
Kini kedua wanita itu saling berpandangan karena Sumberdaya yang dibutuhkan Liu Ryu sangat sulit untuk didapatkan di dunia mereka.
" Tidak ada cara lain, kecuali harus memberikan energi Yin milik kita sebanyak mungkin. Lagi pula ketika kita melakukan Kultivasi Ganda, kemampuan kita juga semakin meningkat." Ucap Dewi Arinia, karena dia tidak ingin melihat suami mereka larut dalam kesedihan.
" Sekalipun kita ada dua, namun kemampuan suami kita tidak bisa dianggap remeh. Pantas saja dia memiliki banyak Istri." Elena menggelengkan kepala karena, mereka tidak mampu mengimbangi keperkasaan suami mereka.
Kini keduanya sepakat untuk meningkatkan kualitas fisik lebih kuat lagi, dimana Elena memberikan Pil Pelangi kepada Dewi Arinia.
Elena memberikan tetesan darahnya kepada Dewi Arinia agar wanita itu bisa menggunakan sihir keluarga mereka.
Begitupun sebaliknya, Dewi Arinia juga memberikan tetesan darahnya kepada Elena, agar memiliki kemampuan yang dimiliki Dewa dan Ular Gurun.
Kedua wanita itu mengambil posisi duduk bersila saling berhadapan, untuk menyalurkan kekuatan masing-masing.
Setelah beberapa saat, kini Dewi Arinia dan Elena sudah menyelesaikan proses pemindahan kemampuan khusus, sehingga kemampuan mereka akan setara.
Dengan pemahaman Kitab yang mereka pelajari sebelumnya, Dewi Arinia dan Elena telah sepakat untuk menjadi seorang praktisi yang menggunakan budidaya atau Kultivasi untuk meningkatkan Kultivasi mereka.
Meskipun keduanya menggunakan teknik Kultivasi, namun cara mereka sedikit berbeda dari para Kultivator yang lain.
" Dengan kemampuanku sekarang sepertinya hanya mencapai Pendekar Surgawi tahap menengah. Sangat jauh dari cukup." Elena tersenyum pahit karena dibandingkan dengan Liu Ryu, kemampuannya terlampau jauh.
Di sisi lain Liu Ryu yang menyadari kedua Istrinya yang menjadi seorang Kultivator, kini hanya menggelengkan kepala lalu berpindah tempat ke Istana Kristal.
" Suamiku." Kedua wanita itu sontak kaget karena Liu Ryu muncul secara tiba-tiba.
" Jika kalian ingin menjadi seorang Kultivator, kalian harus memahami tentang Qi yang kalian miliki." Agar tidak ada kesalahan, Liu Ryu menuntun kedua Istrinya untuk memahami tentang Qi.
Liu Ryu meminta kepada mereka untuk memejamkan mata, agar bisa masuk ke dalam lautan Qi mereka.
Saat keduanya sudah dalam posisi duduk bersila, Liu Ryu menyentuh kening kedua wanita itu untuk mengajarkan mereka tentang cara Berkultivasi.
Kini secara perlahan Dewi Arinia dan Elena mulai memahami potensi yang mereka miliki, sehingga sudah mengetahui berbagai letak dantian, meridian hingga lautan Qi.
" Sepertinya proses pengumpulan Qi dan pengumpulan manna hampir sama. Hanya saja di dunia ini masih belum ada yang mengembangkan pengumpulan manna agar lebih luas lagi." Liu Ryu menjelaskan kepada mereka berdua melalui alam kesadaran.
Tentu saja semua itu terjadi karena energi alam di dunia yang mereka tinggali sangat tipis, sehingga para petarung atau penyihir sangat kesulitan untuk mengembangkan diri.
" Elena, lautan Qi milikmu masih sebesar kolam kecil. Jadi kamu harus meningkatkannya lagi." Ucap Liu Ryu, sambil menuntun mereka.
" Baik Suamiku." Jawab Elena.
" Arinia... Meskipun lautan Qi milikmu sedikit luas, namun masih jauh dari kata cukup." Liu Ryu melihat lautan Qi milik Dewi Arinia sebesar danau, namun untuk memperluasnya lagi, dia harus berusaha keras.
Setelah menjelaskan semuanya, Liu Ryu kembali meminta kepada mereka untuk membuka mata.
Hal yang ada di pikiran Liu Ryu sekarang, bagaimana cara meningkatkan Kultivasi Dewi Arinia dan Elena, karena energi alam di dunia itu sangat tipis.
" Aku lihat di tempat ini banyak sekali tumpukan Batu Roh, jadi aku rasa dengan menggunakan Batu Roh, tingkat Kultivasi kami bisa meningkat pesat." Dewi Arinia yang sudah mengetahui nama benda yang menumpuk di belakang Istana, kini mengambil cara yang berbeda.
Terlebih keduanya baru pertama kali memahami tentang Kultivasi, sehingga mereka bisa meningkatkan Kultivasi dengan menggunakan Batu Roh yang memiliki energi alam cukup padat.
" Kalian boleh mengambil Batu Roh sebanyak mungkin! Aku harap kalian bisa lebih kuat lagi." Ucap Liu Ryu yang diikuti anggukan dari kedua Istrinya.
Tanpa membuang waktu, Dewi Arinia dan Elena langsung bergegas menuju tempat tumpukan Batu Roh, lalu mengambil tempat untuk Berkultivasi di pinggir danau tersebut.
Di sisi lain Liu Ryu terlihat kebingungan karena di tempat itu dia tidak bisa menciptakan Portal Teleportasi, sehingga tidak bisa kembali ke Dunia Tiantang.
" Aku yakin pasti ada cara lain untuk kembali ke Dunia Tiantang. Mungkin di suatu tempat pasti ada Altar Kuno yang bisa menghubungkan antara dunia lain." Gumam Liu Ryu sambil memikirkan cara untuk mencari Informasi tentang keberadaan Altar Kuno.
Jika Liu Ryu berhasil menemukan Altar Kuno, kemungkinan besar dia bisa menggunakannya untuk kembali ke Dunia Tiantang.
" Sebaiknya aku membuat senjata untuk mereka berdua." Gumam Liu Ryu, lalu berjalan menuju ruang Sumberdaya.
Di ruang Penempa, Liu Ryu mengambil beberapa bahan yang dia perlukan untuk membuat senjata.
Tidak lupa Liu Ryu juga menciptakan Cincin pemulihan untuk Dewi Arinia juga untuknya sendiri, karena Cincin miliknya sudah diberikan kepada Elena.
Karena sebelumnya Elena menggunakan tongkat sihir untuk bertarung, kini Liu Ryu berniat untuk menciptakan sebuah panah yang bisa digunakan sebagai pedang sabit ketika bertarung dalam jarak dekat.
Begitupun untuk Dewi Arinia, Liu Ryu juga menciptakan senjata yang sama, yaitu dua pedang sabit yang jika digabungkan akan menjadi busur panah.
*******
Tiga hari kemudian, kini Dewi Arinia dan Elena telah menyelesaikan Kultivasi mereka, karena sudah waktunya mereka akan menyerang Istana raja Siluman Kalajengking Gurun.
" Selamat! Sepertinya kalian tidak mengecewakanku." Liu Ryu tersenyum puas karena Elena sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap akhir dan Dewi Arinia sudah mencapai Pendekar Semesta tahap akhir.
" Ini semua berkat Batu Roh yang berlimpah." Jawab Dewi Arinia, sambil berjalan mendekati Liu Ryu.
Liu Ryu pun mengangguk, lalu memberikan sebuah Cincin kepada Dewi Arinia. Tanpa berkata apapun Dewi Arinia langsung memakai Cincin pemulihan, karena dia sudah mengetahui benda itu karena mirip dengan cincin yang dimiliki Elena.
Sesaat Liu Ryu memberikan baju Zirah kepada kedua istrinya, karena itu akan membantu mereka ketika sedang bertarung.
" Suamiku, apa ini? Apa tidak gerah jika memakainya?" Dewi Arinia merasa keberatan jika menggunakan baju Zirah.
" Gunakan saja! Aku tidak mau kalau Istriku memperlihatkan bagian tubuhnya kepada orang lain." Liu Ryu berkata dengan jujur, karena Dewi Arinia selalu menggunakan penutup dadanya saja, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona.
Terlebih pakaian bagian bawahnya, hanya menutup bagian bawah pinggang hingga sampai atas lutut, sehingga sebagai seorang suami, Liu Ryu tidak ingin kemolekan tubuh Istrinya dipertontonkan.
" Haaah." Dewi Arinia hanya bersikap pasrah, karena dia tidak berani menolak permintaan suaminya.
Namun ketika Dewi Arinia menggunakan baju Zirah, dia merasakan baju Zirah itu sangat lembut sehingga dia tidak merasa gerah sedikitpun.