
Ratu siluman ular laut itupun mengangguk pelan, lalu keluar dari dasar lautan, untuk menemui sosok yang memberikan tetesan darah sebelumnya.
" Tidak menyangka Dewa Agung bisa datang ke dunia ini." Ucap cahaya itu, saat ratu siluman ular laut sudah pergi.
Sesaat cahaya itupun keluar dari dasar lautan, terbang ke langit dengan kecepatan tinggi.
*******
Di sisi lain, Liu Ryu yang sudah berada di sebuah pulau kecil bersama rombongan, kini langsung masuk ke dalam sebuah goa raksasa yang berada dibawah kaki gunung.
Tidak lama kemudian, mereka telah berada di sebuah sumur raksasa yang terletak di pertengahan pulau kecil.
Buussshh!
Terlihat sebuah cahaya keluar dari dasar sumur, hingga melambung tinggi sampai ke atas awan.
Dari dalam sumur, terlihat sosok seperti kuda laut, namun tubuhnya seperti manusia, meskipun berukuran kecil.
" Ohhh... Jadi kamu yang dipanggil dengan nama Dewa Laut itu?" Tanya Liu Ryu sambil menaikkan alisnya, karena sosok yang berada di depan mereka sekarang hanyalah sebuah bayangan.
Meskipun hanya bayangan, namun bisa terhubung dengan Dewa Laut yang sesungguhnya yang tinggal di lautan lepas.
" Itu hanya sebuah julukan dari para pelaut saja tuan. Mereka sangat menghormati ku, karena aku lebih tua saja." Ucap Dewa Laut yang terlihat canggung saat melihat Liu Ryu.
Melihat Dewa Laut yang begitu sungkan terhadap Liu Ryu, Staid dan Priscilla membuka matanya lebar-lebar karena seorang Dewa Laut saja begitu takut kepada sosok yang bersama mereka.
" Meskipun dewa tua ini tidak memiliki kemampuan seperti tuan, namun semua manusia masih menganggapku sebagai dewa mereka." Dewa Laut merendah diri, karena dia dapat merasakan bahwa Liu Ryu memiliki kekuatan besar.
Tanpa membuang waktu Dewa Laut itupun mengeluarkan enam batu laut yang terukir gambar Dewa Laut.
" Sialan... Apa kamu mau menipuku?" Liu Ryu sangat geram karena anugerah dari Dewa Laut hanyalah benda biasa, meskipun terdapat sebuah ukiran.
" Mohon maaf jika tidak memuaskan tuan. Batu laut itulah yang mereka sebutkan sebagai anugerah dariku." Dewa Laut memasang wajah jelek karena Liu Ryu sama sekali tidak menghormatinya sebagai Dewa Laut yang diagungkan oleh para manusia.
" Haaah, sudahlah." Liu Ryu langsung membuang muka, karena anugerah yang disebutkan tidak seperti yang dia harapkan.
Liu Ryu langsung keluar dari dalam goa, karena sangat kesal dengan Dewa Laut yang dirumorkan oleh manusia.
Kali ini Dewi Arinia dan Elena yang mengambil alih, karena suami mereka sama sekali tidak peduli dengan nama besar Dewa Laut.
" Maafkan atas kelancangan suami kami Dewa." Ucap Dewi Arinia dan Elena, sambil menundukkan kepala.
" Itu bukan salahnya. Dewa tua ini saja yang terlalu membanggakan diri." Dewa Laut sama sekali tidak marah kepada Liu Ryu, karena bagaimanapun kemampuannya masih dibawah pemuda itu.
Dewi Arinia mengangguk pelan, lalu mengambil batu laut dan memberikan kepada yang lain satu bagian.
" Maaf Dewa Laut, sepertinya ini kelebihan satu." Ucap Dewi Arinia, karena jumlah mereka hanya ada lima.
" Di luar goa ini, masih ada satu sosok wanita yang sedang menunggu kalian. Berikan satu untuknya, karena dia juga ikut dalam rombongan kalian." Ucap Dewa Laut.
Mendengar perkataan dari Dewa Laut, mereka mengangguk pelan, lalu memohon diri untuk kembali ke kota pelabuhan.
*******
Di luar goa, Liu Ryu menyipitkan matanya karena ada sosok lain selain mereka yang berada di pulau kecil itu.
" Keluarlah! Dan apa tujuanmu kesini?" Ucap Liu Ryu sambil menatap ke arah batu besar.
" Salam tuan... Aku adalah ratu siluman ular laut sebelumnya." Ucap ratu siluman ular laut, lalu menjelaskan apa yang terjadi padanya, sehingga dia bisa mendapatkan wujud manusia normal.
Mendengar keterangan dari ratu siluman ular laut, Liu Ryu menyipitkan matanya karena wanita itu juga ingin mengikuti rombongan mereka.
" Kalau boleh tau, siapa namamu?" Tanya Liu Ryu.
" Aku tidak memiliki nama tuan. Tuan bisa memberikan nama untukku." Jawab ratu siluman ular laut, sambil menundukkan kepala.
Mendengar ucapan tersebut, Liu Ryu berpikir sejenak karena sudah lama dia tidak bertemu dengan siluman yang tidak memiliki nama.
" Bagaimana jika aku memberikan nama untukmu, Liu Yunxia? Sesuai dengan nama Klan ku." Tanya Liu Ryu.
" Dengan senang hati tuan." Liu Yunxia terlihat senang karena pemberian nama tersebut diselipkan nama keluarga Liu.
" Baiklah, kamu boleh ikut bersama kami." Ucap Liu Ryu.
Tentu Liu Yunxia sangat senang, karena tujuannya juga akan bersama dengan Liu Ryu kemanapun dia pergi.
Terlebih Liu Yunxia sangat membutuhkan bantuan dari Liu Ryu, agar dia lebih kuat lagi, sesuai arahan dari leluhurnya.
Sesaat Liu Ryu menyipitkan matanya sambil menatap ke arah kening Liu Yunxia yang memiliki tanda trisula.
Namun Liu Ryu tidak bertanya apapun, meskipun dia sudah mengetahui fungsi dari tanda trisula yang berada di kening Liu Yunxia.
Tidak lama kemudian, Dewi Arinia dan Elena bersama Staid dan Priscilla muncul di tempat itu, sambil menatap ke arah Liu Yunxia dengan tatapan menyelidik.
" Suamiku, siapa wanita ini?" Tanya Dewi Arinia, sambil menunjuk ke arah Liu Yunxia.
" Dia adalah Liu Yunxia, juga calon Istriku." Jawab Liu Ryu dengan santai, membuat Liu Yunxia membuka matanya lebar-lebar.
Namun Liu Yunxia sama sekali tidak menolaknya, karena dia juga sudah memperkirakan sebelumnya.
" Ternyata kami sekarang ada rekan tim." Ucap Dewi Arinia, sambil menggoda Liu Yunxia.
Kedua wanita itu sama sekali tidak marah sedikitpun, karena mereka juga sangat membutuhkan sosok wanita yang bisa diandalkan untuk bekerjasama.
" Baiklah, kita berangkat sekarang." Liu Ryu tidak ingin membuang waktu, langsung menciptakan awan.
Liu Ryu meminta kepada mereka untuk naik ke atas awan, untuk mempercepat perjalanan mereka kembali ke kota pelabuhan.
Meskipun demikian Liu Ryu tidak bisa menggunakan kecepatan penuh, karena dapat dipastikan tubuh Staid dan Priscilla akan menjadi bubur saat terkena terpaan angin kencang.
Setelah beberapa saat, kini mereka telah sampai di depan pintu gerbang kota pelabuhan, dimana langsung masuk, karena para penjaga gerbang sudah mengenal Liu Ryu.
" Sebaiknya kita langsung menemui tiga bersaudara itu." Ucap Liu Ryu, sambil melangkahkan kakinya menuju pelabuhan.
Saat berada di dermaga pelabuhan, terlihat tiga bersaudara sudah berada di dekat kapal mereka, sambil memberi perintah kepada bawahannya.
" Kami sudah mendapatkan anugerah dari Dewa Laut itu." Ucap Liu Ryu sambil menunjukkan batu laut di tangannya.
" Kami juga." Dewi Arinia dan yang lain juga menunjukkan batu laut di tangan mereka masing-masing.
Melihat keenam batu laut yang berada di tangan keenam sosok itu, tiga bersaudara membuka matanya lebar-lebar, karena biasanya Dewa Laut hanya memberikan satu buah batu laut saja.