
Pada keesokan harinya, Liu Ryu dan semua Istrinya keluar dari Dunia Quzhu dan kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kota di perbatasan utara Kekaisaran Han tempat dibukanya hutan larangan.
Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat sekarang, sehingga Liu Ryu dan Istrinya bisa menempuh perjalanan selama beberapa jam dengan terbang.
Setelah mendekati kota perbatasan Kekaisaran Han dan Kekaisaran Taiyang, Liu Ryu dan Istrinya mendarat di pinggir hutan lalu menggunakan kuda mereka untuk menuju kota tersebut.
" Suamiku... Apa kita mencari penginapan untuk bermalam?" Tanya Xin Chie.
" Ya... Disana juga kita harus mencari berbagai informasi." Ucap Liu Ryu, sambil memacu kudanya.
Tidak lama kemudian Liu Ryu dan Istrinya telah sampai di sebuah kota perbatasan, dimana banyak sekali para Kultivator dari berbagai Klan.
Baik itu yang muda, hingga sampai yang sudah tua, dimana tidak memiliki batasan usia ataupun Kultivasi.
Bahkan ada beberapa Kultivator yang sudah mencapai Bintang Raja juga ikut berpartisipasi untuk memasuki hutan larangan.
" Suamiku, sepertinya untuk memasuki hutan larangan tidak sesederhana yang dipikirkan." Bisik Huli Yue, sambil menatap beberapa sosok yang sedang mengantri di depan pintu gerbang.
" Ya... Kita harus mencari tau apa yang terjadi di hutan larangan." Liu Ryu memperkirakan bahwa ada sesuatu yang sangat berharga di hutan larangan.
Di sisi lain banyak sekali pasang mata yang tertuju pada kelompok berkuda yang terkesan sangat elit dan memiliki pengaruh besar.
Terlebih atribut yang digunakan Liu Ryu dan Istrinya tentu mengundang perhatian orang banyak, karena menggunakan topeng dan baju Zirah.
Saat beberapa sosok sedang berdiskusi tentang penampilan kelompok bertopeng dengan berbagai macam tanggapan, kini muncul sosok pria yang menggunakan pakaian mewah, lengkap dengan mahkota dengan menggunakan kereta.
Pria itupun berdiri di atas keretanya sambil menatap ke arah beberapa kelompok yang sedang mengantri untuk masuk ke dalam kota tersebut.
" Aku adalah Walikota yang diperintahkan oleh Yang Mulia Kaisar Han Kiang untuk membawa kalian ke hutan larangan."
" Karena hutan larangan adalah aset paling berharga bagi Kekaisaran Han, maka pihak Istana memungut biaya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya."
" Kalian sudah tau sendiri bahwa setiap satu juta tahun akan muncul sesuatu yang berharga di hutan larangan."
" Untuk itu pihak Kekaisaran Han memungut biaya sebesar 10.000 Batu Roh dari setiap Kultivator yang ingin memasukinya." Walikota yang menyampaikan perintah dari Kaisar Han Kiang.
Mendengar ucapan tersebut, para Kultivator saling berpandangan, karena biaya yang dikeluarkan sangatlah mahal.
Namun setelah mengingat lagi bahwa kemunculan sesuatu yang berharga hanya terjadi sekali dalam satu juta tahun, maka mereka harus mengikuti aturan tersebut.
" Aku tidak menyangka harus mengeluarkan biaya sebesar ini hanya untuk memasuki hutan larangan." Beberapa Kultivator memasang wajah masam karena biaya yang dikeluarkan sangat besar.
Sementara Liu Ryu dan Istrinya hanya tersenyum dibalik topeng mereka, saat melihat ekspresi dari beberapa Kultivator yang tidak ada kebahagiaan sedikitpun dari raut wajahnya.
" Sekarang kalian boleh mendaftar diri di meja yang telah disediakan." Walikota menunjuk ke arah beberapa meja yang berjejer di samping pintu gerbang.
Tentu kota perbatasan untuk sementara waktu ditutup untuk umum, karena hutan larangan akan terbuka, sehingga hanya Kultivator yang ingin memasuki hutan larangan saja yang boleh masuk.
Kini para Kultivator mulai mendaftarkan diri agar bisa masuk ke dalam kota tersebut dan ikut masuk ke hutan larangan.
Begitupun dengan Liu Ryu dan Istrinya, mereka langsung berjalan mendekati meja pendaftaran.
Liu Ryu sama sekali tidak memperdulikan tatapan dari beberapa Kultivator, karena dia tidak ingin penginapan akan penuh jika mereka terlambat.
" Tuan Pendekar... Anda berasal dari mana?" Tanya salah satu petugas yang berjaga di meja tersebut, sambil menatap ke arah Liu Ryu dan Istrinya.
Tanpa menjawab apapun, Liu Ryu langsung mengeluarkan Lencana milik Kekaisaran Han, membuat petugas tersebut berkeringat dingin.
Melihat Lencana yang dikeluarkan oleh Liu Ryu, para Kultivator yang awalnya sangat marah karena Liu Ryu telah mendahului mereka, kini langsung memberikan jalan kepada Sheng Zhishu dan yang lainnya.
Tentu mereka tidak berani berurusan dengan pihak Istana Kekaisaran Han, karena mereka masih dibawah kekuasaan Klan Han.
" Tuan Pendekar... Meskipun kalian adalah utusan dari Kekaisaran Han, tapi ini juga perintah dari Kaisar Han Kiang." Ucap petugas sambil menyeka keringatnya.
Tentu petugas tersebut berfikir bahwa kelompok bertopeng ingin memasuki hutan larangan secara gratis, sehingga akan membuat para Kultivator yang lain merasa iri.
" Tidak masalah penjaga. Kami juga mengikuti aturan. Aku mendaftar untuk 130 orang." Ucap Liu Ryu lalu mengeluarkan Batu Roh, dengan jumlah yang dibutuhkan.
Liu Ryu juga memahami bahwa Batu Roh tersebut, sebagian digunakan untuk membuka hutan larangan.
" Terimakasih tuan Pendekar. Plakat ini digunakan untuk memasuki hutan larangan. Tanpa Plakat ini, tidak ada yang bisa masuk." Ucap petugas, lalu memberikan Plakat sebanyak 130 kepada Liu Ryu.
Dengan sebuah anggukan, Liu Ryu mengambil Plakat tersebut lalu membawa Istrinya masuk ke dalam kota.
Sementara Walikota yang menyaksikan jalannya proses pendaftaran hanya bisa berdiam diri, karena harus menjalankan tugasnya untuk mengawasi Kultivator yang mendaftar.
Di sisi lain, Liu Ryu dan Istrinya yang sudah berada di dalam kota, kini langsung mencari Rumah Sumberdaya terlebih dulu sebelum mencari penginapan.
Selesai memborong Sumberdaya, Liu Ryu dan Istrinya kembali mencari sebuah penginapan, dimana sudah banyak yang berdatangan.
Saat berada di depan penginapan, salah satu sosok berlari untuk menghampiri Liu Ryu dan Istrinya.
" Selamat datang di penginapan ini tuan Pendekar." Ucap pelayan pria, sambil menundukkan kepala.
" Mmmm.. Pelayan, rawat kuda kami untuk beberapa hari." Ucap Liu Ryu, lalu memberikan satu kantong Batu Roh.
" Tuan Pendekar tidak perlu khawatir. Kami akan merawat kuda-kuda ini dengan nyawa kami sendiri." Ucap pelayan, karena kuda yang dimiliki Liu Ryu dan Istrinya bukan kuda sembarangan.
Bahkan dengan nyawa mereka sendiri tidak mampu membeli satu kuda itu, apalagi dengan jumlah banyak.
" Terimakasih pelayan." Ucap Liu Ryu, lalu membawa Istrinya masuk ke dalam penginapan.
Sementara pelayan yang ditugaskan untuk merawat kuda-kuda tersebut, kini terlihat senang karena jumlah Batu Roh yang diberikan oleh Liu Ryu sangatlah banyak.
" Mereka sangat dermawan. Batu Roh ini melebihi gaji kami selama tiga tahun." Gumam pelayan, lalu memanggil rekannya untuk membantu.
" Saudara... Apa tipa kita cukup banyak?" Tanya salah satu pelayan yang datang.
" Bukan cukup banyak lagi, tapi sangat banyak. Sudah, kita rawat kuda-kuda ini dengan baik dan jangan sampai ada kesalahan. Nanti aku akan membagikan Batu Roh ini kepada kalian." Ucap pelayan kepada rekannya.
Tanpa membuang waktu, beberapa pelayan pria langsung membawa kuda tersebut ke tempat penitipan kuda.