
Setelah berjalan cukup lama melewati hutan, kini rombongan Liu Ryu telah sampai di pinggir gurun pasir.
Elena langsung mengeluarkan Sandflier, lalu masuk ke dalam, bersama Liu Ryu dan Jackson.
" Master... Untuk kali ini biarkan aku yang mengemudi Sandflier ini." Jackson menawarkan diri, karena merasa tidak enak karena selama dalam perjalanan hanya Liu Ryu dan Elena saja yang bertarung.
Sedangkan dirinya hanya menonton, karena jumlah hewan buas sudah diluar kemampuannya.
" Baiklah, aku percayakan padamu. Jika ada bahaya, tolong bunyikan lonceng itu." Ucap Liu Ryu, sambil menunjuk ke arah sebuah tali yang menghubungkan dengan lonceng darurat.
Meskipun Sandflier tidak terlalu besar, namun masih mampu menampung seratus orang, jika tidak memuat barang.
" Baik master." Jawab Jackson, lalu menarik sebuah tuas yang berada di bawah kemudi.
Wuush!
Seketika Sandflier mulai bergerak kedepan secara perlahan, hingga semakin lama semakin cepat.
Sandflier yang awalnya menyentuh pasir, kini mulai melayang di atas pasir, meskipun tidak terlalu tinggi.
Di sisi lain Liu Ryu dan Elena yang sudah berada di sebuah kamar yang berada di Sandflier, kini membaringkan tubuhnya agar bisa beristirahat sejenak.
Setelah selesai beristirahat, Liu Ryu dan Elena kembali terbangun lalu mengambil posisi duduk bersila.
Elena langsung mengeluarkan Inti Roh Siluman, lalu memberikan kepada Liu Ryu. Juga mengeluarkan semua tumpukan peti yang berisi batu alam.
" Terimakasih Istriku." Ucap Liu Ryu, lalu memejamkan mata untuk menyerap energi dari Inti Roh Siluman dan batu alam.
" Mmmm." Elena mengangguk kecil, lalu memejamkan mata untuk menyerap energi dari hewan buas yang berada di Cincin miliknya.
Dengan adanya Cincin pada Elena, dia tidak perlu lagi mengeluarkan mayat hewan buas jika ingin menyerapnya.
Cukup dengan berkonsentrasi pada Cincin pemulihan yang berada di jarinya, Elena bisa menyerap energi dari hewan buas dengan kemampuan sihir miliknya hingga tumpukan mayat hewan buas mengering dan menjadi debu.
Setelah semua Inti Roh Siluman dan batu alam sudah habis, Liu Ryu membuka matanya, lalu menoleh ke arah Elena yang juga sudah menyelesaikan penyerapan energi dari hewan buas.
" Suamiku." Elena langsung menarik tangan Liu Ryu, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dengan senyuman yang menggoda, Elena seakan memiliki darah panas, langsung menindih tubuh suaminya.
" Apa kamu masih belum puas?" Tanya Liu Ryu karena wanita itu seakan tidak ingin melepaskannya.
" Justru aku sangat puas. Karena itu aku menginginkannya lagi." Jawab Elena sambil melepaskan pakaiannya sendiri.
Elena juga mengatakan bahwa cairan dari Liu Ryu memiliki efek yang sangat kuat, sehingga serangan sihirnya semakin banyak.
" Benarkah? Baiklah, aku tidak sungkan lagi." Jawab Liu Ryu, lalu dengan senang hati mengikuti keinginan Elena.
Terlebih dengan energi Yin milik Elena, Liu Ryu juga bisa menggunakannya untuk mengembalikan Qi miliknya sedikit demi sedikit.
Jika dibandingkan dengan wanita penghibur yang pernah dia serap energi Yin mereka, Energi Yin milik Elena jauh lebih padat, setara dengan energi Yin belasan wanita yang tinggal di dunia itu.
" Jika aku menambah Istri di dunia ini dan memiliki kemampuan seperti Elena, mungkin Qi milikku juga semakin cepat terisi." Pikir Liu Ryu sambil menikmati apa yang dilakukan Elena yang di atasnya.
Benar saja, setelah melakukan perjalanan selama berhari-hari, sifat Elena semakin liar, dimana dia masih sanggup melakukan hubungan intim dengan Liu Ryu setiap malam.
Bahkan ketika siang hari juga Elena masih menyempatkan diri untuk menyalurkan hasratnya kepada Liu Ryu.
" Apa ada yang salah? Kenapa wanita ini justru semakin liar." Pikir Liu Ryu, karena tenaga Elena seakan tidak ada habisnya.
" Sebaiknya kamu ganti pakaian! Aku rasa tidak lama lagi, kita akan kedatangan tamu." Ucap Liu Ryu,. lalu meninggalkan ruangan tersebut menuju ke bagian depan Sandflier.
Melihat kepergian suaminya, Elena merasakan seluruh tubuhnya semakin kuat dibalik kulitnya yang putih dan lembut.
" Kenapa aku seakan tidak bisa berpisah dari suamiku?" Gumam Elena yang juga merasa heran atas sikapnya sendiri.
Dengan buru-buru Elena mengganti pakaiannya, lalu bergegas menuju ke arah Liu Ryu dan duduk di samping suaminya.
Melihat tingkah Istrinya, Liu Ryu hanya tersenyum sambil mengusap rambut Istrinya yang berwarna merah.
" Suamiku... Jika kita sudah berada di Dunia Tiantang, apakah mereka mengizinkanku untuk bersamamu?" Tanya Elena, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Liu Ryu.
" Aku rasa mereka tidak keberatan. Hanya saja dengan kemampuanku sekarang, kita tidak bisa pergi ke Dunia Tiantang dalam waktu dekat." Liu Ryu dapat memperkirakan bahwa jika belum bertemu dengan Ling Tian, maka dia belum mengetahui cara yang paling cepat untuk mengumpulkan Qi.
Begitu banyak pertanyaan di benak Liu Ryu, kenapa selama miliaran tahun Ling Tian tidak pulang ke Dunia Tiantang?
Apakah Ling Tian yang dimaksud adalah orang lain? Apa Ling Tian lebih suka tinggal di dunia yang sekarang? Atau Ling Tian juga mengalami kendala untuk kembali ke Dunia Tiantang?
Itulah pertanyaan di benak Liu Ryu, karena dia sendiri masih belum bertemu dengan sosok tersebut.
Buussshh!
Saat Liu Ryu hanyut dalam pikirannya,. kini terlihat angin tornado yang membuat sekumpulan pasir terangkat ke udara.
" Master... Sepertinya Dewa Gurun mengganggu perjalanan kita." Teriak Jackson, sambil menatap ke arah pasir yang terangkat ke udara, membentuk angin puyuh.
Tanpa berkata apapun, Liu Ryu memberi isyarat agar Jackson menghentikan laju Sandflier.
Wuush!
Saat Sandflier berhenti, Liu Ryu langsung melesat ke arah angin puyuh dimana terlihat sekumpulan pasir yang memadat membentuk sosok manusia raksasa.
" Akhirnya tumbal untukku datang juga." Sosok yang tercipta dari sekumpulan pasir yang memadat mengeluarkan suara,. sambil menatap ke arah Liu Ryu.
" Oh... Jadi kamu yang dikatakan sebagai Dewa Gurun itu?" Tanya Liu Ryu sambil mengeluarkan Pedang Naga Petir.
" Hahahaha... Seekor serangga tidak pantas bertanya kepada Dewa yang agung."
" Tapi tidak masalah, karena kalian adalah korbanku berikutnya, jadi tidak salah jika aku memperkenalkan diri."
" Ya... Akulah Dewa Gurun yang agung."
Bersamaan dengan desiran angin yang menyapu pasir, Dewa Gurun memperkenalkan diri, lalu mengarahkan angin puyuh ke tempat Liu Ryu berdiri.
" Baiklah, akan aku tunjukkan siapa Dewa yang agung sesungguhnya." Bersamaan dengan ucapannya, Liu Ryu melesat ke arah Dewa Gurun.
Wuush!
Angin puyuh berbalik arah, karena Liu Ryu bergerak dengan memutar, sehingga Dewa Gurun harus mengubah arah serangan.
Traaang! Traaang! Traaang!
Benturan keras dari pedang milik Liu Ryu dengan butiran pasir dari angin puyuh yang seakan memiliki pemikiran sendiri.
Wuush!
Dewa Gurun kembali menciptakan satu angin puyuh yang lain, lalu mengarahkan kepada Liu Ryu, hingga butiran pasir juga ikut terangkat ke udara.