
Melihat keenam batu laut yang berada di tangan mereka, ketiga bersaudara tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena dengan adanya batu laut itu, mereka tidak berani melanggar perintah Dewa Laut.
" Baiklah, kalian boleh naik ke kapal." Ucap Zigas, lalu meminta kepada anak buahnya menurunkan tangga.
Tanpa membuang waktu, Liu Ryu dan rombongannya langsung masuk ke dalam kapal, dimana tiga bersaudara langsung masuk ke dalam kapal untuk mengantar Liu Ryu dan rombongan.
*******
( Daratan Muktho )
Di sebuah tempat, terlihat dua sosok wanita yang sedang berada di sebuah Altar Kuno, sambil menatap beberapa sosok yang sudah kehilangan nyawa.
Dua sosok wanita itu tidak lain adalah Dewi Malam dan ratu peri merah yang sedang menjalankan rencana mereka.
Sedangkan puluhan sosok yang kehilangan nyawa adalah para bawahan Xu Tianpeng yang sedang menggunakan portal teleportasi ke dunia itu.
" Tidak menyangka jika bawahan dari Xu Tianpeng ini memiliki kekuatan besar." Ucap Dewi Malam, sambil mengusap darah yang berada di mulutnya.
Begitupun dengan ratu peri merah, juga sangat senang karena banyak darah yang dia hisap dari bawahan Xu Tianpeng.
" Aku ingin kekuatan yang lebih besar lagi! Aku ingin darah mereka." Ratu peri merah merasa masih belum puas, meskipun dia sudah menghisap darah dari puluhan bawahan Xu Tianpeng.
Melihat tingkah ratu peri merah, Dewi Malam tersenyum lebar karena ambisi wanita itu jauh lebih besar darinya.
Sesaat Dewi Malam dan ratu peri merah terdiam sejenak, karena ada aura kematian yang sangat kuat menutupi langit di daratan Muktho.
" Pasukan Iblis Merah?" Dewi Malam dan ratu peri merah memasang wajah serius, karena tidak menyangka bahwa pasukan Iblis Merah juga berada di dunia itu.
Duaarr! Duaarr! Duaarr!
Suara gemuruh dari langit, membuat wilayah sekitar menjadi berwarna merah, diikuti aura kematian yang menyebar ke berbagai tempat.
Seketika awan dan langit berubah warna menjadi merah, membuat semua manusia yang tinggal di daratan Muktho merasakan bulu kuduk mereka merinding.
Di sebuah kota yang cukup besar, kini terlihat tujuh penyihir Legenda sedang menatap langit yang berwarna merah.
" Ini benar-benar sebuah bencana bagi penghuni daratan Muktho." Ketujuh penyihir Legenda memasang wajah serius, karena kekuatan pasukan Iblis Merah sudah diluar kemampuan manusia.
Tidak lama kemudian, terlihat sosok berpakaian lengkap baju Zirah, berlari ke arah tujuh penyihir Legenda.
" Salam master semuanya." Ucap sosok tersebut, sambil menundukkan kepala.
" Mmmmm... Apa yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Penyihir Putih sambil menatap ke arah sosok tersebut.
" Master... Kami sudah mengungsikan para warga agar tinggal di kota ini." Pria kekar itu menjelaskan tentang tugas mereka yang sudah selesai.
Pria kekar itu juga menjelaskan bahwa keluarga Edison juga menyumbangkan semua senjata api yang mereka ciptakan untuk membantu pertahanan kota itu dari serangan pasukan Iblis Merah.
" Meskipun senjata api yang diciptakan oleh keluarga Edison sangat kuat, namun itu tidak bisa membunuh pasukan Iblis Merah." Penyihir Putih menjelaskan bahwa berbagai jenis senjata ciptaan keluarga Edison hanyalah senjata biasa yang tidak memiliki kemampuan khusus.
" Tapi master... Senjata yang mereka sumbangkan memiliki kekuatan serangan yang sangat mematikan." Pria kekar langsung memberi isyarat kepada bawahannya untuk membawa jenis senjata yang dia maksud.
Beberapa sosok itupun mengangguk pelan, lalu pergi ke suatu tempat untuk mengambil senjata yang digunakan untuk melindungi tembok pertahanan kota itu.
Tidak lama kemudian, para prajurit datang dengan membawa sebuah gerobak yang memiliki tabung yang terbuat dari benda logam.
Para prajurit itupun membawa tabung besi ke atas tembok pertahanan, dimana pria kekar sudah berdiri di atas tembok pertahanan.
" Master... Ini adalah Meriam Api yang merupakan senjata terkuat yang diciptakan oleh keluarga Edison." Ucap pria kekar, lalu mempraktekkan cara kerja Meriam Api.
Meriam Api langsung diarahkan ke luar tembok, dimana terdapat sebuah benang sebagai sumbu dari senjata itu.
Buussshh!
Saat api yang berada di sumbu masuk ke dalam tabung tersebut, saat itu juga bola yang diciptakan dari benda logam dan berisi belerang melesat dengan kecepatan tinggi ke arah luar pintu gerbang.
Bboooom!
Ledakan yang sangat kuat bersarang pada tanah lapang, hingga tercipta kobaran api yang menyebar ke berbagai arah dengan jarak tertentu.
" Hmmm... Tidak menyangka ada manusia yang sangat cerdas untuk menciptakan senjata seperti itu." Ketujuh penyihir Legenda mengusap jenggotnya, karena seumur hidup mereka baru pertama kali melihat kemampuan senjata yang seperti itu.
Namun kemampuan Meriam Api masih belum mampu mengalahkan pasukan Iblis Merah, karena mereka tidak mudah untuk dibunuh dengan senjata biasa.
" Jika untuk berhadapan dengan gerombolan hewan buas, senjata itu sangat efektif. Namun untuk berhadapan dengan pasukan Iblis Merah, harus memiliki kekuatan sihir." Penyihir Putih memasang wajah serius, karena Meriam Api sangat membantu pertahanan kota.
Hanya saja ketujuh Penyihir harus memberikan mantra khusus untuk menambah kekuatan serangan dari Meriam Api.
" Komandan... Berapa banyak jumlah Meriam Api itu?" Tanya Penyihir Biru.
" Sekitar 50 Meriam Api." Jawab pria kekar.
Mendengar ucapan tersebut, ketujuh Penyihir sedikit mengerutkan kening, karena jumlah Meriam Api terlalu sedikit.
Jika untuk mempertahankan benteng pertahanan di kota itu, mereka harus membutuhkan ratusan Meriam Api.
" Komandan... Katakan kepada keluarga Edison untuk menciptakan Meriam Api lebih banyak lagi! Jika mereka kekurangan biaya dan material, sampaikan saja kepada Kepala negara." Penyihir Putih memberi perintah kepada Komandan tersebut.
Tentu dalam situasi yang sangat genting, semua keluarga besar tidak lagi memikirkan masalah untung rugi, karena itu semua menyangkut kelangsungan hidup manusia.
" Baik master." Jawab komandan tersebut, lalu meminta kepada para prajurit untuk membawa semua Meriam Api ke atas tembok pertahanan.
Sedangkan komandan tersebut harus menghadap kepala negara, agar kepala negara bisa memberi perintah kepada keluarga Edison untuk menciptakan Meriam Api lebih banyak lagi.
*******
( Beberapa waktu sebelumnya )
Di sebuah jurang yang sangat besar, terlihat asap merah membumbung tinggi menyelimuti sihir pelindung transparan yang merupakan segel untuk mengurung pasukan Iblis Merah.
Buussshh!
Asap berwarna merah semakin banyak dan memadat, sehingga segel tersebut tidak mampu menahan beban dari energi kematian.
Traaang!
Segel pelindung langsung pecah, dimana aura kematian langsung menyebar ke berbagai arah.
Ggooooaaarr!
Ggooooaaarr!
Ggooooaaarr!
Suara raungan dari hewan buas yang terkena aura kematian, membuat mereka semakin liar dan ganas karena sudah dipengaruhi oleh asap berwarna merah.
Cahaya mata dari hewan buas yang terkena asap merah juga berubah menjadi merah darah, bahkan kekuatan mereka juga berlipat ganda sesuai dengan berapa banyak asap merah yang mereka hirup.
Dalam hitungan detik, tubuh para hewan buas juga semakin lama semakin membesar, hingga membentuk wujud yang baru.