
Inti elemen yang awalnya mengeluarkan cahaya yang sangat terang kini sudah redup dan memiliki satu warna saja, yaitu warna abu-abu redup.
Meskipun kemampuan Inti elemen yang Liu Ryu miliki sudah berkurang, namun berkat darah Naga Kuno dan yang lainnya, dia masih tidak mudah untuk dikalahkan.
" Meskipun aku tidak tau tentang aturan alam semesta ini, tapi tidak bisa menyurutkan semangatku untuk menjadi seorang Dewa yang terkuat." Ucap Liu Ryu, sambil mengeluarkan kekuatan spiritual miliknya.
Buussshh!
Dua belas bola yang awalnya berwarna abu-abu, kini secara perlahan terisi hingga membentuk warna hitam kemerahan..
" Aku akan tetap memberikan nama kepada kalian, yaitu elemen Kehampaan." Ucap Liu Ryu, sambil menatap ke arah 12 Inti elemen Kehampaan miliknya yang berwarna hitam kemerahan, meskipun tidak lagi mengeluarkan cahaya.
Di alam jiwanya, Liu Ryu kembali mempelajari elemen Kehampaan yang awalnya berwarna keemasan, kini sudah berubah menjadi hitam kemerahan.
Liu Ryu terpaksa harus melakukannya, karena jika tidak diperbaiki, maka semua Inti elemen yang dia miliki akan hancur.
Dengan kata lain, Liu Ryu menciptakan elemen yang baru yang bisa bermutasi dari energi yang dia dapatkan dari makhluk sebelumnya.
" Aku harus menyempurnakan Inti elemen Kehampaan ini dengan caraku sendiri." Bersamaan dengan ucapannya, Liu Ryu berubah wujud menjadi Naga Agung yang masih berwarna keemasan.
Namun sedikit ada perbedaan, yaitu elemen Kehampaan yang keluar dari tubuhnya sudah berwarna hitam kemerahan.
Duaarr! Duaarr! Duaarr!
Hujan elemen Kehampaan memporak porandakan sekeliling Liu Ryu, membuat alam jiwanya bergetar hebat.
Ccuuumbb!
Saat Liu Ryu menyatukan kedua telapak tangannya, kini terlihat elemen Kehampaan membentuk laser berwarna hitam kemerahan melepaskan tembakan lurus ke depan.
Bboooom!
Tembakan lurus berbentuk laser dari elemen Kehampaan bersarang pada gunung yang berada di tempat yang cukup jauh dari Liu Ryu, meninggalkan lobang dengan diameter sekitar 2 meter.
" Tidak buruk." Gumam Liu Ryu, karena serangan yang dia miliki sekarang justru bertumpu pada satu titik.
Liu Ryu juga menamakan teknik yang dia gunakan itu adalah Laser Kehampaan, yang memiliki kekuatan serangan tidak kalah dengan teknik Malapetaka.
Setelah itu Liu Ryu kembali berubah wujud menjadi manusia, lalu kembali ke tubuh kasarnya.
" Semoga saja di goa bawah tanah ini, masih banyak memiliki makhluk seperti sebelumnya. Dengan demikian aku bisa menambah kekuatan elemen Kehampaan yang aku miliki." Gumam Liu Ryu, sambil menatap ke arah kedua Istrinya.
Setelah menunggu waktu yang cukup lama, kini Dewi Arinia dan Elena menyelesaikan Kultivasi mereka, dimana mereka berdua berhasil menyerap aura kematian di dalam goa bawah tanah.
Meskipun tidak mengalami peningkatan, namun tidak lama lagi mereka bisa menerobos Bintang Emas, jika masih memiliki Sumberdaya yang cocok untuk mereka.
" Suamiku." Dewi Arinia dan Elena langsung berjalan mendekati Liu Ryu.
" Selamat! Sepertinya kekuatan kalian semakin meningkat." Ucap Liu Ryu, lalu membawa mereka untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah melewati lorong dalam waktu yang cukup lama, kini lorong itu semakin lama semakin luas, meskipun tidak ada sedikitpun cahaya.
Tidak lama kemudian, Liu Ryu merasakan ada beberapa sosok yang sedang berjalan mendekati mereka.
" Gunakan panah kalian agar mempercepat pertarungan kita." Liu Ryu memberi isyarat kepada kedua Istrinya.
" Baik." Jawab mereka serempak, lalu mengeluarkan busur panah yang mereka miliki.
Tidak ada yang terlihat lima sosok makhluk yang menghuni goa bawah tanah yang mirip dengan sosok yang Liu Ryu bunuh sebelumnya.
" Flains." Dewi Arinia dan Elena sontak kaget karena makhluk yang berada di hadapan mereka adalah salah satu makhluk dalam legenda.
" Apa kalian mengenal makhluk ini?" Tanya Liu Ryu.
Tidak ada yang mengetahui dari mana asal usul Flains, karena mereka hidup di tempat yang gelap seumur hidupnya.
Dewi Arinia menjelaskan bahwa Flains memiliki kelemahan di matanya yang besar. Jika terkena cahaya, maka mereka akan mati seketika.
" Sepertinya mereka sangat cocok untuk lawan kalian. Tapi sayangnya mereka sangat berharga untukku." Bersamaan dengan ucapannya, Liu Ryu mengeluarkan elemen Kehampaan di kedua telapak tangannya.
Ccuuumbb! Ccuuumbb! Ccuuumbb!
Tembakan laser Kehampaan tegak lurus ke arah mata Flains, membuat mereka satu-persatu mati dalam satu kali serangan.
Wuush!
Asap berwarna ungu dari jasad Flains melesat ke arah tubuh Liu Ryu, hingga mengisi ke 12 Inti elemen Kehampaan miliknya.
" Secepat itu?"
Sebelum Dewi Arinia dan Elena melancarkan serangan anak panahnya, kini lima Flains sudah mati di tangan Liu Ryu.
" Suamiku, kami juga membutuhkan energi dari Flains. Dengan begitu kami juga memiliki kemampuan serangan lebih kuat lagi." Dewi Arinia menggelengkan kepala, karena dia berpikir bahwa tidak ada lagi Flains di tempat itu.
Begitupun dengan Elena, yang juga sangat membutuhkan energi dari Flains, agar mempertajam serangan anak panahnya.
" Kalian tidak perlu khawatir. Sepertinya jumlah mereka sangat banyak." Ucap Liu Ryu, sambil menatap ke arah depan.
Mendengar perkataan dari suami mereka, Dewi Arinia dan Elena terlihat senang lalu mempersiapkan serangannya untuk menghadang Flains.
Seperti apa yang dikatakan Liu Ryu sebelumnya, kini satu-persatu Flains muncul di hadapan mereka.
Jleeep! Jleeep! Jleeep!
Satu-persatu serangan anak panah dari Dewi Arinia dan Elena menancap dengan sempurna pada mata besar Flains hingga mati seketika.
Wuush!
Pada saat yang bersamaan, energi dari Flains langsung masuk ke dalam tubuh Dewi Arinia dan Elena.
" Beruntung saja kelemahan mereka adalah cahaya, sehingga kami dengan mudah mengalahkan mereka."
Dewi Arinia dan Elena tidak melewatkan kesempatan tersebut untuk membunuh Flains sebanyak mungkin.
Liu Ryu juga tidak tinggal diam, langsung menembakan laser Kehampaan miliknya ke arah Flains yang berdatangan.
Ccuuumbb!
Ccuuumbb!
Ccuuumbb!
Meskipun masih berdiri di tempat semula, dengan tembakan laser Kehampaan, Liu Ryu bisa membunuh Flains dari jarak jauh.
" Cciiihhhh... Terlalu serakah." Elena mendengus dingin, karena Liu Ryu lebih banyak membunuh Flains dari pada mereka.
Karena tidak ingin kalah dari Liu Ryu, Dewi Arinia dan Elena harus mengeluarkan Qi dalam jumlah besar agar bisa menciptakan anak panah lebih banyak lagi.
Tentu semakin banyak anak panah yang mereka lepaskan, harus memiliki kontrol dan konsentrasi yang tinggi agar anak panah bisa tepat sasaran.
" Apa ada yang lebih kuat lagi?" Liu Ryu merasa pekerjaan itu terlalu mudah, karena seperti sedang bermain-main saja.
" Sekuat apapun mereka, tetap saja mati dengan mudah, jika serangan kita bersarang pada matanya." Dewi Arinia menggelengkan kepala, karena Liu Ryu hanya mengarahkan kedua telapak tangannya untuk membunuh Flains.
Namun jumlah Flains sangatlah banyak, sehingga suara derap kaki mereka membuat goa tersebut bergetar hebat hingga menimbulkan gempa.