiliki kekuatan spiritual yang sangat tinggi. Jika tidak, maka mereka tidak mampu mengendalikan diri dan hidup layaknya hewan buas."
Liu Ryu menjelaskan kepada Istrinya tentang darah Naga Kuno yang bisa membuat seseorang menjadi makhluk buas yang tidak berhenti memakan korban.
" Sebaiknya kita harus cepat membunuh Naga Kuno itu! Jika tidak, maka dia akan berkembang cepat dan tidak bisa dikalahkan lagi." Tai Bai merasa bahwa keberadaan Naga Kuno terlalu berbahaya jika dibiarkan.
Liu Ryu dan Istrinya yang lain juga memiliki pemikiran yang sama, dimana Naga Kuno harus segera diatasi.
" Ya... Kita harus mencari keberadaan Naga Kuno itu. Tapi sebelumnya..." Ucap Liu Ryu, lalu menoleh ke arah batu besar yang berbaris membentuk segi lima.
" Suamiku, apa itu?" Tanya Sheng Zhishu.
" Itu adalah Altar Naga Kuno." Ucap Liu Ryu.
Sesaat Liu Ryu menancapkan Batu Bintang mengelilingi Altar Naga Kuno, agar bisa dibawa ke Dunia Quzhu.
Tentu untuk menarik Altar Naga Kuno, bukanlah perkara mudah, karena aura kuno yang dilepaskan akan membatalkan berbagai macam teknik.
Sebenarnya Liu Ryu sudah mengetahui bahwa kelima batu besar tersebut adalah prasasti Naga Kuno, dan ditengahnya adalah Altar Naga Kuno, sehingga dia tidak akan membiarkan benda berharga tersebut jatuh ke tangan orang lain.
" Sepertinya kita tidak perlu mengambil darah Naga Kuno yang berada di kedalaman Ras Naga Langit." Sheng Zhishu memiliki pemikiran lain untuk membunuh Naga Kuno yang tinggal di sungai besar.
" Jangan bertindak gegabah. Jika salah sedikit, kita akan menjadi seekor hewan buas." Ucap Liu Ryu sambil menancapkan Batu Bintang.
Setelah semua selesai, Liu Ryu menggunakan kekuatan spiritualnya, lalu menyatukan kedua telapak tangannya.
Buussshh!
Altar Naga Kuno dan Prasasti Naga Kuno menghilang dari pandangan dimana langsung berpindah tempat ke Dunia Quzhu.
" Pantas saja paman itu kehilangan kendali hanya karena menyentuh telur Naga Kuno itu. Apalagi jika menyerap darahnya." Huli Yue berspekulasi tentang apa yang terjadi pada pria sepuh sebelumnya.
" Lebih baik kita kembali ke desa." Ucap Liu Ryu, lalu berpindah tempat ke belakang desa diikuti Istrinya.
Setelah berada di desa, Liu Ryu meminta kepada para warga untuk meminjamkan sebuah kapal untuk mencari keberadaan Naga Kuno, meskipun dia memiliki Kapal Assosiasi Senjata.
Namun Liu Ryu tidak mau ada yang mengetahui Kapal Assosiasi Senjata, karena bisa menjadi bahan perhatian orang banyak.