SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 451. Informasi Tidak Terduga


Suku lumut memang berukuran pendek sekitar satu meter, namun yang membuat mereka terlihat mengerikan, karena sekujur tubuh mereka dipenuhi rambut kasar yang licin seperti lumut.


Meskipun demikian, suku lumut memiliki kecepatan dan ketangkasan yang tinggi, sehingga keseharian mereka adalah berburu dan menangkap ikan dengan cara menyelam.


Kehidupan suku lumut juga sering berpindah-pindah tempat, jika wilayah mereka sudah kesulitan untuk mencari makanan atau ada hewan buas yang bisa mengancam keselamatan mereka.


" Jika saudara ingin pergi ke daratan Muktho, maka saudara harus mengambil jalur pinggir pantai." Pria lusuh itu menjelaskan cara untuk pergi ke daratan Muktho, agar tidak tersesat di daratan Kwunko yang sangat luas.


Pria lusuh itu juga menjelaskan secara rinci tentang beberapa persimpangan jalan yang harus ditempuh, karena saat terjadinya kerusakan pada portal sihir, membuat para warga sangat enggan bepergian ke luar kota.


" Hanya saja di pertengahan perjalanan, saudara akan dihadang oleh suku lumut, sehingga saudara tidak memiliki jalur lain lagi." Pria lusuh menutup pembicaraannya.


Mendengar ucapan tersebut, Liu Ryu bernafas lega, karena untuk masalah suku lumut tidak menjadi halangan untuknya.


" Terimakasih saudara. Mohon terimalah ini! Informasi dari saudara sangat berharga untukku." Ucap Liu Ryu, lalu memberikan satu kantong berisi koin dalam jumlah banyak.


Melihat jumlah koin yang diberikan Liu Ryu sangat banyak, pria lusuh merasa tidak enak jika mengambil sesuatu tanpa melakukan sesuatu untuk membalas kebaikan Liu Ryu.


" Saudara... Aku tidak bisa menerima pemberian sebanyak ini. Kalau begitu, aku akan memberikan sebuah peta seluruh daratan Kwunko ini." Pria lusuh mengambil sebuah peta dari balik bajunya.


Pria lusuh itu juga menjelaskan bahwa ada beberapa tempat yang menyimpan sesuatu yang berharga di daratan Kwunko.


Dari penjelasan pria lusuh itu, Liu Ryu menaikan alisnya, karena pria yang berada di depannya memiliki pengetahuan yang sangat banyak.


" Beberapa tempat yang diberi tanda silang ini adalah tempat Inti Sel Dewa, atau makhluk yang memiliki kekuatan besar."


" Hanya saja aku tidak bisa mengambilnya, karena terlalu besar dan sangat berbahaya." Pria lusuh terlihat serius, karena peta yang dia miliki adalah harta peninggalan leluhurnya yang pernah menjadi seorang petarung dan penyihir Legenda.


Melihat pemberian dari pria lusuh begitu sangat berharga untuknya, Liu Ryu membawa pria itu menuju ke tempat yang aman.


" Saudara... Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka nilainya bisa membeli kota ini dan semua kapal yang berada di dermaga pelabuhan." Ucap Liu Ryu, saat mereka sudah berada di tempat yang aman.


" Benar saudara. Jika aku berbohong, maka leluhurku juga ikut berbohong. Meskipun benda itu sangat berharga, namun aku tidak bisa mengambilnya." Ucap pria lusuh.


Dengan sebuah anggukan kecil, Liu Ryu mengeluarkan belasan batangan emas, lalu memberikan kepada pria itu.


" Ini..." Pria lusuh seakan tidak percaya jika Liu Ryu memiliki harta sebanyak itu.


" Saudara ambil saja! Harta yang berada di dalam peta ini jauh lebih berharga dari batangan emas itu." Ucap Liu Ryu.


Pria lusuh itupun mengangguk pelan, lalu menyembunyikan batangan emas itu pada kain yang diberikan Liu Ryu.


Liu Ryu memberi isyarat kepada pria itu, agar cepat pergi dari tempat tersebut, karena dia tidak ingin pria lusuh mendapatkan masalah jika harta yang dia miliki diketahui oleh orang lain.


Pria lusuh itupun mengangguk mengerti, lalu dengan buru-buru meninggalkan tempat itu, sambil membawa buntalan kain yang diberikan oleh Liu Ryu.


Liu Ryu memasukkan peta di Cincin miliknya, lalu berjalan menuju kamar yang mereka tempati, dimana ketiga Istrinya sedang menunggu.


" Suamiku." Ketiga Istri Liu Ryu menyambut kedatangan suami mereka.


Liu Ryu mengangguk kecil, lalu membawa ketiga Istrinya ke Dunia Quzhu, tepat di kamar utama Istana Kristal.


" Aku sudah menemukan sesuatu yang kita butuhkan." Ucap Liu Ryu, sambil menunjuk-nunjuk peta yang diberikan pria lusuh sebelumnya.


Liu Ryu juga berencana menghilangkan anugerah dari penguasa elemen, agar dia tidak terkena mantra pemanggilan lagi.


Tentu Liu Ryu sudah memikirkan jauh-jauh hari sebelumnya, karena anugerah Inti elemen tidak membawa perubahan besar, justru akan merepotkan jika ada yang mengetahui tentang mantra pemanggilan.


" Suamiku, apa kamu yakin ingin menghilangkan anugerah Inti elemen itu?" Dewi Arinia memasang wajah serius, karena itu artinya Liu Ryu akan mengulang dari awal.


" Ya... Aku akan menciptakan Inti elemen milikku sendiri, jika aku berhasil menemukan Inti Sel Dewa atau makhluk yang memiliki kekuatan besar."


" Lagi pula aku tidak ingin terpisah dari Istriku lagi. Karena selama ada Inti elemen di dalam tubuhku, maka sewaktu-waktu aku terseret ke dunia lain lagi."


Liu Ryu mengutarakan keinginannya agar dia tidak tunduk dengan aturan alam semesta, sehingga dia bebas melakukan apa yang dia inginkan.


Terlebih Liu Ryu ingin menjadi yang terkuat agar bisa melindungi keluarganya dan selalu berkumpul bersama keluarganya. Bukan untuk memenuhi panggilan takdir yang kapan saja menyeretnya ke dunia yang asing.


" Apa kamu menyesal terseret ke dunia ini?" Tanya Dewi Arinia.


" Sama sekali tidak. Karena disini, aku menemukan Istri yang cantik seperti kalian. Terlebih di dunia ini aku bisa menemukan sesuatu yang baru yang bisa memperbaiki kemampuan yang aku miliki." Jawab Liu Ryu, karena dia mengetahui tujuan dari pertanyaan Istrinya.


Dengan kata lain, jika Liu Ryu tidak terseret ke dunia itu, maka dia tidak akan bertemu dengan ketiga Istrinya sekarang.


Mendengar ucapan tersebut, ketiga Istrinya tersenyum lebar, lalu mendekati diri mereka kepada suaminya.


Terlebih untuk Liu Yunxia yang sedang kasmaran, kini langsung duduk di pangkuan Liu Ryu, sambil mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


Karena tidak ingin mengganggu malam pertama antara Liu Yunxia dan suami mereka, Dewi Arinia dan Elena hanya mencium pipi Liu Ryu, lalu keluar dari kamar utama, memilih untuk mengalah tidur di kamar yang lain.


" Suamiku, aku harap kamu bisa menuntunku." Ucap Liu Yunxia, karena bagaimanapun dia tidak pernah berdekatan dengan lawan jenis, karena dari sejak kecil dia mengasingkan diri untuk latihan tertutup.


" Tapi sepertinya kamu sudah mulai belajar dari mereka." Ucap Liu Ryu, karena dia berpikir bahwa Dewi Arinia dan Elena sudah memberitahukan kepada Liu Yunxia untuk menjadi seorang Istri yang baik.


Liu Yunxia mengangguk pelan, lalu mencium bibir Liu Ryu, sesuai arahan dari Dewi Arinia dan Elena.


Saat kedua lidah mereka saling bertemu, Liu Yunxia merasakan sensasi yang berbeda pada tubuhnya, membuatnya semakin bergairah.


Satu-persatu pakaian mereka terlepas, membuat jantung Liu Yunxia semakin berdetak kencang, karena sensasi yang diberikan suaminya membuatnya seakan melayang di langit ketujuh.