
Naga Kuno yang baru saja terlepas dari Formasi Cakar Hitam, kini menatap tajam ke arah Liu Ryu dengan amarah memuncak.
Straaing!
Liu Ryu kembali berpindah tempat ke arah belakang Naga Kuno, lalu menyalurkan Qi dalam jumlah besar pada kepalan tangannya.
" Malapetaka."
Wuush!
Liu Ryu melemparkan bola Kehampaan mengarah ke Naga Kuno, yang kini langsung melakukan serangan kepada Liu Ryu.
Mendapatkan serangan dari dua arah, Naga Kuno memicingkan matanya karena, tidak mungkin baginya untuk menghindari serangan dengan wujud raksasa tersebut.
Merasakan aura dari bola Kehampaan yang mengarah kepadanya, Naga Kuno langsung menciptakan pelindung petir di kedua tangannya, atau kaki depan.
Bboooom!
Tabrakan antara bola Kehampaan dan pelindung petir, menciptakan air sungai menjadi surut di tempat itu.
Jleeep!
Ggooooaaarr!
Saat Pedang Naga Petir menancap sempurna di punggung Naga Kuno, naga itupun meraung keras merasakan seluruh tubuhnya seperti terbakar.
Meskipun tidak terjadi ledakan pada Pedang Naga Petir, namun sebenarnya gabungan Qi elemen dari Liu Ryu dan Istrinya meledak di dalam tubuh Naga Kuno.
" Kekuatan fisik yang sangat mengerikan." Gumam Liu Ryu, saat melihat serangan Pedang Naga Petir tidak menimbulkan ledakan pada tubuh Naga Kuno.
Jika itu terjadi pada Kultivator yang lain, dapat dipastikan tubuh mereka akan menjadi kabut darah.
Naga Kuno yang baru saja mendapatkan serangan tersebut, kini kekuatanya menurun secara drastis sambil menatap ke arah Liu Ryu penuh dengan kebencian.
Liu Ryu sangat mengakui kemampuan Naga Kuno, namun dia tidak berani mengambil resiko untuk melakukan kontrak jiwa, karena dia akan mendapatkan serangan balik di alam jiwanya.
Wuush!
Tap!
Pedang Naga Petir yang menancap di punggung Naga Kuno, kini berpindah tempat ke tangan Liu Ryu.
Straaing!
Liu Ryu kembali berpindah tempat ke samping kiri Naga Kuno, lalu mengayunkan pedangnya untuk melakukan serangan tebasan.
Craaash!
Ggooooaaarr!
Mendapatkan luka sayatan yang sangat dalam dari Pedang Naga Petir, Naga Kuno meraung keras, merasakan sakit yang luar biasa.
Straaing!
Saat Naga Kuno ingin menyerang balik ke arah Liu Ryu, pemuda itupun berpindah tempat ke samping kanannya.
Craaash!
Ggooooaaarr!
Liu Ryu kembali membuat luka sayatan di punggung kanan Naga Kuno, membuatnya kembali meraung keras.
Dengan seiringnya kekuatan Naga Kuno semakin melemah, sambaran petir dari awan hitam juga semakin berkurang.
Kini Liu Ryu bergerak liar ke berbagai arah sambil melakukan serangan tebasan ke seluruh tubuh Naga Kuno hingga membuatnya tidak mampu untuk melawan.
Membutuhkan waktu yang sangat lama, kini Naga Kuno berhasil dikalahkan hingga kehilangan nyawa.
" Haaah... Akhirnya selesai juga." Ucap Liu Ryu, lalu melesat ke arah kapal.
" Suamiku, kamu berhasil." Sheng Zhishu dan Istri Liu Ryu yang lain terlihat senang karena Naga Kuno berhasil dikalahkan.
Sesaat Sheng Zhishu dan yang lain terlihat serius karena mereka sudah banyak mengeluarkan Qi, meskipun hanya membantu dalam satu kali serangan.
" Sepertinya kami membutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan diri." Xie Hua merasa tidak baik jika melanjutkan perjalanan dalam kondisi tubuh tidak prima.
" Mmmm... Tapi kita bisa memulihkan diri saat berlayar." Ucap Liu Ryu, lalu masuk ke dalam kapal.
Saat berada di dalam kapal, Liu Ryu membangunkan kedua pengawal yang masih belum sadarkan diri.
" Tu... Tuan Pendekar. Apa kita sudah mati?" Tanya kedua pengawal tersebut.
" Belum. Naga itu sudah pergi dari tempat ini dan tidak akan kembali lagi." Ucap Liu Ryu, lalu meminta kepada mereka untuk mengemudi kapal menuju ke tepi sungai.
Meskipun masih terlihat kebingungan, kedua pengawal hanya menurut lalu menjalankan perintah dari Liu Ryu.
Sesampai di desa sebelumnya, kini para warga mulai berdatangan saat tidak mendengar lagi gemuruh dari langit.
Meskipun tidak mengetahui dengan jelas, mereka sudah yakin bahwa Liu Ryu dan Istrinya berhasil mengalahkan naga tersebut, meskipun sedikit ragu.
" Tuan Pendekar... Apa naga itu sudah dikalahkan?" Tanya kepala desa, untuk memastikan.
" Ya... Naga itu sudah mati." Jawab Liu Ryu dengan singkat.
" Apa boleh kami melihatnya?" Tanya saudagar sebelumnya, karena masih ragu jika naga tersebut bisa dikalahkan.
" Apa aku sedang berbohong?" Liu Ryu kembali bertanya kepada saudagar itu.
Mendengar nada penekanan dari Liu Ryu, saudagar itupun tidak berani bertanya lagi, karena dapat dipastikan dia akan kehilangan nyawa jika menyinggung rombongan bertopeng.
" Sekarang kalian bisa berlayar kembali dengan aman. Sekarang aku meminta bantuanmu untuk mengantar kami ke seberang sungai besar ini." Liu Ryu menatap ke arah mereka secara bergantian, lalu menoleh ke arah saudagar tersebut.
" Baik tuan Pendekar. Kita bisa berangkat sekarang." Saudagar itupun dengan buru-buru memperbaiki sikap, lalu meminta kepada pengawalnya untuk memasukkan kuda milik Liu Ryu dan Istrinya.
" Tuan Pendekar... Aku tidak jadi menjual kapalku." Saudagar itupun mengembalikan Batu Roh yang Liu Ryu berikan sebelumnya.
Namun Liu Ryu tidak ingin mengambil kembali Batu Roh yang dia berikan sebelumnya, sehingga dia meminta kepada penjaga gerbang untuk membagikan Batu Roh tersebut kepada para warga.
Melihat hal itu, saudagar itupun memasang wajah masam karena Batu Roh yang sangat banyak, malah dibagikan secara cuma-cuma.
Namun dia sama sekali tidak berani membantah, karena Batu Roh itu bukan miliknya.
" Tuan Pendekar... Seharusnya kami yang berterima kasih kepada kalian. Hanya saja kami tidak memiliki apapun yang bisa kami berikan untuk kalian." Kepala desa merasa tidak enak karena justru sebaliknya mereka yang mendapatkan Batu Roh.
Namun Liu Ryu tidak berpikir demikian, karena dia memahami situasi para warga yang sudah lama tidak berani berlayar untuk mencari ikan yang merupakan sumber mata pencaharian penduduk di bantaran sungai.
Setelah membagikan Batu Roh, Liu Ryu berpamitan kepada mereka untuk melanjutkan perjalanan.
Saudagar itupun meminta kepada bawahannya untuk berlayar menuju seberang sungai dimana terdapat sebuah kota kecil.
Saat kapal itu sudah berlayar, Liu Ryu dan Istrinya telah berada di kamar masing-masing yang disediakan oleh saudagar tersebut, meskipun hanya sebagai pengalihan.
Tentu Sheng Zhishu dan yang lain langsung berpindah tempat ke kamar Liu Ryu dan memulihkan diri di Dunia Quzhu.
" Suamiku... Apa yang kita rencanakan untuk Naga Kuno itu?" Sheng Zhishu bertanya kepada Liu Ryu saat mereka berada di Istana Kristal.
Tanpa menjawab apapun, Liu Ryu mencoba berkonsentrasi lalu mengambil Inti Roh Naga Kuno.
" Inti Roh Naga Kuno ini sangat kuat. Kita tidak bisa menyerapnya, namun aku memiliki rencana lain." Ucap Liu Ryu, lalu memasukkan kembali Inti Roh tersebut ke Cincin miliknya.
Mendengar ucapan tersebut, Sheng Zhishu dan yang lain hanya mengangguk, karena apa yang direncanakan suami mereka pasti sesuatu yang berharga.