SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 450. Mencari Informasi


Di tempat lain, rombongan Liu Ryu yang sudah berada di kota pelabuhan daratan Kwunko, kini keluar dari kapal, dimana kota itu jauh lebih ramai dari kota pelabuhan di daratan Efhoria.


" Master, kami hanya bisa mengantarkan kalian disini saja. Untuk pergi ke daratan Muktho, tidak ada jalur lain." Zigas memberitahukan bahwa jalur menuju daratan Muktho sangat berbahaya.


Angin yang berada di lautan untuk pergi ke daratan Muktho sangat sulit untuk ditaklukkan, sehingga kapal mereka bisa menghempaskan batu karang yang berada di tempat yang dangkal.


" Tidak masalah teman. Terimakasih karena sudah membantu kami." Ucap Liu Ryu, lalu memberikan satu kantong berisi koin.


Namun ketiga bersaudara menolak secara halus atas pemberian dari Liu Ryu, karena mereka percaya jika seorang diberkahi oleh Dewa Laut, maka para pelaut tidak boleh meminta upah sepersen pun.


Itulah prinsip yang dipegang oleh tiga bersaudara, karena mereka percaya bahwa kedepannya mereka selalu diberkahi oleh Dewa Laut.


" Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu." Liu Ryu juga tidak bisa memaksa, karena itu adalah aturan seorang pelaut.


" Jika kalian menunjukkan batu laut itu kepada pemilik kapal yang lain, maka mereka akan mengantarkan kalian ketika ingin kembali ke daratan Efhoria." Ucap Zigas dengan nada tinggi, sambil melambaikan tangannya kepada rombongan Liu Ryu.


Liu Ryu dan yang lain mengangguk kecil, lalu melanjutkan langkah mereka untuk mencari seseorang yang bisa menunjukkan jalan agar bisa pergi ke daratan Muktho.


Sudah banyak tempat Liu Ryu bertanya kepada para warga di kota itu, namun tidak ada satupun yang mengetahui jalur menuju daratan Muktho.


" Master... Lebih baik kita bertanya kepada seseorang yang berada di penginapan saja! Biasanya ada seorang petualang yang mengetahui jalur itu." Staid memberi usul, karena hanya seorang petarung atau penyihir yang sering berpetualang saja yang mengetahuinya.


Sedangkan untuk para warga biasa, sangat sulit untuk ditemukan, karena mereka tidak pernah bepergian ke tempat yang lain.


" Baiklah, kita akan kesana." Liu Ryu mengangguk kecil, lalu berjalan untuk mencari penginapan.


Setelah menemukan penginapan, Liu Ryu membawa mereka untuk menginap sambil mencari informasi dari para petualang.


Setelah memesan kamar dan membayar biaya penginapan, Liu Ryu memperhatikan keadaan sekitar, lalu menoleh ke arah pelayan di depannya.


" Pelayan... Apa kamu mengetahui siapa para petualang yang berada di kota ini?" Tanya Liu Ryu.


Pelayan itupun menarik nafas dalam-dalam, sambil mengingat para tamu yang pernah menginap di penginapan itu.


Sesaat tatapan mata pelayan tertuju pada sosok pria yang berpakaian lusuh yang sedang menikmati hidangan di lantai dasar.


" Jika tuan ingin bertanya, silakan bertanya kepada pri itu. Tapi tuan jangan terlalu percaya kepadanya, karena ucapannya terlalu berlebihan." Ucap pelayan, sambil menunjuk ke arah pria yang terlihat Kumal sedang menikmati hidangan di atas meja.


" Terimakasih pelayan." Liu Ryu memberikan satu koin perak, lalu berjalan mendekati pria berpakaian lusuh.


Liu Ryu tersenyum ramah, lalu duduk di depan pria yang tengah sibuk menikmati hidangan.


Melihat Liu Ryu yang duduk di depannya, pria itupun menghentikan suapannya, lalu melirik ke arah Liu Ryu.


Sesaat pria itu melanjutkan menikmati hidangan, namun tidak buru-buru seperti sebelumnya, seakan memikirkan sosok yang berada di depannya.


" Saudara... Apa kamu mau makan? Kita bisa berbagi makanan ini." Ucap pria itu, sambil menyodorkan piring miliknya kepada Liu Ryu.


" Tidak! Terimakasih saudara. Aku datang kesini karena ada hal yang ingin aku tanyakan." Ucap Liu Ryu, lalu melambaikan tangannya kepada salah satu dari.


Tentu banyak yang menjauhi pria lusuh itu, karena aroma keringatnya seakan tercium oleh para pengunjung yang lain.


Namun Liu Ryu sama sekali tidak memperdulikan aroma keringat pria lusuh, karena dapat dipastikan pria itu melakukan pekerjaan berat atau melakukan latihan yang sangat keras.


Liu Ryu dapat memastikan bahwa pria lusuh itu telah banyak melewati berbagai tempat, sehingga ada dari jenis tumbuhan yang menempel pada tubuhnya, sehingga aromanya sangat menyengat.


" Pelayan... Tambahkan hidangan dan arak untuk temanku ini." Ucap Liu Ryu, sambil memberikan satu koin emas.


" Ba... Baik tuan." Pelayan itupun terlihat senang karena, satu koin emas sangat berharga bagi mereka.


Meskipun terus menikmati hidangan miliknya, pria lusuh sesekali melirik ke arah Liu Ryu dengan berbagai pertanyaan di pikirannya.


Tidak lama kemudian, dua pelayan datang dengan membawa hidangan ke atas meja yang ditempati Liu Ryu.


" Silahkan dinikmati tuan." Ucap salah satu pelayan, lalu dengan buru-buru meninggalkan tempat itu.


Liu Ryu mengangguk pelan, lalu memberikan arak dan makanan kepada pria lusuh, karena dia dapat melihat bahwa sosok itu sedang kelaparan.


Tanpa berkata apapun, pria lusuh mengambil makanan tersebut, namun tidak mau mengambil arak.


Setelah cukup lama menikmati hidangan, pria lusuh mulai terlihat senang, lalu menatap ke arah Liu Ryu dengan tatapan bersahabat.


" Terimakasih atas perhatian saudara. Jika boleh tau, apa yang ingin saudara tanyakan?" Pria lusuh yang sudah kekenyangan, kini mulai berbicara kepada Liu Ryu.


" Aku hanya ingin bertanya kepadamu tentang cara menuju daratan Muktho." Liu Ryu mulai mengutarakan tujuannya.


Sesaat pria itu menarik napas dalam-dalam, lalu melihat sekitarnya, seakan memiliki ketakutan tersendiri.


" Suku lumut... Iya benar, suku lumut. Tidak, aku tidak ingin bertemu dengan mereka lagi." Pria lusuh itu seakan memiliki rasa trauma, sambil memakup kepalanya.


" Saudara, kamu jangan percaya kepada pria aneh itu! Mana mungkin ada suku lumut tinggal di daratan ini." Salah satu sosok dari meja yang lain, meminta kepada Liu Ryu agar tidak mempercayai perkataan dari pria lusuh.


Bahkan beberapa pengunjung rumah makan yang pernah mendengar ucapan dari pria lusuh tentang suku lumut, juga tidak mempercayai pria itu.


Namun bagi Liu Ryu yang pernah berpetualang ke berbagai tempat, sehingga sesuatu yang aneh sudah sering dia temui.


" Tidak masalah saudara... Aku hanya ingin berbicara lebih jauh kepada temanku ini." Liu Ryu terlihat penasaran dengan ucapan dari pria lusuh.


" Terserah saudara saja. Jangan sampai pria aneh itu menipumu." Salah satu sosok dari meja yang lain kembali mengingatkan kepada Liu Ryu.


Liu Ryu hanya tersenyum, lalu menoleh ke arah pria lusuh.


" Saudara... Apa yang kamu ketahui tentang suku lumut?" Tanya Liu Ryu.


" Saudara... Suku lumut itu sangat mengerikan. Tubuh mereka dipenuhi oleh rambut aneh berwarna hijau yang menutupi seluruh tubuh mereka." Pria lusuh itu menjelaskan tentang apa yang dia lihat saat dia ingin pergi ke daratan Muktho.


Namun pria lusuh itu mengurungkan niatnya, karena perjalanannya dihalangi oleh suku lumut agar tidak pergi ke daratan Muktho.